adityawarman

Arca Bhairawa adalah patung batu (rupang) setinggi 4,41 meter dan berat 4 ton, terbuat dari batu andesit yang ditemukan di Padang Roco, Sungai Lansat, Sumatra Barat, diperkirakan berasal dari abad ke 14 M.

Arca ini menggambarkan “Bhairawa“, perwujuban Siwa Buddha sebagai raksasa.  Arca ini dikaitkan sebagai perwujudan Raja Adityawarman, penganut Buddha aliran Tantrayana Kalachakra.

Bhairawa merupakan dewa Siwa dalam salah satu aspek perwujudannya. Digambarkan berwujud mengerikan, memiliki taring, dan bertubuh sangat besar seperti raksasa. Rambutnya disanggul besar ke atas menyerupai bola, tetapi ditengahnya terdapat Buddha Amitabha, atribut  ini merupakan ciri Bodhisattwa Awalokiteswara, hal ini menggambarkan aspek sinkretisme Hindu dan Buddha.

Rupang atau arca raksasa ini pada masanya terletak di bukit di tengah persawahan di kompleks percandian Padang Roco, Dharmasraya, Sumatera Barat, menghadap ke arah timur dan dibawahnya mengalir sungai Batanghari. Dulu, di tempat  itu Bhairawa berdiri gagah memandang Sungai Batanghari, sehingga siapa pun yang melewati sungai tersebut akan mudah melihatnya.  Padang Roco merupakan gerbang masuk melalui Batanghari ke pusat pemerintahan Kerajaan Malayu di Sumatera Barat.

Setelah masa keemasan Buddha Tantrayana di Sumatra berakhir, arca ini ikut rubuh dan terkubur dalam tanah, hanya sisi bawah (alas) yang menyembul ke permukaan tanah. Berabad-abad kemudian penduduk yang tak menyadari keberadaan arca itu menjadikan alasnya sebagai batu pengasah parang dan membuat lubang sebagai lesung untuk menumbuk padi. Hingga kini pun bekas lubang itu dapat ditemukan pada sisi landasan arca ini.

Pemerintah Hindia Belanda yang menemukan kembali patung itu kemudian tahun 1935 memindahkannya ke Kebun Margasatwa Bukittinggi. Tahun 1937 arca ini diboyong ke Museum Nasional di Batavia dan menghuni Museum Nasional atau Museum Gajah hingga kini.

Adityawarman

Adityawarman adalah salah satu tokoh utama sejarah Melayu. Namanya diabadikan menjadi nama Museum Adityawarman di Kota Padang, Sumatera Barat.

Dari manuskrip pengukuhannya ia menjadi penguasa di Malayapura atau Kanakamedini pada tahun 1347 dengan gelar Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa, dan di kemudian hari ibu kota dari kerajaan ini pindah ke daerah pedalaman Minangkabau.

Ada beberapa ahli yang berpendapat beliau merupakan pendiri kerajaan Pagaruyung. Salah satu prasasti menyebutkan Adityawarman adalah Suravasawan atau Tuan Surawasa. Surawasa berubah tutur menjadi Suruaso, sebuah nagari di Pagaruyung sekarang.

Prasasti Amoghapasa menyebutkan Malayupura dipimpin oleh Adityawarman, yang mengukuhkan dirinya sebagai penguasa Bhumi Malayu di Suwarnabhumi. Termasuk pula di dalam Malayapura adalah kerajaan Dharmasraya dan beberapa kerajaan atau daerah taklukan Adityawarman lainnya.

Selama masa pemerintahannya di pedalaman Minangkabau, Adityawarman banyak meninggalkan prasasti. Namun, belum semuanya dapat diterjemahkan. beberapa pengaruh Adityawarman masih bisa ditelusuri, diantaranya penamaan biaro (bahasa Minang, artinya biara atau wihara) masih menjadi nama sebuah nagari yaitu Biaro Gadang di kabupaten Agam. Selain itu, nama Parhyangan (semacam tempat pemujaan), yang kemudian berubah tutur menjadi nama nagari Pariangan di kabupaten Tanah Datar.