Purworejo(Bagelen) Pusat Tantra di Jawa Tengah Dahulu Kala
Dear all,
Ini adalah sedikit oleh-oleh kunjungan saya seminggu di Purworejo. Pada masa keemasan Syiwa Buddha, Purworejo dikenal sebagai Bagelen.
Menurut sejarah, Kadipaten Bagelen diserahkan kepada Hindia-Belanda oleh pihak Kesultanan Yogyakarta setelah Perang Diponegoro berakhir. Untuk memutus jati diri Bagelen sebagai daerah yang kuat, wilayah ini dalam kekuasaan Belanda diciutkan menjadi hanya kabupaten dalam Karesidenan Kedu.
Belanda membangun pemukiman baru di daerah ini dan menamainya Purworejo. Saking waspada akan perlawanan di tempat ini, Belanda menempatkan barak-barak tentara di sini, sekaligus membangun jalan raya membelah daerah ini agar lebih mudah diawasi. Begitulah asal mula Purworejo.
Nah, sejak tiba di kabupaten Purworejo, saya diliputi perasaan damai dan tenang. Semula saya heran, di tempat yang sangat cocok untuk peristirahatan ini, kok tak ada pusat meditasi, bahkan katanya tak ada wihara, padahal saya rasa vibrasi tempat latihan yang tenang sangat mendukung di sini.
Setelah saya browsing tentang Purworejo di internet, fill damai ini tak salah. Dari hasil browsing saya tahu, Purworejo atau Bagelen merupakan pusat pengembangan agama Syiwa Buddha (Tantra) di Jawa Tengah sejak kerajaan Galuh-Tarumanegara.
Pada jaman itu, Bagelen atau Purworejo adalah tempat biksu tinggal dan bertapa. Jadi tak heran, vibrasi damai ini masih terasa hingga kini. Bahkan urat nadi kabupaten ini adalah sungai yang bernama Bagawanta, yang berasal dari kata Begawan, karena konon di sepanjang tepi sungai inilah para biksu bermukim!
Malangnya, keluarga teman dekat saya yang non Buddhis yang terpesona indahnya Dharma Guru Buddha yang saya sampaikan, hanya bisa berkata, sayang di sini tak ada wihara. Padahal gereja dan pastoran bertebaran.
Ada yang mau merintis?
Dalam pemikiran, saya mungkin punya ikatan karma dengan tempat ini pada kelahiran yang lalu.
Tercatat sejak SMU, 3 kali saya kelayapan tak jelas sampai di daerah ini. Satu kali bermalam di rumah penduduk dan mandi di permandian air panas alam beramai-ramai dengan penduduk, yang kini tak bisa kulacak keberadaannya.
Kedua, masih di bangku SMU, saya pernah masuk sampai ke tempat paling sakral Petilasan Nyai Bagelen, leluhur orang Purworejo yang dikramatkan penduduk di sini, yang mayoritas muslim kejawen. Berada di dalam petilasan yang dikramatkan itu, yang dikelilingi kuburan muslim, saya agak kaget karena isi dari ruang spesial itu, pusat dari petilasan tersebut yang dijaga juru kunci ternyata sebuah Stupa! Mungkin itu stupa perabuan Nyai Bagelen? Yang ternyata Buddhis!
Faktor kedua adanya pemikiran ikatan karma aku dengan tempat ini, tanpa rencana seminggu ini saya ‘dipaksa’ ada di Purworejo. Kalau bukan oleh karma yang harus diselesaikan, bagaimana mungkin saya ada di sini?
Uniknya, konon di sini masih hidup tradisi, setelah sunatan anak yang disunat diarak keliling dengan kuda. Jadi ingat tradisi di Negara Buddhis yang juga mengarak anaknya keliling setelah menjadi samanera kecil, terinspirasi kisah Pangeran Siddharta yang meninggalkan istana? Mungkin ini alkuturasi agama pendatang dengan kebudayaan Buddhis setempat yang kuat pada era lalu.
Mau ke sana? Kalau naik bis ac Sinar Jaya dari Pulo Gadung Rp.65.000,- Jakarta – Purworejo. 10 Jam perjalanan. Bisnya sehari 2 kali jalan. Pagi jam 6, kalau sore jam 4. Letak Purworejo sekitar 2 jam dari Yogyakarta, 15 menit dari Candi Borobudur.
Berikut kutipan dari sebuah blog tentang sejarah Purworejo/Bagelen:
Syiwa-Buddha
Menurut Oteng, dakwah Sunan Geseng di Bagelen dengan mengakomodasi kepercayaan Syiwa-Buddha bukan tanpa alasan. Sejak zaman kerajaan Galuh-Tarumanegara, Bagelen dikenal sebagai pusat perkembangan agama Syiwa-Buddha di Jawa Tengah.
Bahkan, pendiri Bagelen adalah putri Raja Syailendra atau yang disebut warga setempat sebagai Raja Suwela Cala. Di Bagelen juga banyak ditemukan yoni dan lingga peninggalan Wangsa Sanjaya dan Rakai Panangkaran yang beragama Hindu-Syiwa.
Bagelen yang dulu juga meliputi sebagian Wonosobo dikenal sebagai tempat pelarian pangeran dan kesatria Majapahit. Salah satunya adalah Pangeran Jayakusuma. Demikian pula dengan Raden Caranggasing dari Jenggala.
Di Bagelen bagian selatan banyak pendeta Bhairawa Tantra, yang sakti. Maka, banyak prajurit tangguh dari wilayah ini.
Urat nadi wilayah Bagelen, yaitu Sungai Bagawanta, konon merupakan tempat begawan dan biksu tinggal dan bertapa. Karena itu, sungai itu dinamakan Bagawanta (dari kata begawan). Sebelumnya, berdasarkan prasasti peninggalan Wangsa Sanjaya, sungai ini bernama Ciwatukora.
Dengan latar belakang semacam itu, tak ada pilihan lain bagi Sunan Kalijaga maupun Sunan Geseng untuk tidak mengakomodasi nilai Syiwa-Buddha. Apalagi dalam beberapa hal ajaran Islam dan Syiwa- Buddha juga memiliki kesamaan.
Memang, karakter khas warga Bagelen kini tak sekental dimasa lalu. Bahkan, secara geografis pun wilayah Bagelen mengerdil. Bila dulu pada masa sebelum tahun 1830 wilayahnya meliputi Berangkal (kini Purworejo), Semawung (Kutoarjo), Ngaran (Kebumen), dan Karangduwur (Wonosobo bagian selatan), tetapi setelah tahun 1830 Bagelen tinggal wilayah seluas empat kecamatan disebelah timur Purworejo.
Pengerdilan wilayah Bagelen ini tak terlepas dari upaya Belanda menghentikan perlawanan sisa pengikut Pangeran Diponegoro di wilayah ini.
Masih tampak
Namun demikian, tradisi Islam-Jawa dalam banyak hal masih tampak. Legimin (66), sesepuh Desa Bagelen, Sabtu (28/1), mengatakan, setiap Jumat Kliwon, Selasa Kliwon, dan Kamis Wage, warga Bagelen mengadakan ritual sesaji kepada leluhur. Biasanya mereka mengunjungi petilasan Nyai Ageng Bagelen di Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo.
“Mereka yang ke petilasan itu tidak hanya yang Kejawen, tetapi juga yang beragama Islam, bahkan Nasrani. Mereka menghormati Nyai Ageng Bagelen sebagai leluhur. Dan, meminta kepada Allah supaya Bagelen selamat dan sejahtera,” tuturnya.
Pada bulan Sura ini, warga Bagelen, baik yang beragama Islam atau penganut Kejawen, melakukan jamasan pusaka. Mereka juga mengunjungi petilasan pepunden, seperti petilasan Nyai Ageng Bagelen, Banyu Urip, petilasan Sunan Geseng dan pepunden yang lain.
Memang, tradisi Islam-Kejawen di Bagelen kini kian tergerus modernitas yang memasuki relung kehidupan di wilayah ini.
http://waridjan.multiply.com/journal/item/71/BAGELEN_POTRET_SEBUAH_AKULTURASI_ISLAM-JAWA_
Purworejo, 14 Februari 2010
Harpin R
Sumber: http: //harpin.wordpress.com

Februari 23, 2010 at 1:41 pm
Informasi yang menarik. Soal stupa Nyai Bagelen itu stupa dari batu (peninggalan kuno) atau stupa kristal yang produksi baru? Soalnya di Gunung Kawi di makam utama juga ada yang menaruh stupa. Entah isinya apa. Yang pasti stupanya masih baru. Soalnya dari kristal yang biasa ada di vihara2 yang diisi relik.
Februari 24, 2010 at 12:40 am
Hehe, itu tempat orang islam bro. Petilasan begitu siapa yang berani iseng naro stupa di tempat yang paling dikramatkan. Ruangannya tetutup dan tidak semua orang bisa masuk. Seingat saya stupanya batu item, kira2 segede yang di candi borobudur, mungkin dililit kain kuning gue lupa, juru kuncinya pakai baju hitam2 bakar menyan dan baca mantra di depan stupa itu. Waktu saya smu sekitar tahun 93an deh.
Maret 29, 2010 at 7:11 pm
Assalamu’alaikum…..
Halo Warga Desa Bagelen(Purworejo)
aku dari Kabupaten Indramayu-jawa barat, tahukah kalian bahwa pendiri Kota kami Raden Arya Wiralodra itu berasal dari Bagelen loh, jadi penduduk Bagelen adalah asal muasal nenek moyang kami, untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi situs dibawah ini (sejarah berdirinya Kabupaten Indramayu)
http://arpusindramayu.com/berita-123-sejarah-berdirinya-kabupaten-indramayu.html
April 18, 2010 at 11:02 am
alhamdulillah akhirnya saya dpt informasi ttg tempat kelahiranku , aku adalah salah satu dr 9 bersaudara yg lahir di bagelen tp besar di jkt , dan skg ini makam bapak & ibu dan klg ku tepat dibawah genuk nyi bagelen .
September 15, 2010 at 5:51 am
assalamu’alaikum!!!.. nuwunsewu, punten2, permisi!!!!
perkenalkan saya Bahruroji dari Indramayu, Jawa barat…
kepada pengunjung blog ini ada yang pernah denger atau tahu soal WIRALODRA gak???. tokoh ini sejaman dengan kerajaan jipang-demak gitu..
di daerah kami (indramayu), tokoh ini menjadi tokoh sentral dalam babad dermayu. yg konon katanya berasal dari bagelen.
kalau ada yg tahu atau punya literatur tentang beliau, saya berterima kasih sekali kalau saya diberi informasinya.
terima ksih pada mas/bpk harpin
September 16, 2010 at 9:03 am
thanks infonya gan,…
ijin share
saya orang purworejo ^_^
Desember 19, 2010 at 3:32 pm
Ketika zaman Hindu Klasik, kawasan Tanah Bagelen berperan besar dalam perjalanan sejarah Kerajaan Mataram Kuno (Hindu).
Tokoh Sri Maharaja Balitung Watukoro dikenal sebagai Maharaja Mataram Kuno terbesar, dengan wilayah kekuasaan meliputi : Jawa Tengah, Jawa Timur dan beberapa Wilayah Luar Jawa.
Prof. Purbacaraka menyatakan bahwa Sri Maharaja Balitung Watukoro berasal dari daerah Bagelen.
Indikasi ini tercermin pada nama “Watukoro” yang menjadi nama sebuah Sungai Besar, Sungai ini disebut juga dengan nama Sungai Bogowonto. Disebut demikian, mengingat pada masa itu di tepian sungai sering terlihat pendeta (Begawan).
Petilasan suci berupa Lingga, Yoni dan Stupa tempat para begawan melakukan upacara dapat dilihat di wilayah Kelurahan Baledono, Kecamatan Loano dan Bagelen. Desa Watukoro sendiri terdapat di muara sungai Bogowonto dan masuk dalam wilayah Kecamatan
Purwodadi.
Desember 23, 2010 at 1:49 pm
Ya, kejawen islm banyak menyerap tradisi asli babad Jawi, Hindu dan Buddha hingga sekarang, suatu tatanan menjaga harmonisasi alam semesta ini.
Februari 19, 2011 at 5:22 pm
asyik jg bs tau sejarah tentang purworejo,dahulu kala purworejo tempat penyebaran agama hindu terbesar di jawa tengah tp sekarang mayoritas banyak penganut ajaran islam.nyi bagelen itu penganut ajaran hindu atau islam ya?
Februari 21, 2011 at 1:03 am
Petilasan Nyai Bagelen berbentuk Stupa seperti di Candi Borobudur Gan, artinya beliau penganut Buddhism.
Mei 24, 2011 at 4:48 am
Saya dukung semua pencari sejarah yang benar untuk dapat membangun bangsa dan negara dengan baik dan benar, yang merupakan peninggalan nenek moyang kita yang harus kita hargai, karena tanpa orangtua dan leluhur kita, kita tidak ada pada saat ini.
Stupa di Pesarean Eyang Bagelen adalah peninggalan dari Kerajaan Mataram Purba yang merupakan Kerajaan Hindu di zaman itu.
Mei 26, 2011 at 11:07 am
Ada baiknya istilah “Kerajaan Mataram Purba” selanjutnya kita tulis menjadi “Kerajaan Mataram Hindu” atau “Kerajaan Mataram Klasik”, terima kasih.
Agustus 22, 2011 at 7:31 pm
Apakah ada informasi mengenai Bagelen sebelum dan sewaktu pergolakan perang Diponegoro, apakah berbentuk kabupaten atau sebuah kerajaan kecil? Kalau kabupaten apa ada informasi mengenai nama bupati terakhir Bagelen waktu itu dan kemana setelah di bumi hanguskan oleh Belanda? Apa benar untuk menghindari bumi hangus bupati tersebut melarikan diri dengan membawa ke empat anaknya?
Agustus 31, 2011 at 4:30 pm
Radityo Djadjoeri : “Petilasan suci berupa Lingga, Yoni dan Stupa tempat para begawan melakukan upacara dapat dilihat di wilayah Kelurahan Baledono, Kecamatan Loano dan Bagelen”. Saya ingin mengunjungi/melihat, tepatnya ada di mana?
November 7, 2011 at 4:52 am
Saya orang Poerworejo, saya minta tolong informasinya, tentang
“Kyai Udan Santenan”…terima kasih atas infonya.
November 19, 2011 at 9:21 am
kami warga purworejo BAGELEN memegang teguh tanah leluhur kami jangan ada yang berani Rusak.lestarikan lah Budaya dan kelestarian alam kami.thanks
Desember 6, 2011 at 2:20 pm
di desa hargorojo masih ada penganut hindu budha
Januari 5, 2012 at 9:28 am
Masalah istilah silahkan saja, karena semua merupakan selera tanpa dasar yang dapat dipertanggung jawabkan oleh orang yang mempermasalahkan, masalah ada kalau ada yang mempermasalahkan, masalah ada karena adanya kepentingan yang terganggu dan dipermasalahkan, kata purba berasal dari kata purwa yang berarti sangat tua atau sangat dituakan, istilah Mataram Purba sudah digunakan sejak zaman Amangkurat I, yang merupakan salah satu Raja dari Kerajaan Mataram Baru pada saat Itu,
Kita ingin mengeritik orang karena kita merasa diri kita paling tahu dan paling benar, kebetulan kami dari keluarga besar Bagelen, persisinya dari Desa Krendetan, Bagelen, Purworejo, mau lebih jelas lagi ada dalam silsilah keluarga besar Bagelen mulai dari Sultan Agung.
Istilah Hindu, Islam, justru itu merupakan proses sejarah perjalanan bangsa yang harus dilihat kedepan agar Bangsa Indonesia bisa bersatu untuk maju, jadi seperti acara asal usul, kalau kita usul jangan asal, kalau kita asal jangan usul.
Januari 5, 2012 at 5:07 pm
A. Arti kata ‘purba’ menurut Kamus Bahasa Indonesia dan contoh permakaiannya dalam kata:
1.purba
pur.ba ; [a] dahulu (tt zaman yg ribuan atau jutaan tahun yg lalu): masa (zaman) –
2.purbakala ; pur.ba.ka.la
[n] zaman dahulu sekali; zaman kuno; dahulu kala: sejak — manusia telah menciptakan sesuatu untuk menutup tubuhnya
3. bahasa purba; [Ling] bahasa hipotetis yg dianggap menurunkan beberapa bahasa yg nyata-nyata ada, msl bahasa proto-Austronesia adalah bahasa purba dr bahasa-bahasa Filipina, bahasa-bahasa Indonesia, bahasa-bahasa Polinesia
4.sisa purba;sisa-sisa manusia purba, binatang purba dan tanaman purba yg membatu; (2) peninggalan organisme yg terpendam di bumi atau di batu-batuan; fosil
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/purba/mirip#ixzz1ibIDs5lA
B. Arti kata ‘klasik’ menurut Kamus Bahasa Indonesia dan contoh permakaiannya dalam kata:
1.klasik;kla.sik
[a] mempunyai nilai atau mutu yg diakui dan menjadi tolok ukur kesempurnaan yg abadi; tertinggi; (2) n karya sastra yg bernilai tinggi serta langgeng dan sering dijadikan tolok ukur atau karya susastra zaman kuno yg bernilai kekal; (3) a bersifat spt seni klasik, yaitu sederhana, serasi, dan tidak berlebihan; (4) a termasyhur krn bersejarah: bangunan — peninggalan zaman Sriwijaya itu akan dipugar; (5) a tradisional dan indah (tt potongan pakaian, kesenian, dsb): pertunjukan tari-tarian Jawa –
2.bahasa klasik; [Ling] (1) dialek temporal bahasa yg dianggap mewakili puncak perkembangan kebudayaan pemakaiannya; (2) bahasa kuno yg mempunyai kesusastraan tinggi
3.sastra Indonesia klasik; sastra klasik yg ditulis dl semua bahasa daerah yg terdapat di seluruh wilayah Indonesia, termasuk bahasa Melayu
4.sastra klasik; sastra yg berkembang sebelum pertemuan adanya pertemuan dan pengaruh kebudayaan Barat
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/klasik/mirip#ixzz1ibIpVXIF
Berdasarkan contoh pemakaian kata dalam Kamus Bahasa Indonesia di atas, pemakaian ‘mataram klasik’ akan menunjukkan sikap menghormati pencapaian kebudayaan yang tinggi oleh nenek moyang kita.
(1.klasik; kla.sik
[a] mempunyai nilai atau mutu yg diakui dan menjadi tolok ukur kesempurnaan yg abadi; tertinggi; (2) n karya sastra yg bernilai tinggi serta langgeng dan sering dijadikan tolok ukur atau karya susastra zaman kuno yg bernilai kekal; (3) a bersifat spt seni klasik, yaitu sederhana, serasi, dan tidak berlebihan; (4) a termasyhur krn bersejarah: bangunan — peninggalan zaman Sriwijaya itu akan dipugar; (5) a tradisional dan indah (tt potongan pakaian, kesenian, dsb): pertunjukan tari-tarian Jawa –)
Bandingkan dengan pemakaian kata ‘mataram purba’, seperti contoh pemakaian dalam kamus Bahasa Indonesia dibawah ini:
(bahasa purba; [Ling] bahasa hipotetis yg dianggap menurunkan beberapa bahasa yg nyata-nyata ada, msl bahasa proto-Austronesia adalah bahasa purba dr bahasa-bahasa Filipina, bahasa-bahasa Indonesia, bahasa-bahasa Polinesia
4.sisa purba;sisa-sisa manusia purba, binatang purba dan tanaman purba yg membatu; (2) peninggalan organisme yg terpendam di bumi atau di batu-batuan; fosil)
Ini hanyalah refrensi, silahkan memakai kata yang pas untuk mengekspresikan rasa hormat dan bangga atas pencapaian kebudayaan nenek moyang kita.
Januari 23, 2012 at 3:20 pm
Sebagai anak yg sukanya ngelayap kelain kota, lain pulau, lain negara,..disaat tertentu ada ke rinduan alami dg Koplak, Sibak & Bogowonto,..dimana disitulah masa kecilku bermain2,…Setelah membaca2 latar belakang kesejarahan tanah leluhur ini,..maka,..Sudah saatnya KABUPATEN BAGELEN dimainkan,…ini nama, Powernya terasa Keren !!,…dan utk bisa masuk Ngrangsek ikut bermain di Perempatan Zaman Gombalisasi ini,… maka Power Bagelen cukup bisa diandalkan dlm sgala bidang,…” Selamat utk Ultah KABUPATEN BAGELEN yg Pertama “,….YEAAHHH !!!,……..Nuwun,…(mikomalioboro- 2012)
Februari 11, 2012 at 2:48 pm
Saya tambahkan sdikit mudah2an menambah wawasan ada juga petilasan dewi rengganis&rojopandito klo didaerah skitar situ masih banyak penganut agama budha trdapat jga vihara tpatnya di dusun ngargo kelurahan hargorojo,.