KREMASI

Nenek saya punya adik meninggal. Selama masa duka jenazahnya
disemayangkan di rumah duka Atmajaya. Putranya 3 orang, putri 2
orang. Putra ke-2 termasuk orang hebat, punya pabrik baja yang
jumlah karyawannya tak terhitung (oleh saya) saking banyaknya. Maka
selama masa duka, karangan bunga untuk nenek saya punya adik (cimpo)
berjilbun memenuhi dan memonopoli perkarangan rumah duka Atmajaya,
tentu atas nama putra nomor 2nya itu.
Demikian juga saat dibawa ke tempat kremasi di Cilincing, dari kaca
bus yang mengangkut keluarganya di urutan paling depan, saya melihat
iringan mobil para pelayat yang nyaris tak terhitung. Saya berusaha
menghitung jumlah mobil pelayat, tapi selalu sebelum ketemu mobil
terakhir jalan sudah berkelok, sehingga usaha saya menghitung gagal.
Tiba di tempat kremasi jenazah, Cimpo saya diletakkan di atas
tumpukan kayu bakar, diselimuti baju-bajunya, memakai sepatu, tak
lupa rumah kertas (lengkap setifikat) berserta perlengkapannya :
parabola, tivi, etc(tidak tahu apakah juga disertakan kartu kredit
kertas atau handphone merek terbaru dari kertas) dan berkoper-koper
uang-uangan. Saya masih sempat melihat tangan dan kakiknya mengintip
keluar, di sela-sela bunga yang kami taburkan, saat membaca parita
sambil mengelilingi jenazahnya.
Setelah itu kami diminta keluar dari ruangan pembakaran. Pembacaan
doa dilakukan lagi di luar dipimpin 2 orang samaneri. Kemudian
dilanjutkkan lagi oleh orang-orang maitrea yang menyanyikan lagu
bahasa mandarin + musik (diiringi angin sepoi-sepoi
kami ‘berkaraoke’, tapi itu menyejukkan, meski saya tak mengerti
artinya). Gerombolan besar anak-anak dan cucu-cucunya tetap diminta
berlutut. Setelah itu terasa ada yang menerjang kulit, udara terasa
panas, secara reflek kami mundur beberapa langkah. karena melalui
celah pintu kami melihat jilatan api kekuning-kuningan, ternyata
tungku sudah dinyalakan! Anak-anaknya serentak
berteriak: “Maaaaaaaaaa!!!!!!!!!!” Dan
cucunya : “Amaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!” Muka-mukanya berubah merah, syok,
entah karena panas oleh api, atau panas karena emosi tak terbendung.
Suasana begitu haru-biru. “Maaaaaaaaa.!!!” “Amaaaaaaaaa..!
huhuhuuuuuuuu…!!!”
Saya terbengong-bengong mencari tempat duduk melihat peristiwa itu.
Kami serombongan orang ke sini mengantar sesosok tubuh Cimpo saya.
Yang saya masih ingat persis wajah dan cara berjalannya. Juga
kebaikan hatinya yang kalau bertemu selalu was-was bertanya saya
sudah makan belum? Lalu dengan tubuh tuanya yang tetap gesit ia
menyiapkan makan untuk saya—–ia tak pernah mengijinkan saya
menyiapkan sendiri. Ia juga selalu hati-hati menanyakan keadaan mama
saya—yang sudah ia anggap anaknya sendiri.
Lalu suatu hari terdengar kabar ia terjatuh di kamar mandi. Kami
ikut menjenguknya di rumah sakit. Ia sadar, matanya masih bisa
terbuka. Tapi itu tak lama. Lusa kemudian saat di kantor HP
saya ‘berkicau’, beritanya ‘Cimpo sudah meninggal’. Saya diminta
membawa mama ke sana. Mata saya hangat menatap jauh melalui jendela,
melihat awan gemawan di langit yang menghitam. Udara terasa membeku.
Semua begitu cepat, Live so fast….
Dan kini sosok Cimpo saya terbentang di sebuah kamar berukuran + 4×4
m. Sendirian di atas perapian merah kekuning-kuningan yang dengan
ganasnya menjilati sekujur tubuhnya. Sementara di luar ruangan itu,
dibatasi selembar tembok dan sebuah daun pintu yang terbuka sedikit,
dalam jarak begitu dekat anak-anak yang telah lahir dari rahimnya,
beserta menantu dan cucu-cucunya yang begitu ramai, hanya bisa
menangis. Yah, hanya bisa menangis tak berdaya.. Mungkin sampai
tahap ini, manusia baru bisa merasakan mereka hanyalah mahkluk
biasa. Uang tak banyak berarti, selain bisa memberikan sebuah
pemakaman yang lebih mewah, ia tak bisa menghidupkan yang mati. Yang
bersisa kemudian hanyalah kesedihan, atau bahkan terkadang
mendatangkan kegembiraan, bagi yang mendapat warisan, atau yang
sudah merasa kesulitan mengurus orang tuanya yang jompo. Sudah
bebas! Katanya.
Duduk di kursi saya melihat asap hitam keluar dari bagian atas
ruangan itu. Cimpo saya di dalam ruangan itu. Sendiri….
Betermankan asap dan api, kemudian ia akan menguap entah kemana….
Kemanakah gerangan ia pergi? Saya masih bertanya-tanya. Saya melihat
banyak orang di sana. Terhadap pertanyaan ini, seperti juga
kebanyakan agama, kebanyakan orang hanyalah bisa berteori-teori.
Saya mengamati orang-orang di sana lagi dengan beragam karakter.
Lalu saya mengamati sekeliling. Mengamati asap yang hilang di langit-
langit biru tak berbatas. Tiba-tiba saya merasa sangat kecil.., di
tengah dunia yang maha luas. Ada ngilu terasa di sekujur tubuh saya.
Tiba-tiba saya merasa sangat lelah. lelah… lelah… dan lelah….
Besok atau lusa beberapa anaknya akan ke sini lagi. Untuk membuka
ruangan itu. Tentu saja mereka tak akan bertemu sosok Cimpo
sebagaimana yang biasa kami kenal. Atau seutuhnya seperti waktu
dimasukkan ke dalam. Melainkan hanya akan mendapatkan seonggok abu.
Yah, seongok abu tubuh Cimpo, karena itu yang dicari dan ambil serta
harapkan. Sudah pasti mereka tak berharap menemukan sosok Cimpo yang
duduk dengan manisnya menunggu mereka lalu menyapa: “Hai…”, karena
bila itu ternyadi, pasti banyak yang kencing di celana. Kemudian abu
itu dimasukkan ke dalam guci, untuk disemayangkan di rumah abu di
Ekayana, bertetangga dengan guci-guci lain.
Cimpo saya, yang saya kenal sudah tak ada lagi. Tak ada lagi sosok
tua gesit, yang kalau bertemu pasti bertanya : “Li ciak ho boi” Kamu
sudah makan? Atau ” Li-e mak le?” Mama kamu di mana?
Yah, ia sudah tak ada lagi. Yang ada kini hanya seonggok abu dalam
guci yang tak bisa berbicara. Atau kalau ia bisa berbicara, pasti
membuat orang yang mendengarnya terbirit-birit. Apalagi Awi yang
mejanya bersebelahan dengan rumah abu, mungkin ia sudah memanggil
lontong-lontong. eh Tolong-tolonggggg.. Yang mana sampai hari ini,
itu belum terjadi.
Trawas (Jawa Timur), 24 September 2001
Chando