Sakit Gigi dan Wipassana

 gigi

Udara dingin beberapa hari ini membuat sakit gigiku kumat. Ini mengingatkanku saat masih menjadi biku dan berdiam di Wihara Buddhasena, Bogor.

 Saat itu sakit gigiku kumat, namun sebagai penganut aliran tak minum obat kalau tak kepepetz, saya menolak minum obat.

 Umat di sana pun khawatir dan menyarankan minum obat.

 “Belum perlulah, fungsi obat sakit gigi hanya menghilangkan rasa sakit, tapi tak menyembuhkan penyakitnya,” kataku.

 Di sisi lain, sepengetahuan saya, obat penahan sakit membuat kerja ginjal lebih berat. Prinsipnya, selama bisa ditahan, saya akan menahannya. Saat kita berkunjung ke dokter yang baik juga, minum obat penahan sakit direkomendasikan bila terpaksa saja.

 Di sisi lain, aha.. ini kesempatan yang baik untuk berlatih.

 Maka saya mulai memperhatikan naik turun perut, lalu mengkonsentrasi pada titik senat-senut di gigi yang begitu dominan.

 Setelah konsentrasi terbentuk, saya bisa merasakan pusaran getaran halus pada titik konsentrasi saya. Pusaran getaran ini lalu saya arahkan menyotir titik-titik sakit di gigi. Hasilnya “Bet! Bet! Bet!” bukan sulap bukan sihir… sakit giginya lenyap sodara-sodara!

 

Lepas Jubah

Saat tidak memakai jubah, kesempatan saya berlatih turun drastis.

 Ketika memakai jubah, saya tak disibukkan kegiatan mencari uang. Makan dan tempat tinggal sudah tersedia, bahkan berlebih. Dimana-mana, kemana-mana, umat akan bersukacita menerima kehadiran Anda, mengundang makan dan selalu mendanakan makanan.

 Kini?

 Kalau tak cari makan siapa yang akan memberi saya makan? Kalau tak cari uang, siapa yang akan membayar cicilan rumah saya?

 Bahkan waktu masih kos, saya sempat tak berani pulang kos sebelum mendapat pinjaman untuk membayar kos yang jatuh tempo.

 Penjaga kos cukup ekstrim, dia tak akan sungkan ketuk kamar Anda dan berteriak kenceng hingga satu lantai mendengar anda belum bayar kos, “Pin! Bayar kos Pin! Sudah terlambat berapa hari ini!”

Pernah pas jatuh tempo dan belum punya uang, saya keluyuran mencari pinjaman dulu hingga tengah malam baru berani pulang karena sudah dapat pinjaman, hihi.

Punya Rumah

Setelah punya rumah kesibukannya tetap sama. Memang tak khawatir lagi tengah malam diketuk pintu dan diteriaki untuk bayar kos.  Tapi kewajibannya justri bertambah, saya sibuk cari uang untuk bayar service charge, bayar air, bayar listrik, bayar telepon, bayar sewa konter, bayar cicilan rumah, dan beragam keperluan sehari-hari.

Kesibukan-kesibukan ini, beban hutang yang ada, juga beban jalur Bodhisattwa yang saya pilih terkadang harus menanggung hal yang tak terucap, praktis memberi tekanan batin tersendiri.

Waktu berlatih menjadi berkurang, bahkan jadi tidak sama sekali. Ditambah kondisi yang sudah tak pegang sila biku, membuat kadang saya membiarkan luapan pikiran dan sedikit kenakalan berkeliaran sebagai human basic instinc, hehe.

Jadi, dua hari ini, ketika udara dingin dan gigi ini sakit… mengingatkan saya untuk melakukan perhatian penuh lagi. Perhatian penuh pada gigi yang sakit. Apakah masih berhasil?

Yup, pusaran itu, meski tak sekuat dulu, ternyata masih ada sodara-sodara.

It works!

“Bet! Bet!” Sakit giginya lenyap.

Kesimpulannya, saya masih belum perlu minum obat sodara-sodara, hehe.

(Bandar Kemayoran, 17 November 2013)


buddha at sky

Singapura – Ada yang aneh dalam penerbangan dari Singapura ke Kuala Lumpur tanggal 23 Juni 2013 lalu. Seorang penumpang wanita mengaku melihat patung Buddha dari jendela pesawatnya. Ia bahkan memotret patung tersebut.

Bagaimana mungkin penampakan patung bisa terlihat dari jendela pesawat yang sedang terbang tinggi. Namun, itulah penuturan seorang penumpang wanita dalam penerbangan dari Singapura ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Dari news.com.au, Jumat (28/6/2013), penampakan ini terlihat setelah 30 menit perjalanan. Normalnya, proses naiknya pesawat hingga mencapai ketinggian 36 ribu kaki menghabiskan waktu selama 20-30 menit. Dengan begitu, bisa disimpulkan wanita ini melihat patung Buddha tersebut dari ketinggian 36.000 kaki.

Momen aneh yang terjadi pada tanggal 23 Juni kemarin tidak dilewatkannya begitu saja. Wanita yang menyaksikan keanehan ini sempat memotret penampakan patung Buddha tersebut. Foto ini diuplod ke situs Stomp Singapura.

Dalam foto memang terlihat patung Buddha yang cukup jelas. Meski sebenarnya, foto tersebut cukup kabur yang menurut wanita tersebut adalah karena kabut asap.

Mungkinkah patung Buddha bisa terlihat dengan mata telanjang dari ketinggian tersebut? Jika mungkin, seberapa besar patung tersebut. Serta, di mana letak patung Buddha tersebut.

Apakah mungkin patung sebesar itu tidak menjadi objek wisata terkenal di kawasan itu. Semuanya masih misterius!

Sumber: http://travel.detik.com/read/2013/06/28/160940/2287314/1382/patung-buddha-misterius-terlihat-dari-jendela-pesawat?vt22011381


adityawarman

Arca Bhairawa adalah patung batu (rupang) setinggi 4,41 meter dan berat 4 ton, terbuat dari batu andesit yang ditemukan di Padang Roco, Sungai Lansat, Sumatra Barat, diperkirakan berasal dari abad ke 14 M.

Arca ini menggambarkan “Bhairawa“, perwujuban Siwa Buddha sebagai raksasa.  Arca ini dikaitkan sebagai perwujudan Raja Adityawarman, penganut Buddha aliran Tantrayana Kalachakra.

Bhairawa merupakan dewa Siwa dalam salah satu aspek perwujudannya. Digambarkan berwujud mengerikan, memiliki taring, dan bertubuh sangat besar seperti raksasa. Rambutnya disanggul besar ke atas menyerupai bola, tetapi ditengahnya terdapat Buddha Amitabha, atribut  ini merupakan ciri Bodhisattwa Awalokiteswara, hal ini menggambarkan aspek sinkretisme Hindu dan Buddha.

Rupang atau arca raksasa ini pada masanya terletak di bukit di tengah persawahan di kompleks percandian Padang Roco, Dharmasraya, Sumatera Barat, menghadap ke arah timur dan dibawahnya mengalir sungai Batanghari. Dulu, di tempat  itu Bhairawa berdiri gagah memandang Sungai Batanghari, sehingga siapa pun yang melewati sungai tersebut akan mudah melihatnya.  Padang Roco merupakan gerbang masuk melalui Batanghari ke pusat pemerintahan Kerajaan Malayu di Sumatera Barat.

Setelah masa keemasan Buddha Tantrayana di Sumatra berakhir, arca ini ikut rubuh dan terkubur dalam tanah, hanya sisi bawah (alas) yang menyembul ke permukaan tanah. Berabad-abad kemudian penduduk yang tak menyadari keberadaan arca itu menjadikan alasnya sebagai batu pengasah parang dan membuat lubang sebagai lesung untuk menumbuk padi. Hingga kini pun bekas lubang itu dapat ditemukan pada sisi landasan arca ini.

Pemerintah Hindia Belanda yang menemukan kembali patung itu kemudian tahun 1935 memindahkannya ke Kebun Margasatwa Bukittinggi. Tahun 1937 arca ini diboyong ke Museum Nasional di Batavia dan menghuni Museum Nasional atau Museum Gajah hingga kini.

Adityawarman

Adityawarman adalah salah satu tokoh utama sejarah Melayu. Namanya diabadikan menjadi nama Museum Adityawarman di Kota Padang, Sumatera Barat.

Dari manuskrip pengukuhannya ia menjadi penguasa di Malayapura atau Kanakamedini pada tahun 1347 dengan gelar Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa, dan di kemudian hari ibu kota dari kerajaan ini pindah ke daerah pedalaman Minangkabau.

Ada beberapa ahli yang berpendapat beliau merupakan pendiri kerajaan Pagaruyung. Salah satu prasasti menyebutkan Adityawarman adalah Suravasawan atau Tuan Surawasa. Surawasa berubah tutur menjadi Suruaso, sebuah nagari di Pagaruyung sekarang.

Prasasti Amoghapasa menyebutkan Malayupura dipimpin oleh Adityawarman, yang mengukuhkan dirinya sebagai penguasa Bhumi Malayu di Suwarnabhumi. Termasuk pula di dalam Malayapura adalah kerajaan Dharmasraya dan beberapa kerajaan atau daerah taklukan Adityawarman lainnya.

Selama masa pemerintahannya di pedalaman Minangkabau, Adityawarman banyak meninggalkan prasasti. Namun, belum semuanya dapat diterjemahkan. beberapa pengaruh Adityawarman masih bisa ditelusuri, diantaranya penamaan biaro (bahasa Minang, artinya biara atau wihara) masih menjadi nama sebuah nagari yaitu Biaro Gadang di kabupaten Agam. Selain itu, nama Parhyangan (semacam tempat pemujaan), yang kemudian berubah tutur menjadi nama nagari Pariangan di kabupaten Tanah Datar.


 

Yap Tiam Hiem, Soe Hok Gie dan Munir.

Yap Tiam Hiem, Soe Hok Gie dan Munir.

Perjuang HAM (Hak Asasi Manusia) bagi saya adalah kegiatan yang sangat mulia. Dalam pikiran saya mereka adalah orang-orang seperti Yap Thiam Hiem, Soe Hok Gie, Munir, Adnan Buyung Nasution atau Bambang Wijayanto yang saat ini menjadi Ketua KPK.

Dalam gambaran saya, mereka adalah orang yang gelisah melihat ada yang mendapat perlakuan tak adil atau dibedakan karena ras, agama, sikap atau pandangan politik mereka.

Yap Thiam Hien

Pada masanya Yap Thiam Hien, ketika Orde Baru begitu kuat dan komunis menjadi bulan-bulanan dalam arti sah untuk dibunuh, Yap Thiam Hiem yang dikenal sebagai pribadi antikomunis, tampil membela para tersangka G30S, sepertiAbdul Latief, Asep Suryawan, dan Oei Tjoe Tat. Ia juga membela Soebandrio, bekas perdana menteri, yang menjadi sasaran cacian massa pada awal Orde Baru.

Pembelaan Yap yang serius dan teliti pada Soebandrio, membuat hakim-hakim militer di Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) bingung dan kesal.

Soe Hok Gie

Soe Hok Gie sendiri adalah arsitek demo mahasiswa yang menggulingkan kekuasaan Orde Lama. Ketika rezim yang ia tantang runtuh, disusul bangunnya rezim Orde Baru yang tak lebih baik dari rezim sebelumnya, Soe Hok Gie menjadi gundah-gulana. Ia berusaha menyuarakan suara-suara mereka yang tertindas melalui pulpen wartawannya. Seperti pembantaian di Bali, pembunuhan, penjarahan terhadap mereka yang dianggap komunis.

Akan tetapi, seperti kata Arif Budiman (Kakaknya Soe Hok Gie) di Taman Ismail Marzuki tahun 1998 saat Majalah Tempo dibredel oleh pemerintahan Orba “seorang perjuang adalah orang yang berjalan sendiri di jalannya,” demikianlah yang dialami Soe Hok Gie. Sahabat-sahabat seperjuangan yang silau oleh harta dan tahta mulai menjauhinya. Banyak yang mengingatkannya untuk berhati-hati. Ia dikuntit dan juga diancam akan dibunuh.

Soe Hok Gie akhirnya menghembuskan nafas terakhir di puncak gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, konon akibat menghirup asap beracun dari gunung. Tukang peti mati yang mengirimkan mayatnya ke Jakarta, yang hanya mengenalnya dari tulisannya pun menangis, akan kepergian anak muda yang luar biasa ini.

Mengingat aktifitas dan ancaman yang pernah diterimanya, saya yang tak mengenalnya tetapi sangat mengaguminya pun sampai saat ini ragu, apa iya dia meninggal karena gas beracun di gunung?

Munir Said Thalib

Akan halnya Munir Saib Thalib, tak ada yang menyansikan kenekatannya. Ketika dominasi militer di segala sektor begitu kuat di masa Orde Baru, ia menjadi pemimpin dan harapan mereka yang tertindas oleh kekuatan ’sepatu lars’ ini, dimana yang lain hanya bisa bunkam. Saat menjabat Dewan Kontras, dia maju membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus.

Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.

Munir sendiri meninggal diracun dalam perjalanan pesawat JakartaAmsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun. Hingga kini, pengusutan akan kematiannya masih seperti menegakkan benang basah.

Hidup untuk Orang Lain

Mereka yang saya ceritakan di atas, adalah orang-orang yang tahu kemana arah hidupnya dan siap mati untuk itu. Mereka tak digerakkan oleh iming-iming tahtah ataupun materi, tapi semata-mata tidak sudi melihat adanya ketidakadilan. Tidak sudi melihat ada yang dijalimi. Tidak sudi melihat ada yang dirampas haknya.

Mereka hidup bukan untuk diri sendiri, tapi untuk kepentingan orang banyak.

Ketika mereka berpulang, banyak yang menangisi kepergian mereka, meski tak kenal sekalipun, tapi orang-orang tahu betapa mulianya mereka ini.

Penutup

Sebagai penutup, cobalah Anda perhatikan sepak terjang anggota Komnas Ham pariode 2012-2016 ini. Baru jadi Komnas HAM sudah rebutan jadi ketua dan rebutan mobil Camry. Ham apa yang akan ditegakkan oleh orang-orang dengan mental seperti ini? Hamburger? Hahaha!

Mungkin benar kata Ahok: “Musti ditinjau ulang tuh pengertiannya Komnas HAM. Perlu saya kasih kuliah umum sama mereka arti HAM itu apa.” ungkap Ahok di Balaikota Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.


YunHsu

Sumber :Mamit 11/2013. Langganan: 08989248677 Redaksi: 085213613637

Para Sesepuh

Biksu Hsu Yun

Adik-adik, Biksu Hsu Yun dilahirkan 26 Agustus 1840 di Fukien, Tiongkok, dan meninggal 13 Oktober 1959, yakni pada usia 119 tahun, wuih usia yang sangat panjang yah, Adik-adik.

Biksu Hsu Yun adalah guru Zen paling berpengaruh dari abad ke 19 dan 20. Dan bisa dibilang yang paling penting dalam sejarah Tiongkok modern.

Ketika komunis mulai berkuasa di Tiongkok, beliau dan murid-muridnya  dianiaya dan disiksa.

Pada tahun 1953, bersama dengan Dharma Guru Yuan Ying dan lain-lain, Biksu Hsu Yun membentuk Asosiasi Buddhis Tiongkok di Kuang Chi. Dia dinominasikan sebagai ketua, namun ia menolak karena usia tua dan sakit, dimana saat itu usianya telah menginjak 115 tahun .

Asosiasi inilah yang kemudian memperjuangkan tegaknya agama Buddha di Tiongkok hingga kini.

 Hal-hal yang diperjuangkan asosiasi itu kepada pemerintah:

1) Dalam semua tempat, kerusakan lebih lanjut dari wihara-wihara, penodaan gambar, dan pembakaran sutra harus segera dihentikan

 2) Intimidasi terhadap biksu dan biksuni untuk memaksa mereka lepas jubah tak akan ditoleransi.

 3) Semua aset wihara yang dijarah harus dikembalikan kepada wihara.

 Perjuangannya berhasil, petisi itu akhirnya disetujui pemerintah komunis.

Biksu Hsu Yun sendiri banyak memimpin renovasi wihara-wihara bersejarah yang tak terawat saat komunis mulai berkuasa, salah satunya wihara peninggalan Patriat ke 6 (Huineng) yang bahkan telah menjadi kandang kuda!

Ia juga menegakkan kembali winaya-winaya kebiksuan yang tidak dijalankan, yang bahkan coba dirubah beberapa biksu yang masih dikuasai pandangan salah.

Riwayat Hidup

Ibunda Biksu Hsu Yun  meninggal saat beliau lahir. Biksu Hsu Yun kecil mulai mengenal Buddhisme saat neneknya meninggal, dimana pertama kali ia mendengar pembacaan sutra.

Saat empat belas tahun, ia ingin menjadi biksu. Ayahnya tak menyetujui pandangan Buddhisme dan mengirimnya belajar Tao. Namun, Biksu Hsu Yun tak puas dengan ajaran Tao.

Suatu hari, ia kabur untuk menjadi biksu. Namun, pamannya mengirim orang mencegatnya. Tiba di rumah, keluarganya takut ia kabur lagi, sehingga dikirim mengikuti sepupu pertamanya, Fu Kuo, ke Quanzhou. Ayahnya  menikahkan beliau dengan dua wanita sekaligus untuk meneruskan marga ayah dan pamannya sesuai amanah almahumah neneknya.

Di usia kesembilan belas, disertai dengan Fu Kuo sepupunya yang juga tertarik dengan Buddhis, mereka memulai perjalanan ke Gu Shan (Drum Mountain) di Fuzhou. Di Gu  Shan, bersama-sama mereka dicukur dan menerima pentahbisan sebagai biksu.

Ketika ayahnya mengirim orang untuk menemukannya, Biksu Hsu Yun bersembunyi di sebuah gua di belakang biara, di mana ia tinggal dalam kesendirian keras selama tiga tahun. Di usia dua puluh lima, Biksu Hsu Yun mengetahui, ayahnya telah meninggal, ibu tiri dan dua istrinya mengikuti jejaknya menjadi biksuni.

Untuk membalas kebaikan budi orang tuanya, ia bersumpah untuk berziarah ke Nan Hai. Dari Fa Hua Temple menuju puncak  Gunung Wutai, dengan cara satu kali sujud penuh setiap tiga langkah.

Dia berdoa untuk kelahiran kembali orang tuanya di Tanah Suci. Ia hampir meninggal dalam menjalankan tekatnya ini. Sepanjang jalan, Biksu Hsu Yun dikatakan telah bertemu seorang pengemis bernama Wen Chi, yang dua kali menyelamatkan nyawanya. Setelah berbicara dengan para biksu di Gunung Lima-puncak, Biksu Hsu Yun percaya pengemis yang menemani dan menyelamatinya itu adalah inkarnasi Manjushri.

Biksu Hsu Yun kemudian melakukan perjalanan ke barat dan selatan dengan berjalan kaki melalui Tibet. Ia mengunjungi Potala, dan Biara Tashilhunpo, India,Srilanka, dan Burma. Selama masa mengembaraannya dengan berjalan kaki, Biksu Hsu Yun merasa pikiran dan kesehatannya semakin kuat.

Jhana

Suatu kali dalam gua pertapaannya di gunung, sambil menunggu makanan matang ia bermeditasi. Saat sedang meditasi ia dibangunkan dengan lonceng oleh beberapa biksu. Biksu itu memberitahukan, bahwa mereka khawatir karena Biksu Hsu Yun tidak kelihatan selama 2 minggu, dimana debu tebal dan jejak harimau ada di guanya.

Ternyata saat meditasi menunggu nasi masak ia memasuki jhana selama 2 minggu! Sejak itu banyak orang mengunjunginya, yang membuatnya kemudian menyingkirkan diri untuk melanjutkan meditasi.

Tak Punya Uang untuk Naik Perahu

Ketika Biksu Hsu Yun berumur lima puluh enam tahun, kepala wihara Yue Lang di Yangzhou mengadakan sesi dua belas minggu meditasi dhyana. Untuk mempersiapkan segala sesuatu Biksu Hsu Yun diminta berangkat dulu. Setelah mencapai Gang Di, ia harus menyeberang dengan perahu, karena tak punya uang dia ditolak tukang perahu. Saat menyelusuri tepian sungai, ia terjatuh ke dalam air sungai yang deras.

Sehari semalam ia dihanyutkan air dalam kondisi tak berdaya. Hingga tubuhnya tertangkap jaring nelayan dalam kondisi tak sadar dan hampir meninggal.

Nelayan itu membawanya ke sebuah kuil, di mana ia dirawat karena luka-lukanya. Setelah siuman, meskipun dalam kondisi sakit ia kembali ke Yangzhou.

Ketika diminta Biksu Gao Ming memimpin meditasi minggu mendatang, ia menolak dengan sopan, tanpa mengungkapkan peristiwa yang ia alami dan kondisinya yang belum pulih.

Namun, biara memiliki aturan menolak tugas dari kepala wihara merupakan penghinaan kepada seluruh komunitas wihara. Akhirnya, Biksu Hsu Yun dihukum dengan pukulan tongkat kayu. Dia menerima hukuman ini, tanpa menceritakan kondisinya yang sakit. Akibat hukuman itu penyakitnya kian parah.

Selama beberapa hari berikutnya, Biksu Hsu Yun duduk dalam meditasi terus menerus.

Dalam otobiografinya, ia menulis:

“Kemurnian kesucian pikiran saya, saya lupa semua tentang tubuh saya Dua puluh hari kemudian penyakit saya lenyap sepenuhnya.”

Hari Tua

Biksu Hsu Yun menghabiskan usia tua dengan bekerja sebagai bodhisatwa, mengajar sila, menjelaskan sutra, dan merenovasi wihara-wihara tua bersejarah. Dia bekerja di seluruh Asia. Pengikut-Nya tersebar di seluruh Burma, Thailand, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Tibet dan Tiongkok.

Pada hari kedua belas bulan lunar kesembilan, ia tahu bahwa waktunya telah tiba. Biksu Hsu Yun memerintahkan para penerusnya untuk sungguh-sungguh dan penuh semangat menerapkan diri untuk budidaya sila, samadhi, dan kebijaksanaan, dalam rangka untuk melawan keserakahan, kemarahan, dan kebodohan. Meminta mereka melupakan diri sendiri demi Dharma dan untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain. 13 Oktober 1959 beliau menghembuskan nafas terakhir dalam usia 119 tahun.

Dari kremasi beliau terdapat lebih dari seratus sarira/relik besar panca warna dan tak terhitung yang berukuran kecil.


Biksuni Jinakumari (biksuni Indonesia yang Pertama) berdiri di sebelah kiri gurunya Bhante Jinarakkhita pada acara Purnapugar Wihara Dharmakirti Palembang 1973

Biksuni Jinakumari (biksuni Indonesia yang Pertama) berdiri di sebelah kiri gurunya Bhante Jinarakkhita pada acara Purnapugar Wihara Dharmakirti Palembang 1973

Sumber: Mamit 11/2013

Biksuni Jinakumari

Biksuni Indonesia Pertama

 

Adik-adik, setelah kembali ke Indonesia Sesepuh Ashin Jinarakkhita giat melakukan penyebaran Dharma keliling Indonesia. Saat berkeliling inilah, beliau bertemu orang-orang yang kemudian menjadi cikal-bakal murid-muridnya dalam membangkitkan kembali agama Buddha di Indonesia.

Salah satunya seorang ahli kecantikan atau pemilik salon kecantikan di Medan yang mulai menyadari ketidakkekalan, yang kemudian hari dikenal sebagai Biksuni Jinakumari.

Ahli kencantikan ini ditabhiskan Bhante Ashin Jinarakkhita menjadi Sramerika Jinakumari di wihara Vimaladharma Bandung pada tahun 1963. Sebagai sramanerika, sama seperti murid-murid Bhante Jinarakkhita lainnya, Sramerika Jinakumari mewarisi dua sisilah dari beliau, yakni sisilah Therawada dari Mahasi Sayadaw (Myanmar) dan sisilah Mahayana dari Kong Hoa Sie (Tiongkok).

Semakin yakin dengan pilihan hidupnya, dua tahun kemudian, yakni pada tahun 1965, Sramerika Jinakumari menerima penabisan penuh sebagai biksuni di Kek Lok Sie Temple, Penang, Malaysia.

Kalau gurunya, Ashin Jinarakkhita dikenal sebagai putra Indonesia pertama yang menjadi biksu/bhante pasca runtuhnya kerajaan Buddhis di Indonesia, maka  biksuni Jinakumari menjadi putri Indonesia pertama yang menerima penabhisan penuh sebagai biksuni.

Setelah itu beliau aktif membina umat Buddha di Indonesia, dan menjadi salah satu pembantu utama sesepuh Ashin Jinarakkhita. Sesuai dengan keahlian beliau dalam administrasi, beliau dipercaya sesepuh untuk membenahi administrsi wihara. Beliau juga menjadi Nayika Sangha Wanita, pendiri Wihara Avalokitesvara Pondok Cabe (1985)

Beberapa murid beliau di Indonesia adalah Biksuni Dharmakumari, Biksuni Dharmagantha, Biksuni Dharmagiri, dan Biksuni Dharmarukkha.

Menurut Bhante Dharmavimala, saat ini semua murid-muridnya di Indonesia telah meninggal. Namun, beliau masih memiliki beberapa murid di Tiongkok, yang hingga kini telah bercucu-murid.


Sumber: Mamit 10/2012

Pelayan Dharma

 

Biksuni Jinaloka

Bhiksuni Jinaloka, Reliknya Sepasang Kuping

Adik-adik, Biksuni Jinaloka dilahirkan di Palembang 21 Mei 1921. Sejak kecil beliau memiliki banyak teman, vokal dan peduli dengan orang lain.

Menurut keponakannya (Safiit Hendrawan), sejak Pak Safiit masih anak-anak dan tinggal bersama kakeknya sebagai keluarga besar, rumah mereka selalu ramai dari pagi sampai malam, karena kedatangan teman-teman bibinya itu.

“Temannya sangat banyak, datang dari pagi sampai malam. Saat itu, tanda-tangannya bisa dijadikan uang untuk mereka yang membutuhkan. Ia bisa membuat memo untuk mereka yang dalam kesulitan untuk mengambil uang di toko-toko yang dituju. Selain sebagai ketua perkumpulan wanita Tionghoa, ia juga menjabat kepala sekolah di taman kanak-kanak sekolah Tionghoa”

Demikianlah masa muda Biksuni Jinaloka, sampai akhirnya beliau menikah dengan seorang pengusaha dan memiliki 3 orang putri, sikap pedulinya terhadap orang lain tak berubah.

Saat terjadi kerusuhan tahun 1966, beliau sempat mengungsi ke Bogor. Konon, di sinilah ia semakin mengenal Ashin Jinarakkhita yang juga dilahirkan di kota Bogor, dimana saat itu Ashin Jinarakkhita telah berdiam di Lembah Cipendawa, Pacet.

Seiring waktu, ketertarikan beliau terhadap kehidupan spritual semakin mendalam, sampai kemudian, setelah menikahkan putri terakhirnya tahun 1970 , beliau memutuskan menjadi biksuni.

Ketika menjadi biksuni, daerah binaan beliau meliputi Medan, Palembang, Jambi dan sekitarnya. Karena fasih mandarin, banyak pengikutnya adalah mereka yang menekuni Liam Keng, alias pembacaan sutra Buddha dalam bahasa Mandarin.

Salah satu murid beliau adalah Romo Darwis, ketua Yayasan Buddha Kirti di Palembang saat ini.

 “Pertama saya ke wihara waktu kuliah,  sanggha yang saya kenal adalah beliau. Beliaulah guru spritual saya yang pertama. Biksuni Jinalokalah yang memotivasi saya pada 2 Februari 1977 membentuk PPBD (Persaudaaan Pemuda Buddhis Dharmakirti,” kata Romo Darwis, murid kesayangan beliau.

 “Begitu sayangnya beliau dengan Romo Darwis, membuat saat itu kami yang ponakannya cemburu, hehe,” kata Bastian Hendrawan (keponakan Biksuni Jinaloka).

Beliau juga memiliki seorang dayaka yang sangat setia pada beliau sampai hari ini, adalah Ibu Eng Sui yang sampai hari ini mengajar di sekolah Padmajaya, Seberang Ulu, Palembang.

Meski, selalu memimpin liam keng, untuk praktek pribadinya, beliau adalah meditator ulung.

Menjelang akhir hayatnya, beliau sempat menolak dibawakan kembang oleh pembantu-pembantunya, “tak usah, di sini sudah banyak orang dan banyak kembang,” kata beliau.

“Mana? Di sini tak ada orang dan tidak ada kembang, Bhante,” kata pembantunya heran.

Beliau sempat minta keponakannya (Bastian) telepon ke Pacet, untuk ‘pamit’ dengan guru beliau Ashin Jinarakkhita.

Keesokan hari 18 Desember 1999, beliau diketemukan sudah meninggal dalam posisi duduk meditasi. Dokter keluarga beragama Katolik yang dipanggil Pak Safiit, meski terheran-heran, setelah memeriksa urat nadinya memastikan beliau sudah meninggal.

Dari sisa perabuan beliau ditemukan relik sepasang kuping besar, seperti kuping Buddha berbentuk batu giok hijau. Sayangnya, keberadaan relik sepasang kuping itu kini tak diketahui.

Safiit Hendrawan, keponakan beliau yang ikut saat pengambilan abu di tempat kremasi mengatakan, ia melihat Biksuni Pundarika dan Bhante Kumuda (sudah lepas jubah) hati-hati mengambil sepasang relik kuping hijau seperti batu giok itu, lalu membungkusnya dengan kain.

“Habis itu, tak tahulah aku ceritanya.”

Ada yang bisa membantu melacak keberadaan relik itu sekarang?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.674 pengikut lainnya.