<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Harpin's Blog</title>
	<atom:link href="http://harpin.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://harpin.wordpress.com</link>
	<description>teratai-teratai kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 12:22:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='harpin.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/17716ddb9f30ce203011b1bf7e5e9717?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Harpin's Blog</title>
		<link>http://harpin.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://harpin.wordpress.com/osd.xml" title="Harpin&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://harpin.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Steve Jobs, from Zero to Hero</title>
		<link>http://harpin.wordpress.com/2012/01/24/525/</link>
		<comments>http://harpin.wordpress.com/2012/01/24/525/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 20:05:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harpin</dc:creator>
				<category><![CDATA[dari majalah]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Mamit]]></category>
		<category><![CDATA[Steve Jobs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harpin.wordpress.com/?p=525</guid>
		<description><![CDATA[Artikel berikut diambil dari Majalah Mamit 8 yang akan terbit Februari 2012, segera dapatkan Majalah Mamit dengan menghubungi:08989248677 Tokoh Dunia Beragama Buddha Steve Jobs, From Zero to Hero Adik-adik penggemar film animasi tiga dimensi seperti Toy Story, Kung Fu Panda dan sebagainya  dari Pixar Animation Studio dan Walt Disney Company? Atau adik-adik pernah mendengar atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=525&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Artikel berikut diambil dari Majalah Mamit 8 yang akan terbit Februari 2012,</em><br />
<em> segera dapatkan Majalah Mamit dengan menghubungi:08989248677</em></p>
<p><strong>Tokoh Dunia Beragama Buddha</strong></p>
<h1>Steve Jobs, From Zero to Hero</h1>
<p><a href="http://harpin.files.wordpress.com/2012/01/steve-jobs-buddhist.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-526" title="steve-jobs-buddhist" src="http://harpin.files.wordpress.com/2012/01/steve-jobs-buddhist.jpg?w=510" alt=""   /></a></p>
<p>Adik-adik penggemar film animasi tiga dimensi seperti Toy Story, Kung Fu Panda dan sebagainya  dari Pixar Animation Studio dan Walt Disney Company?</p>
<p>Atau adik-adik pernah mendengar atau memiliki gadget canggih iPad, iPhone,iPod, komputer Macintosh dan produk lain yang berlogo buah apel digigit sedikit?</p>
<p>Jika begitu, sepantasnyalah adik-adik tahu sosok dibalik kemudahan dan keindahan teknologi ini, tak lain adalah Steve Jobs.</p>
<p>Steve Jobs dikenal sebagai visioner dunia, perintis dan jenius dalam bidang bisnis, inovasi, dan desain produk, dan orang yang berhasil mengubah wajah dunia modern. Lebih dari semua itu adik-adik, beliau adalah penggikut Buddha aliran Zen yang taat.</p>
<p>Steve Jobs dilahirkan di San Francisco, Amerika Serikat pada 24 Februari 1955. Sejak kecil ia diasuh orang tua angkatnya yang sederhana Paul dan Clara Jobs yang hanya tamatan SMU . Meskipun belakangan diketahui orang tua sebenarnya adalah Abdulfattah Jandali, seorang sarjana berkebangsaan <a title="Suriah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suriah">Suriah</a><sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Steve_Jobs#cite_note-bombsite.com-26">[27]</a></sup> yang kemudian menjadi profesor ilmu politik,<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Steve_Jobs#cite_note-27">[28]</a></sup> dan Joanne Simpson (née Schieble), seorang sarjana berkebangsaan Amerika Serikat.</p>
<p>Karena diasuh keluarga yang sederhana, saat kuliah ia harus numpang tidur di lantai kamar temannya. Terkadang, ia harus berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan makanan gratis di kuil Hindu. Bahkan, meski kemudian tak tercatat lagi sebagai mahasiswa di tempat kuliahnya, ia tetap menghadiri mata kuliah kaligrafi yang ia butuhkan ilmunya.</p>
<p>&#8220;Jika aku tak menghadiri kuliah tunggal di perguruan tinggi itu, maka komputerMac tak akan memiliki beragam <a title="Huruf cetak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Huruf_cetak">huruf cetak</a> ataupun huruf dengan spasi sejajar.&#8221;Katanya kelak kemudian hari.</p>
<p>Jobs muda kemudian melakukan perjalanan ke India dengan bekal seadanya. Saat pulang dari India, kepalanya sudah plontos dan ia sudah menjadi pengikut Buddha. Ada juga yang mengatakan ia bekeinginan menjadi biksu.</p>
<p>Demikianlah adik-adik, kesulitan dalam hidup tak menutup asa Steve Jobs bercita-cita menjadi orang sukses. Ia kemudian bekerja di perusaan game Atari. Bersama temannya Wozniak, ia lalu mendirikan perusahaan komputer Apple di sebuah garasi mobil.</p>
<p>Jatuh bangun membesarkan bahkan pernah dipecat dari Apple perusahaan yang ia dirikan, tak membuatnya patah arang.</p>
<p>Hingga akhir hayatnya, pada 5 Oktober 2011, Job yang dulunya harus tidur di lantai kamar temannya tercatat sebagai pemegang saham perorangan terbesar di Walt Disney Company. Ia tercatat juga sebagai anggota Dewan Direktur di Disney Company dan ketua Dewan Direktur di Apple.</p>
<p>Kematiannya dianggap kehilangan besar bagi dunia, beduyung-duyung orang mengucapkan belasungkawa di Apple Store seluruh dunia. Semua orang berduka karena dunia telah kehilangan seorang visioner besarnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/harpin.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/harpin.wordpress.com/525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/harpin.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/harpin.wordpress.com/525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/harpin.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/harpin.wordpress.com/525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/harpin.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/harpin.wordpress.com/525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/harpin.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/harpin.wordpress.com/525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/harpin.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/harpin.wordpress.com/525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/harpin.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/harpin.wordpress.com/525/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=525&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harpin.wordpress.com/2012/01/24/525/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac9caaf73477463624197c93e41a2d3f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harpin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://harpin.files.wordpress.com/2012/01/steve-jobs-buddhist.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">steve-jobs-buddhist</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Universitas Buddhis Internasional di Muaro Jambi</title>
		<link>http://harpin.wordpress.com/2012/01/18/universitas-buddhis-internasional-di-muaro-jambi/</link>
		<comments>http://harpin.wordpress.com/2012/01/18/universitas-buddhis-internasional-di-muaro-jambi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 21:02:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harpin</dc:creator>
				<category><![CDATA[dari majalah]]></category>
		<category><![CDATA[Candi Muaro Jambi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harpin.wordpress.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Artikel berikut diambil dari Majalah Mamit 8 yang akan terbit  Februari 2012 Universitas Buddhis Internasional di Muaro Jambi Adik-adik, di Propinsi Jambi, terdapat candi Muara Jambi seluas 2.612 hektar yang merupakan situs peninggalan agama Buddha terbesar di Indonesia. Menurut ahli arkeologi, situs Muaro Jambi dulunya sebuah universitas Buddhis internasional. Dari catatan Biksu I-Tsing yang singgah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=519&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<address>Artikel berikut diambil dari Majalah Mamit 8 yang akan terbit  Februari 2012</address>
<h2>Universitas Buddhis Internasional</h2>
<h2>di Muaro Jambi</h2>
<p><a href="http://harpin.files.wordpress.com/2012/01/candi-muaro-jambi.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-520" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://harpin.files.wordpress.com/2012/01/candi-muaro-jambi.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<h2></h2>
<p>Adik-adik, di Propinsi Jambi, terdapat candi Muara Jambi seluas 2.612 hektar yang merupakan situs peninggalan agama Buddha terbesar di Indonesia.</p>
<p>Menurut ahli arkeologi, situs Muaro Jambi dulunya sebuah universitas Buddhis internasional.</p>
<p>Dari catatan Biksu I-Tsing yang singgah pada abad VII, terdapat ratusan biksu belajar di universitas Muaro Jambi ini. Kalau mau berimajinasi, mungkin adik-adik bisa membayangkan ramainya biksu Tantra di jalan-jalan Dharamsala, India.</p>
<p>Salah-satu diantara keramaian biksu itu adalah Atisha Dhipangkara Shrijnana (982-1054), biksu yang dulunya seorang pangeran di India. Beliau menghabiskan 12 tahun, menimba ilmu Agama Buddha Wajrayana di sini.</p>
<p>Biksu Atisha Dhipangkara kemudian menjadi alumnus universitas Buddhis asal Muaro Jambi yang sangat terkenal seantero jagat hingga kini.</p>
<p>Segala kebajikan yang dipelajari di Bumi Pertiwi ini, telah beliau wariskan pada Bangsa Tibet. Di abad ke-11, dengan ilmu kebajikannya, Biksu Atisha menyelamatkan Tibet dari kehancuran. Biksu Atisha berhasil mengubah sistem keagamaan di Tibet. Beliau menulis buku Bodhipatwapradipa, yang kini menjadi kurikulum belajar Bangsa Tibet.</p>
<p>Jadi, ajaran Wajrayana yang kini dibanggakan Bangsa Tibet, sebenarnya merupakan ajaran yang dikembangkan nenek-moyang Bangsa Indonesia yang berhasil dilestarikan di Tibet, tapi sempat hilang dari Indonesia. Beberapa ahli Tibet, termasuk Geshe Sopa dan Manansala menemukan bukti Suvarnadwipa dan Shambala adalah Sumatra, tempat asal munculnya Tantra Kala Chakra.</p>
<p>Kini semuanya terbalik adik-adik. Kalau mau mendalami Wajrayana, kita harus ke Dharamsala dan belajar Bahasa Tibet. Padahal, dulu Biksu Atisha dan biksu mancanegara lainnya harus mengarungi lautan untuk belajar Bahasa Melayu dan mendalami Tantra Kala Cakra, di universitas Muaro Jambi ini.</p>
<p>Ternyata luar biasa yah sejarahnya. Informasi lagi nih, kalau Universitas Nalanda di India dikenal sebagai universitas tertua di dunia, maka situs Muaro Jambi seperti kembarannya saja,. menjadi universitas tertua di Indonesia.</p>
<p>Semoga kita memiliki karma baik mengunjungi dan menyelamatkan tempat ini yah adik-adik, karena saat ini kelestariannya terancam penambangan batu-bara di sekitarnya&#8230; Sadhu!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/harpin.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/harpin.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/harpin.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/harpin.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/harpin.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/harpin.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/harpin.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/harpin.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/harpin.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/harpin.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/harpin.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/harpin.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/harpin.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/harpin.wordpress.com/519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=519&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harpin.wordpress.com/2012/01/18/universitas-buddhis-internasional-di-muaro-jambi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac9caaf73477463624197c93e41a2d3f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harpin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://harpin.files.wordpress.com/2012/01/candi-muaro-jambi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Purworejo(Bagelen) Pusat Tantra di Jawa Tengah Dahulu Kala</title>
		<link>http://harpin.wordpress.com/2010/02/22/purworejobagelen-pusat-tantra-di-jawa-tengah-dahulu-kala/</link>
		<comments>http://harpin.wordpress.com/2010/02/22/purworejobagelen-pusat-tantra-di-jawa-tengah-dahulu-kala/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 08:54:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harpin</dc:creator>
				<category><![CDATA[perjalanan dan refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Purworejo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harpin.wordpress.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Purworejo(Bagelen) Pusat Tantra di Jawa Tengah Dahulu Kala Dear all, Ini adalah sedikit oleh-oleh kunjungan saya seminggu di Purworejo. Pada masa keemasan Syiwa Buddha, Purworejo  dikenal sebagai Bagelen. Menurut sejarah, Kadipaten Bagelen diserahkan kepada Hindia-Belanda oleh pihak Kesultanan Yogyakarta setelah Perang Diponegoro berakhir. Untuk memutus jati diri  Bagelen sebagai daerah yang kuat, wilayah ini dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=451&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Purworejo(Bagelen) Pusat Tantra di Jawa Tengah Dahulu Kala</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://harpin.files.wordpress.com/2010/02/purworejo1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-452" title="purworejo" src="http://harpin.files.wordpress.com/2010/02/purworejo1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Kedamaian alam Purworejo" width="300" height="225" /></a><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dear all,</p>
<p style="text-align:justify;">Ini adalah sedikit oleh-oleh kunjungan saya seminggu di Purworejo. Pada masa keemasan Syiwa Buddha, Purworejo  dikenal sebagai Bagelen.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut sejarah, Kadipaten Bagelen diserahkan kepada Hindia-Belanda oleh pihak <a title="Kesultanan Yogyakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Yogyakarta">Kesultanan Yogyakarta</a> setelah <a title="Perang Diponegoro" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Diponegoro">Perang Diponegoro</a> berakhir. Untuk memutus jati diri  Bagelen sebagai daerah yang kuat, wilayah ini dalam kekuasaan Belanda diciutkan menjadi hanya kabupaten  dalam <a title="Karesidenan Kedu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karesidenan_Kedu">Karesidenan Kedu</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Belanda membangun pemukiman baru di daerah ini dan menamainya Purworejo. Saking waspada akan  perlawanan di tempat ini, Belanda menempatkan barak-barak tentara di sini, sekaligus membangun jalan raya membelah daerah ini agar lebih mudah diawasi.  Begitulah asal mula Purworejo.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, sejak tiba di kabupaten Purworejo, saya diliputi perasaan damai dan tenang. Semula saya heran, di tempat yang sangat cocok untuk peristirahatan ini, kok tak ada pusat meditasi, bahkan katanya tak ada wihara, padahal saya rasa vibrasi tempat latihan yang tenang sangat mendukung di sini.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah saya browsing tentang Purworejo di internet, fill damai ini tak salah. Dari hasil browsing saya tahu, Purworejo atau Bagelen merupakan pusat pengembangan agama Syiwa Buddha (Tantra) di Jawa Tengah sejak kerajaan Galuh-Tarumanegara.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada jaman itu, Bagelen atau Purworejo adalah tempat biksu tinggal dan bertapa. Jadi tak heran, vibrasi damai ini masih terasa hingga kini. Bahkan urat nadi kabupaten ini adalah sungai yang bernama Bagawanta, yang berasal dari kata Begawan, karena konon di sepanjang tepi sungai inilah para biksu bermukim!</p>
<p style="text-align:justify;">Malangnya, keluarga teman dekat saya yang non Buddhis yang terpesona indahnya Dharma Guru Buddha yang saya sampaikan, hanya bisa berkata, sayang di sini tak ada wihara<strong>. </strong>Padahal gereja dan pastoran bertebaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada yang mau merintis?</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pemikiran, saya mungkin punya ikatan karma dengan tempat ini pada kelahiran yang lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tercatat sejak SMU, 3 kali saya kelayapan tak jelas sampai di daerah ini. Satu kali bermalam di rumah penduduk dan mandi di permandian air panas alam beramai-ramai dengan penduduk, yang kini tak bisa kulacak keberadaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, masih di bangku SMU, saya pernah masuk sampai ke tempat paling sakral Petilasan Nyai Bagelen, leluhur orang Purworejo yang dikramatkan penduduk di sini, yang mayoritas muslim kejawen. Berada di dalam petilasan yang dikramatkan itu, yang dikelilingi kuburan muslim, saya agak kaget karena isi dari ruang spesial itu, pusat dari petilasan tersebut yang dijaga juru kunci ternyata sebuah Stupa! Mungkin itu stupa perabuan Nyai Bagelen? Yang ternyata Buddhis!</p>
<p style="text-align:justify;">Faktor kedua adanya pemikiran ikatan karma aku dengan tempat ini, tanpa rencana seminggu ini saya ‘dipaksa’ ada di Purworejo. Kalau bukan oleh karma yang harus diselesaikan, bagaimana mungkin saya ada di sini?</p>
<p style="text-align:justify;">Uniknya, konon di sini masih hidup tradisi, setelah sunatan anak yang disunat diarak keliling dengan kuda. Jadi ingat tradisi di Negara Buddhis yang juga mengarak anaknya keliling setelah menjadi samanera kecil, terinspirasi kisah Pangeran Siddharta yang meninggalkan istana? Mungkin ini alkuturasi agama pendatang dengan kebudayaan Buddhis setempat yang kuat pada era lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Mau ke sana? Kalau naik bis ac Sinar Jaya dari Pulo Gadung Rp.65.000,- Jakarta – Purworejo. 10 Jam perjalanan. Bisnya sehari 2 kali jalan. Pagi jam 6, kalau sore jam 4. Letak Purworejo sekitar 2 jam dari Yogyakarta, 15 menit dari Candi Borobudur.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut  kutipan dari sebuah blog tentang sejarah Purworejo/Bagelen:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syiwa-Buddha</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Oteng, dakwah Sunan Geseng di Bagelen dengan mengakomodasi kepercayaan Syiwa-Buddha bukan tanpa alasan. Sejak zaman kerajaan Galuh-Tarumanegara, Bagelen dikenal sebagai pusat perkembangan agama Syiwa-Buddha di Jawa Tengah.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan, pendiri Bagelen adalah putri Raja Syailendra atau yang disebut warga setempat sebagai Raja Suwela Cala. Di Bagelen juga banyak ditemukan yoni dan lingga peninggalan Wangsa Sanjaya dan Rakai Panangkaran yang beragama Hindu-Syiwa.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagelen yang dulu juga meliputi sebagian Wonosobo dikenal sebagai tempat pelarian pangeran dan kesatria Majapahit. Salah satunya adalah Pangeran Jayakusuma. Demikian pula dengan Raden Caranggasing dari Jenggala.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Bagelen bagian selatan banyak pendeta Bhairawa Tantra, yang sakti. Maka, banyak prajurit tangguh dari wilayah ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Urat nadi wilayah Bagelen, yaitu Sungai Bagawanta, konon merupakan tempat begawan dan biksu tinggal dan bertapa. Karena itu, sungai itu dinamakan Bagawanta (dari kata begawan). Sebelumnya, berdasarkan prasasti peninggalan Wangsa Sanjaya, sungai ini bernama Ciwatukora.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan latar belakang semacam itu, tak ada pilihan lain bagi Sunan Kalijaga maupun Sunan Geseng untuk tidak mengakomodasi nilai Syiwa-Buddha. Apalagi dalam beberapa hal ajaran Islam dan Syiwa- Buddha juga memiliki kesamaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang, karakter khas warga Bagelen kini tak sekental dimasa lalu. Bahkan, secara geografis pun wilayah Bagelen mengerdil. Bila dulu pada masa sebelum tahun 1830 wilayahnya meliputi Berangkal (kini Purworejo), Semawung (Kutoarjo), Ngaran (Kebumen), dan Karangduwur (Wonosobo bagian selatan), tetapi setelah tahun 1830 Bagelen tinggal wilayah seluas empat kecamatan disebelah timur Purworejo.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengerdilan wilayah Bagelen ini tak terlepas dari upaya Belanda menghentikan perlawanan sisa pengikut Pangeran Diponegoro di wilayah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Masih tampak</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Namun demikian, tradisi Islam-Jawa dalam banyak hal masih tampak. Legimin (66), sesepuh Desa Bagelen, Sabtu (28/1), mengatakan, setiap Jumat Kliwon, Selasa Kliwon, dan Kamis Wage, warga Bagelen mengadakan ritual sesaji kepada leluhur. Biasanya mereka mengunjungi petilasan Nyai Ageng Bagelen di Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mereka yang ke petilasan itu tidak hanya yang Kejawen, tetapi juga yang beragama Islam, bahkan Nasrani. Mereka menghormati Nyai Ageng Bagelen sebagai leluhur. Dan, meminta kepada Allah supaya Bagelen selamat dan sejahtera,&#8221; tuturnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada bulan Sura ini, warga Bagelen, baik yang beragama Islam atau penganut Kejawen, melakukan jamasan pusaka. Mereka juga mengunjungi petilasan pepunden, seperti petilasan Nyai Ageng Bagelen, Banyu Urip, petilasan Sunan Geseng dan pepunden yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang, tradisi Islam-Kejawen di Bagelen kini kian tergerus modernitas yang memasuki relung kehidupan di wilayah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://waridjan.multiply.com/journal/item/71/BAGELEN_POTRET_SEBUAH_AKULTURASI_ISLAM-JAWA_">http://waridjan.multiply.com/journal/item/71/BAGELEN_POTRET_SEBUAH_AKULTURASI_ISLAM-JAWA_</a></p>
<p style="text-align:justify;">Purworejo, 14 Februari 2010</p>
<p style="text-align:justify;">Harpin R</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: http: //harpin.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/harpin.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/harpin.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/harpin.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/harpin.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/harpin.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/harpin.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/harpin.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/harpin.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/harpin.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/harpin.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/harpin.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/harpin.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/harpin.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/harpin.wordpress.com/451/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=451&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harpin.wordpress.com/2010/02/22/purworejobagelen-pusat-tantra-di-jawa-tengah-dahulu-kala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac9caaf73477463624197c93e41a2d3f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harpin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://harpin.files.wordpress.com/2010/02/purworejo1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">purworejo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Metta it Work&#8217;s</title>
		<link>http://harpin.wordpress.com/2010/01/28/metta-its-work/</link>
		<comments>http://harpin.wordpress.com/2010/01/28/metta-its-work/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 21:09:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harpin</dc:creator>
				<category><![CDATA[perjalanan dan refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta kasih]]></category>
		<category><![CDATA[metta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harpin.wordpress.com/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Metta, it  Work&#8217;s Mohon maaf untuk para sahabat yang mengirim email bertanya kelanjutan tulisan perjalanan spiritual di blog aku, yang tak ada kelanjutannya. Ini semata kesibukan mengurus penerbitan Majalah Mamit.  Terimakasih atas dukungan dan sapaannya, mengingatkan aku meneruskan tulisanku di blog. Ada beberapa hal yang akan aku ceritakan dalam perjalanan ke Sumatra, sebelum akhirnya kembali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=444&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Metta, it  Work&#8217;s</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://harpin.files.wordpress.com/2010/01/bird.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-445" title="bird" src="http://harpin.files.wordpress.com/2010/01/bird.jpg?w=300&#038;h=250" alt="" width="300" height="250" /></a><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Mohon maaf untuk para sahabat yang mengirim email bertanya kelanjutan tulisan perjalanan spiritual di blog aku, yang tak ada kelanjutannya. Ini semata kesibukan mengurus penerbitan Majalah Mamit.  Terimakasih atas dukungan dan sapaannya, mengingatkan aku meneruskan tulisanku di blog.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa hal yang akan aku ceritakan dalam perjalanan ke Sumatra, sebelum akhirnya kembali ke Jakarta, lalu berangkat ke Thailand bersama Bhante Nyanadasa (waktu itu masih samanera) dan Yuliana mengikuti  acara  Young Bodhisattva di Thailand.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekitar sebulan menetap di Vihara Avalokitesvara, aku melanjutkan perjalanan keliling ke vihara-vihara  pesisir. Dalam perjalanan kembali ke Medan, Sampailah aku di wihara.. saya lupa itu dimana, mungkin Tanjung Balai Karimun. Katanya Bhante Nyanapratama sebelum jadi biku adalah muda-mudi di situ. Letaknya sekitar  2 jam perjalanan dari Medan.</p>
<p style="text-align:justify;">Wihara itu adalah bangunan tua. Katanya ada kamar khusus sukong di lantai atas. Sementara kuti untuk biku di lantai 2. Yang dimaksud Sukong adalah Almahum YM. Ashin Jinarakkhita.</p>
<p style="text-align:justify;">Namanya juga bangunan tua, wihara itu termasuk angker. Seorang anak yang menemui saya pada malam itu bertanya dengan innocent: “Bhante tidur di sini?” Suaranya sedikit aneh.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, mau nginap juga?” tanyaku yang spontan ia jawab bergidik “ti..dak.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tempatnya angker, Bhante. Anak-anak di sini tak ada yang berani nginap di wihara. Katanya di kamar Sukong juga ada penunggunya,”  kata dia menunjuk lantai atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Wow… ketika dia pergi, tinggalah aku sendiri di gedung tua ini, sebagai pengembara waktu yang selalu bertemu tempat, pengalaman, dan pertualangan baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam itu pun berlalu seperti malam umumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pagi menjelang, saat A’i (panggilan Chinese  untuk wanita setengah baya) yang biasa mengurus makanan Bhante datang, hal pertama yang dia tanya dengan mata selidik: “Semalam gimana, Bhante? Tidak terjadi apa-apa?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Emang ada apa?” tanya aku heran.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh nggak, “ katanya, terus mengalihkan pembicaraan ke hal lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Live go on. Hari itu aku diajak putar-putar dengan perahu bermesin mengarungi sungai di depan wihara. Konon katannya, sukong bilang posisi wihara yang menhadap sungai itu bagus, kata mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam tiba, aku seorang diri lagi dalam tembok tua dan bau dingin wihara. Sunyi, senyap yang ada hanyalah udara bergerak, biarkanlah udara itu bergerak, bukankah harkekat udara itu memang bergerak? Hehe.</p>
<p style="text-align:justify;">Keesokan pagi, saat menyiapkan makan pagi, wanita setengah baya itu kembali bertanya dengan mata selidik: “Semalam tidak apa-apa, Bhante?”</p>
<p style="text-align:justify;">Jawaban aku juga sama, “nggak, emang kenapa?”</p>
<p style="text-align:justify;">Ia kembali bilang “nggak,” lalu bicara masalah lain lagi. Konon dia seorang guru, jadi pintarlah dia merangkai kata mengalirkan pembicaraan mengisi pagi itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, sejujurnya memang aku tak mengalami apa-apa, takut-takut dikit ada juga. Tidur sendiri, di gedung tua yang konon sepertinya ada penghuni, tapi mereka tak berani cerita. Cuman seorang anak yang cerita bahwa tak ada diantara mereka berani menginap di wihara. Cukup aneh juga, mengingat di daerah lain, anak-anak biasa saja kalau menginap di wihara.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjelang siang, saat anak itu datang lagi, ia terheran-heran melihat seekor burung gereja ditangkap aku dengan tangan kosong. Burung itu tak melakukan perlawanan apapun, pasrah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kok bisa yah, Bhante?” tanyanya terheran-heran.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yah bisa saja,” kata aku, “dia sedang sakit,” sambil mengambil butir nasi di meja memasukkannya ke paruh burung itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejujurnya, aku merasa aneh juga, tapi aku sok biasa. Tadinya aku melihat burung itu berjalan terseok-seok di teras wihara diantara pot-pot tanaman hias.  Sebenarnya burung itu bisa terbang, hanya tidak selincah kalau sehat. Tapi ia tak merontak atau menghindar, diam saja sambil melihat ke aku yang mengulurkan tangan hati-hati meraihnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh belas kasih mengetahui burung itu sakit, aku juga berusaha agar burung itu mau dibantu. Saat menghampiri burung itu, aku memancarkan vibrasi metta ke burung itu. Entah pancaran metta aku manjur, hehe, ia pasrah saat aku tangkap.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi aku punya kesempatan memberinya makan. Memberinya minum. Saat tanganku sedang menangkap burung itulah, ketika aku berbalik, ternyata sepasang suami istri dan anak itu tengah mengamati dari tadi di belakangku.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka bernamaskara. Suami istri itu tidak berkata apa-apa, memberi ampau lalu pamit. Anak itu masih terbengong-bengong bertanya, “kok bisa yah Bhante,” yang kembali aku jawab, “karena dia lagi sakit.”</p>
<p style="text-align:justify;">Saat anak itu pergi, aku meletakkan burung itu di teras tempat aku menangkapnya, tak lupa meletakkan tempat minum di situ. Beberapa saat, ketika aku memeriksa lagi, burung itu sudah pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">Syukurlah dia sehat kembali. Fill free, because you be born for free.</p>
<p style="text-align:justify;">Keesokan hari setelah sarapan, aku melanjutkan perjalanan ke Medan, untuk kembali ke Jakarta.</p>
<p style="text-align:justify;">Jakarta, 29 01 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/harpin.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/harpin.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/harpin.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/harpin.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/harpin.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/harpin.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/harpin.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/harpin.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/harpin.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/harpin.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/harpin.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/harpin.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/harpin.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/harpin.wordpress.com/444/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=444&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harpin.wordpress.com/2010/01/28/metta-its-work/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac9caaf73477463624197c93e41a2d3f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harpin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://harpin.files.wordpress.com/2010/01/bird.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bird</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bodhisattva Thích Quảng Đức</title>
		<link>http://harpin.wordpress.com/2009/10/24/434/</link>
		<comments>http://harpin.wordpress.com/2009/10/24/434/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 16:54:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harpin</dc:creator>
				<category><![CDATA[perjalanan dan refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bodhisattva]]></category>
		<category><![CDATA[Thich Quang Duc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harpin.wordpress.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[Bodhisattva Thích Quảng Đức Selama di Vihara Avalokitersvara aku menyadari perubahan-perubahan tubuhku. Karena perubahan-perubahan yang dialami tubuhku. Seperti ada pegas/peer di lutut kakiku. Sehingga kakiku tak dapat berdiri lama, bila berdiri lama ia akan secara otomatis menekuk/melipat sendiri sehingga aku bisa tiba-tiba terjatuh. Pernah suatu hari aku berangkat bersama sejumlah umat dan pandita setempat mengunjungi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=434&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Bodhisattva Thích Quảng Đức</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-435" title="Quang Duc, a Buddhist monk, burns himself to death on a Saigon street June 11, 1963 to protest alleged persecution of Buddhists by the South Vietnamese government. (AP " src="http://harpin.files.wordpress.com/2009/10/burningmonk.jpg?w=300&#038;h=195" alt="Quang Duc, a Buddhist monk, burns himself to death on a Saigon street June 11, 1963 to protest alleged persecution of Buddhists by the South Vietnamese government. (AP " width="300" height="195" /><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Selama di Vihara Avalokitersvara aku menyadari perubahan-perubahan tubuhku. Karena perubahan-perubahan yang dialami tubuhku. Seperti ada pegas/peer di lutut kakiku. Sehingga kakiku tak dapat berdiri lama, bila berdiri lama ia akan secara otomatis menekuk/melipat sendiri sehingga aku bisa tiba-tiba terjatuh. </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pernah suatu hari aku berangkat bersama sejumlah umat dan pandita setempat mengunjungi seorang Ibu tua yang sakit. Ibu itu hidup seorang diri. Konon, usianya sudah tua tapi tak mati-mati, dicurigai beliau punya ilmu yang membuatnya susah mati.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena bukan ahli upacara, dalam tiap kunjugan saya bersama umat di daerah, saya memposisikan hanya mendampingi Pandita setempat, artinya saya meminta mereka tetap menjalankan fungsinya memimpin upacara sementara saya hanya mendampingi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiap mengunjungi umat sakit parah di rumah sakit dengan selang di sana-sini, makan dari selang infus, buang air kecil dan air besar lewat selang, saya selalu menkonsentrasikan dalam batin, apabila saatnya sudah tiba, berikanlah dia kemudahan untuk ‘melanjutkan’ perjalanan. Sebaliknya apabila bisa sembuh, berikanlah kemudahan untuk sembuh dan mengakhiri penderitaannya yang berlarut-larut.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam banyak kesempatan mengunjungi orang sakit, doa yang kami panjatkan saya rasa cukup efektif. Selama menjadi samanera dulu di Ekayana, pernah dalam sehari bersama Ibu Chaifung cs kami mengunjungi tiga orang yang sakitnya parah. Keesokan hari, menjelang makan siang aku mendengar kabar dari B.Aryamaitri Mahasthavira, ketiga pasien yang kami kunjungi kemarin sudah ‘lewat’.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali pada semua persendianku yang lentur. Karena ada perubahan di persendianku ini, aku tak bisa berdiri lama. Saat mendoakan Ibu tua di pesisir Sumatra ini pun, karena baca doanya cukup panjang, dalam hatiku sudah was-was, takut kakiku menekuk sendiri. Dan dugaanku benar, saat tengah membaca doa, kakiku tiba-tiba menekukkan dirinya, hasilnya bisa ditebak: aku terjatuh dengan sukses berikut bonusnya keseleo. Aku segera diberikan kursi untuk duduk. Ibu tua itu beberapa hari kemudian kalau saya tak salah, memang ‘lewat’.</p>
<p style="text-align:justify;">Keesokan hari kakiku membengkak. Ada umat vihara mengatakan suaminya bisa urut. Ia minta suaminya mengurut aku di kantin belakang vihara. Sebelum menjadi samanera, saat bekerja dulu, aku belajar otodidak pijat refleksi, yang hasilnya suka dimintai pijat oleh teman-teman sekantor,hehe. Jadi sedikit banyak tahulah aku tentang ilmu pijit.</p>
<p style="text-align:justify;">Sepengetahuanku pijat refleksi menghindari memijat daerah yang membengkak, melainkan sisi-sisinya saja. Tapi apa yang dilakukan umat ini, mungkin bukan pijat refleksi. Daerah tapak kakiku yang keseleo dan membengkak, dipijat habis-habisan oleh beliau. Waduh-waduh, beberapa orang ibu yang melihat mengatakan kalau mereka yang mengalami mungkin akan menangis berurai air mata.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum memijit, Acek itu mewanti-wanti, dulu anaknya pernah jatuh dari tangga dan ia pijiti, sakitnya minta ampun, anaknya sambil menangis dan menjeri-jerit, tapi kemudian sembuh. Jadi aku harus siap menahan sakit.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku iya-iya sajalah. Sambil berpikir, sepertinya ada moment untuk berlatih. Lets me try,hehe.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka mulailah Acek itu mengeluarkan ilmu memijitnya. Tapi setelah sekian lama, agaknya beliau harus ‘kecewa’ dan terbelalak heran. Meski beliau memijit pengbengkakan di kakiku habis-habisan. Tak secuilpun erangan atau ringisan, apalagi jeritan yang tampak di wajahku. Wajahku hanya senyum, dan biasa saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini tak lain bisa terjadi karena aku mindfull pada titik-titik yang sakit selama beliau memijit kakiku. Saat tak diamati, atau saat kita tak mindfull, rasa sakit sepertinya ada pada seluruh tubuh. Atau tepatnya rasa sakit menguasai pikiran kita. Tapi begitu kita mindfull, dengan jelas kita bisa mendeteksi bagian yang sakit seperti menggunakan kaca pembesar. Makin dekat- makin detail. Kita tahu yang sakit ada di kaki. Setelah didekati lagi, ada di tapak, setelah didekati lagi, ada di satu titik. Setelah titik itu diamati lagi, ada molekul-molekul kecil berlarian di titik itu. Ketika molekul-molekul kecil itu diamati… mereka menjadi bias. Hasilnya sama sekali tak ada sakit yang kita rasakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya berangkat dari pengalaman ini aku bisa mengerti apa yang terjadi pada biku yang membakar diri di Vietnam, Yang Mulia Biku Thích Quảng Đức dimana masyarkat Vietnam mengenalnya sebagai Bodhisattva Thích Quảng Đức.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang Mulia Bodhisattva Thích Quảng Đức lahir di tahun 1897 dan meninggal 11 Juni 1963. Beliau adalah seorang Biku Mahayana, Master Meditasi yang mengakhiri hidupnya dengan membakar diri di keramaian jalan utama kota Saigon.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini beliau lakukan sebagai bentuk protes atas ketidakberdayaan Umat Buddha menghadapi tekanan dan penindasan dari penguasa Vietnam Utara yang tampaknya non Buddhist.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tahun 1963 itu, apa yang beliau lakukan sontak menarik perhatian dunia akan kondisi di Vietnam dan mendatangkan tekanan pada rejim yang berkuasa. Malcolm Browne yang mengabadikan moment itu dengan kameranya mendapatkan hadiah bergengsi di bidang jurnalistik dunia Pulitzer Price, demikian juga David Halberstam dengan laporan jurnalistiknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Uniknya, para saksi mata dan film dokumenter yang ada menunjukkan, selama proses pembakaran itu, beliau duduk dalam posisi meditasi dengan ketenangan tak tergoncangkan dari awal sampai akhir.</p>
<p style="text-align:justify;">Jenazahnya kemudian dikremasi ulang. Lebih unik lagi, sisa pembakarannya berupa hatinya yang tetap utuh, dengan kata lain, terdapat relik berupa hati beliau. Ini adalah simbol belas kasih beliau yang luar biasa, masyarakat Vietnam kemudian menghormatinya sebagai bodhisattva. Atau secara Theravada Buddhism mengatakan, kalau ada relik sudah pasti Arahanta.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengorbanan beliau mendatangkan tekanan dunia internasional yang luar biasa pada rezim berkuasa, untuk merubah kebijakan yang mendiskreditkan umat Buddha di Vietnam. Akibat tekanan dunia internasional Rezim yang berkuasa merubah beberapa kebijakan, tapi tak sepenuh hati, sampai akhirnya terjadi kudeta militer, dimana rezim yang berkuasa Ngô Đình Diệm dibunuh militer dalam kudeta itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Jakarta, 24 Oktober 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/harpin.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/harpin.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/harpin.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/harpin.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/harpin.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/harpin.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/harpin.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/harpin.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/harpin.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/harpin.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/harpin.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/harpin.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/harpin.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/harpin.wordpress.com/434/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=434&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harpin.wordpress.com/2009/10/24/434/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac9caaf73477463624197c93e41a2d3f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harpin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://harpin.files.wordpress.com/2009/10/burningmonk.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Quang Duc, a Buddhist monk, burns himself to death on a Saigon street June 11, 1963 to protest alleged persecution of Buddhists by the South Vietnamese government. (AP </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perjalanan ke Medan</title>
		<link>http://harpin.wordpress.com/2009/09/10/perjalanan-ke-medan/</link>
		<comments>http://harpin.wordpress.com/2009/09/10/perjalanan-ke-medan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 18:38:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harpin</dc:creator>
				<category><![CDATA[perjalanan dan refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Avalokitesvara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harpin.wordpress.com/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan ke Medan Pesawat yang aku tumpangi mendarat di Bandara Polonia Medan. Bapak A, umat yang mengundangku menjemput sendiri. Karena sikapku yang  friendly monk, beliau tak sungkan beranjali, menggenggam dan menggandeng tanganku menuju mobil. Sikap yang sebenarnya mengungkapkan kerinduannya akan pertemuan ini. Kami pertama bertemu saat bencana alam terjadi di Sumatra, saat aku baru pulang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=428&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Perjalanan ke Medan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-430" title="Avalokitesvara-Kuan-Yin-Compassion-scupture-tk-yeoh-Buddhism" src="http://harpin.files.wordpress.com/2009/09/avalokitesvara-kuan-yin-compassion-scupture-tk-yeoh-buddhism.jpg?w=300&#038;h=199" alt="Avalokitesvara-Kuan-Yin-Compassion-scupture-tk-yeoh-Buddhism" width="300" height="199" /><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Pesawat yang aku tumpangi mendarat di Bandara Polonia Medan. Bapak A, umat yang mengundangku menjemput sendiri. Karena sikapku yang  friendly monk, beliau tak sungkan beranjali, menggenggam dan menggandeng tanganku menuju mobil. Sikap yang sebenarnya mengungkapkan kerinduannya akan pertemuan ini.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kami pertama bertemu saat bencana alam terjadi di Sumatra, saat aku baru pulang dari Myanmar. Komunikasi yang baik membuat hubungan berjalan baik. Beberapa kali beliau menelepon memintaku berkunjung lagi, hingga akhirnya kali ini aku turuti permintaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelumnya, beliau juga menawarkan tanahnya yang banyak untuk aku bangun center dan menetap. Namun aku tak menerima karena tahu kebikuanku masih muda, dan belum sanggup melakukan hal sebesar itu. Di sisi lain, aku menyadari kondisi meditasiku yang masih setengah jalan, masih mencari what happening with me. Karena dalam waktu dekat akan mengikuti Youth Bodhisatva Training di Thailand, saat itu aku mempunyai cukup alasan tak menerima permohonannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai orang terkaya di daerahnya, yang memiliki mal dan beberapa jenis usaha, sikap beliau terhadapku sangat rendah hati. Beliau menjemputku sendiri ke bandara, setelah itu kami ke tempat saudaranya menjemput anak dan istri beliau untuk kembali ke kota asalnya di pesisir Medan.</p>
<p style="text-align:justify;">Berlima, Bapak A yang menyetir, aku yang duduk di sebelahnya dan istri beserta kedua anaknya duduk di belakang, mobil kami melaju.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana cerita aku sebelumnya dalam The Last Moment at Myanmar, masalahku berhubungan dengan mual bila berada dalam mobil dengan orang banyak, seiring waktu bisa aku atasi sedikit-sedikit. Yakni dengan mempertahankan kesadaran melalui meditasi akan sikap dudukku.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan bersikap mindful atas tubuh, aku bisa merasakan udara berputar kencang di dalam kepalaku, lalu tersedot keluar keluar melalui ubun-ubun. Setelah itu isi kepalaku menjadi plong, kosong. Mual itu hilang.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini ada positif dan negatifnya. Positifnya, aku tak merasa mual lagi. Negatifnya, saking plongnya, kadang benar-benar tak ada lagi pikiran dalam kepala aku. Jadi aku bisa seperti orang ling lung tak tahu harus mengucapkan apa, bayangkan bila ini terjadi saat aku harus mengisi ceramah. Dan ini benar-benar pernah terjadi dalam sebuah kunjunganku di sebuah daerah, umat Mahayana terheran-heran melihat aku hanya memegang mic dalam waktu lama tanpa mengucap sepatah kata pun.Ini bukan mau menunjukkan ajaran Zen ‘tanpa kata’, tapi memang kepalaku benar-benar blank, kosong!</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan latihan perhatian penuh saat duduk, berdiri dan berjalan maupun makan, perlahan juga aku menyadari segala bentuk pikiran yang berkecamuk itu bukan milikku. Bahkan pikiran itu juga bukan milikku. Bagaimana bisa menjadi milikku, sedangkan pikiran itu sendiri tak ada. Yang ada hanya bentuk-bentuk udara yang terus berputar.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang ada hanyalah tubuh ini, udara yang terus berputar, dan kesadaran yang menyadari proses yang terus berproses. Kesadaran ini juga selalu timbul-tenggelam. Anicca, dukkha, anatta.Tidak kekal, tidak ada aku, dukkha oleh kesadaran yang tak konstan. Ketika kesadaran kuat, dukkha dan sukkha hanyalah sikap batin yang bertamu, tapi ketika kesadaran lemah, dukkha dan sukha seolah menjadi ‘pemilik’ rumah, kita tenggelam dalam ilusi. That’s the real suffering.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun halnya tubuh kasar ini, dibentuk sekian banyak bentuk kehidupan, mikroorganisme, kuman positif dan kuman negatif yang memiliki kehendak sendiri. Yang terus bertarung sepanjang hidup kita, di dalam tubuh kita. Bahkan saat nafas sudah pergi dari tubuh ini pun, mereka masih berproses untuk menghancurkan tubuh ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah tubuh ini benar-benar milikku? Tentu saja tidak, karena di dalam tubuh ini juga hidup beragam mikroorganisme yang memiliki willnya sendiri, dengan kata lain di luar kontrol kita dan bukan milik kita. Tubuh kita hanya seperti lahan kehidupan bagi mereka sama seperti kita merasa bumi ini adalah lahan kehidupan kita. Saat kondisi batin yang tenang kita bisa merasakan gerakan-gerakan berproses dalam tubuh kita. Kalau dikatakan kita pemilik tubuh ini, bagaimana dengan ekosistim di dalam tubuh ini? Sekian banyak kehidupan yang ada di dalam tubuh ini, apakah mereka cuma numpang? Sepertinya tidak. Mereka adalah bagian dari tubuh ini, tanpa ada kehidupan dalam tubuh, berarti tubuh ini sendiri tak eksis lagi, jadi tubuh ini sendiri juga merupakan sebuah kumpulan kehidupan. Kita bukan pemilik tubuh ini, tapi kita betugas menjaga dan merawat tubuh ini, memakainya untuk melatih mencapai tingkat kesadaran yang lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali ke perjalanan aku bersama keluarga Bapak A di dalam mobil. Seperti biasa sepanjang perjalanan beliau banyak bertanya tentang Dharma, juga berkonsultasi yang aku jawab semampuku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Agama Buddha kita memang paling baguslah Bhante. Apa yang bhante jelaskan sangat bisa saya terima,” katanya. Kemudian beliau membandingkan penjelasan-penjelasan yang sudah beliau dapat dari agama lain.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini Bhante, ada kasetnya kalau Bhante mau dengar penjelasan dari agama mereka, gak apa-apakan kalau Bhante dengar ini?” katanya sambil menyetir memperlihatkan pada aku sebuah kaset dari eve angelis.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gak papa,” kataku ketawa, menarik juga pikirku. Lalu beliau memasukkan kaset ke dalam tape mobil.</p>
<p style="text-align:justify;">Ssst… tiba-tiba ada putih asap dan bau menyengat kabel terbakar muncul di dalam mobil.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pa, kebakaran Pa, ada bau kabel terbakar…bisa meledak Pa…” teriak anak dan istrinya dari belakang. Pak A buru-buru memberhentikan mobil dan kami semua keluar dari mobil.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pa… menjauh aja Pa.. bisa meledak Pa..” teriak istrinya. Asap putih makin banyak dan bau kabel terbakar makin tajam. Kami berdiri menjauh sepuluh meteran dari mobil.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, instuisi dan pola orang lapangan membuat beliau kembali mendekati mobilnya untuk mencari sumber asap dan bau terbakar itu. Ternyata bersumber dari  kabel-kabel lampu asesoris yang ada di pijakan rem.</p>
<p style="text-align:justify;">Segera beliau mencabut kabel-kabel itu, yang hasilnya perjalan kembali bisa kami lanjutkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat melanjutkan perjalanan, beliau mengurungkan niatnya untuk memutar kaset ceramah eve angelis itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jangan diputarlah. Memang tidak pantas memutar itu di depan Bhante,” katanya serius.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidak apa-apa, kok” kataku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Janganlah. Maaf yah Bhante udah lancang tadi,” katanya, aku cuma tertawa.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami terus melanjutkan perjalanan. Hingga kemudian menjelang tengah malam, kami tiba di tujuan, beliau mengantar aku lebih dulu untuk menginap di Wihara Avalokitesvara.</p>
<p style="text-align:justify;">Meski berjubah Theravada, tapi belakangan hari aku menyadari sepertinya jodoh aku lebih dekat dengan Avalokitesvara, hehe. Om Mani Padme Hum.</p>
<p style="text-align:justify;">Gg.Melati, Jakarta 10 September 2009</p>
<p style="text-align:justify;">Harpin R</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: Harpin.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/harpin.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/harpin.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/harpin.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/harpin.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/harpin.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/harpin.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/harpin.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/harpin.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/harpin.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/harpin.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/harpin.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/harpin.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/harpin.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/harpin.wordpress.com/428/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=428&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harpin.wordpress.com/2009/09/10/perjalanan-ke-medan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac9caaf73477463624197c93e41a2d3f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harpin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://harpin.files.wordpress.com/2009/09/avalokitesvara-kuan-yin-compassion-scupture-tk-yeoh-buddhism.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Avalokitesvara-Kuan-Yin-Compassion-scupture-tk-yeoh-Buddhism</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Last Moment at Myanmar (2)</title>
		<link>http://harpin.wordpress.com/2009/08/15/the-last-moment-at-myanmar-2/</link>
		<comments>http://harpin.wordpress.com/2009/08/15/the-last-moment-at-myanmar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 16:06:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harpin</dc:creator>
				<category><![CDATA[perjalanan dan refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[cakra]]></category>
		<category><![CDATA[meditasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mind Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[Myanmar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harpin.wordpress.com/?p=413</guid>
		<description><![CDATA[The Last Moment at   Myanmar (2) Aku diarahkan bagian pengecekan paspor ke sebuah ruangan. Meski aku menjelaskan ke Myanmar atas undangan Pemerintah Myanmar, mengikuti Word Buddhist Summit, tapi over stay karena berada di center meditasi, dan saya biku, bagian imigrasi masa bodoh. Berapa hari over stay aku dihitung, lalu diwajibkan membayar baru diperbolehkan menuju pesawat. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=413&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The Last Moment at   Myanmar (2)</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-416" title="chakraasis" src="http://harpin.files.wordpress.com/2009/08/chakraasis.jpg?w=230&#038;h=300" alt="chakraasis" width="230" height="300" /></p>
<p>Aku diarahkan bagian pengecekan paspor ke sebuah ruangan. Meski aku menjelaskan ke Myanmar atas undangan Pemerintah Myanmar, mengikuti Word Buddhist Summit, tapi over stay karena berada di center meditasi, dan saya biku, bagian imigrasi masa bodoh.</p>
<p>Berapa hari over stay aku dihitung, lalu diwajibkan membayar baru diperbolehkan menuju pesawat. Poor day.</p>
<p>Pesawat mendarat di Bandara Changi, Singapura. Ada rekan Hendritanti (sekarang Biku Nyanagupta) menyambutku. Malam itu aku menginap di kontrakannya. Untuk keesokan hari melanjutkan perjalanan ke Indonesia.</p>
<p>Rekan Hendritanti menjagaku sangat baik.  Untuk makan, biar kita makan di tempat umum, dia mewanti-wanti penjualnya untuk tak menggunakan daging, yang sebenarnya bukan pantangan aku, but as long we can follow it, its doesn’t matter.</p>
<p>Dia juga selalu membuka jalan untuk aku saat berjalan di keramaian, tapi saat aku minta diperlakukan biasa saja, dia juga easy going. Take care me as friendly monk, hehe. Dia juga mau membayar penuh tiket pesawat aku ke Jakarta. Tapi aku menolaknya, aku masih ada sisa sedikit uang, kamu nambahin kekurangannya saja, kataku.</p>
<p>Setiba di Indonesia, aku mengontak salah satu biku senior yang punya center di gunung.</p>
<p>“Namo Buddhaya Bhante, Ini Nyanachatta. Aku baru pulang dari Myanmar, Aku butuh bantuan Bhante, sepertinya meditasiku mengalami gangguan,” kataku to the point.</p>
<p>Ajaibnya, ternyata bhante itu sedang ‘turun gunung’ dan berada di Jakarta. “Udah tunggu aja, nanti sekalian aku jemput ke sana,” katanya.</p>
<p>Wah, kali ini sebuah kehormatan besar lagi bagiku. Biku sesenior dia pas lagi di Jakarta dan menjemput aku langsung di Ekayana.</p>
<p>Saat di dalam mobil, biku senior itu bertanya ”dalam mobil  begini pusing gak?”</p>
<p>Ups, dia sangat mengerti kondisiku, kataku dalam hati. Ini yang kucari, “Mual banget Bhante,” kataku.</p>
<p>Saat umat yang ada dalam mobil ikut berbicara, biku senior itu mengalihkan pembicaraan seolah tentang hal lain, jadi komunikasi ini cuma dua arah antara aku dan dia.</p>
<p>Singkat cerita kami sudah sampai di centernya di gunung. Biku senior itu berguman, “Selalu saja begini kalau udah mau jadi.” Beliau juga kaget saat tahu aku baru satu bulan di Forest Center Myanmar, “kirain sudah berapa tahun,” katanya.</p>
<p>Aku sekilas menceritakan kondisi center di Myanmar tempatku berlatih. Disiplin ketat.<br />
Entah karena cerita ini atau bukan, di sini biku ini lalu memperlakukan aku dengan sangat keras… bahasa lainnya dibentak terus. Agak syok juga, hehe. Belakangan hari saat tidak di center biku senior ini lagi, dan bertemu salah satu yogi yang ada di sana saat itu, yogi itu bercerita mereka sempat komplain ke biku senior itu, kenapa memperlakukan aku begitu keras. Dalam pandangan aku, mungkin ada misundestanding antara disiplin dan bentakan.</p>
<p>Di Myanmar, guru kami begitu lembut dan tak pernah membentak. Memang disiplinnya sangat ketat dan seolah bisa membuat kita tak bisa bernapas, tapi fibrasi cintakasihnya yang kuat, rasa menyayanginya yang besar bisa kami rasakan dalam setiap sesi pertemuan yang terbatas.</p>
<p>Ketika biku senior ini, mungkin surprise dengan kemajuanku yang hanya satu bulan lebih di center Myanmar yang ketat ingin mengaplikasi system ini di tempatnya, suasana center berubah menjadi medan ospek. Disiplin tanpa loving kindness membuat center menjadi hanya medan bara. Dari center yang damai, saya tiba-tiba mendapati tiap hari harus diomelin.</p>
<p>Seperti ketika makan siang: Di Panditarama Forest Center, Myanmar, setiap moment adalah meditasi. Saat makan sekalipun, kami memasukan suap demi suap nasi ke mulut dengan sangat pelahan, mengunyahnya dengan penuh kesadaran, merasakan asin, manis, panas dan dingin makanan yang tercerap indra  lidah kami.</p>
<p>Agaknya belakangan aku tahu, biku senior ini juga pernah berada di Soeb  Oo Min Center Myanmar, dimana tidak menyarankan melakukan segala hal terlalu lambat. Mungkin karena hal inilah, siang itu biku senior itu membentak aku lagi. “Apa sih yang kamu lakukan? Makan begitu lambat! Kamu menikmati makanan itu kan?”</p>
<p>“Tidak Bhante,” kataku pelan setelah ia menghabiskan unek-uneknya. Mendengar  jawaban aku, ia melihatku untuk mendengar alasan lebih lanjut. Dengan memberanikan diri, untuk tak berkesan menggurui, aku menjelaskan aku sedang melakukan meditasi dalam makanan.</p>
<p>“Meditasi gimana?! Kamu pasti menikmati makanan itu, enak kan?!” hardiknya.</p>
<p>“Tidak Bhante,” kataku hati-hati dengan sedikit menunduk. “Aku mengawasi rasa asin, asam, manis, panas atau dingin yang kurasakan dari makananku,” aku tak menikmatinya,” kataku.</p>
<p>Syukurlah, meski tampak keras, biku senior itu bisa menerima alasanku. Beliau tampak berpikir dan tak memarahiku lagi. Namun, suasana makan tentu tak mengenakkan lagi.</p>
<p>Meski tahu bahwa aku sedang mendapat gangguan dalam meditasi, aku mencoba selektif terhadap resep yang diberikan padaku. Berhati-hati untuk mencari tahu kondisi batinku ada dimana, dan resep apa yang cocok untukku. Maka ketika biku senior itu diawal kedatanganku, memberikan foto-foto mayat, untuk dilihat lalu diingat dalam batin katanya, tentu tak aku jalankan.</p>
<p>Setahu aku, yang aku pelajari adalah meditasi vipasana. Dalam vipasana kita tak menciptakan atau menghilangkan sesuatu. Jadi agak aneh kalau sekarang aku harus memasukkan mayat-mayat ini ke dalam batinku. Melihatnya, lalu menutup mata membayanginya di dalam batin.</p>
<p>“Nanti aku ajarkan yang lainnya lagi,” katanya.</p>
<p>Namun, tak etis kalau aku menolak di hadapan biku itu. Aku  bilang ya dan menyimpan foto itu, tetapi aku tetap praktek meditasi dengan metode yang sudah aku jalani di dalam kutiku.</p>
<p>Maka bisa dipastikan, esok harinya ketika ditanya hasil meditasiku, apakah sudah ada gambaran mayat itu di dalam batin, aku menjawab belum, biku senior itu tampak mangkel. Terlebih saat aku tanyakan seperti ada tangan robot, tangan tambahan yang menempel di saraf-sarafku.</p>
<p>Langsung saja, pagi itu aku menjadi bulan-bulanan bentakannya. Agaknya dia nge kalau aku tak menjalankan arahannya. Yah, mohon maaf, mungkin aku termasuk pembelajar yang selektif. Meski kadang bisa merugikanku, tapi seringkali itu bermanfaat untukku. “Pantas kamu disuruh keluar dari center. Keras kepala. Disuruh begini malah jalanin yang lain. Lama-lama kamu bisa gila! Denger yah, jangan memasukkan nafas lewat mulut. Nafas masuk lewat hidung harus keluar lewat hidung.”</p>
<p>Astaga, inilah untungnya belajar dengan biku senior, ada point-point yang tak kita sebutkan, tapi dari jam terbangnya yang tinggi, beliau bisa tahu dan menjelaskan.</p>
<p>“Maaf Bhante, aku salah… tadi pagi aku memasukkan nafas lewat mulut dan mengeluarkan lewat ubun-ubun, aku merasa tubuh ini sepertinya dikuasai orang lain.”</p>
<p>“Hah, kamu bisa gila!”</p>
<p>“Maaf Bhante, aku tidak mengulanginya lagi.” Kataku bersujud  tiga kali. “Makasih banget, Bhante.”</p>
<p>Setidaknya biku senior ini mengingatkan dasar-dasar meditasi yang ternyata aku lepaskan. Selama mengamati getaran-getaran tubuh yang terus berpindah, aku sudah terbawa terlalu jauh. Aku bisa merasakan getaran perputaran di titik anus, perut, jantung, hati,tenggorokan, jidat dan ubun-ubun yang bergetar bersamaan, lalu nafas yang masuk lewat mulut aku keluarkan melewati pusaran-pusaaran itu dan berakhir di ubun-ubun seperti helikopter, hehe.</p>
<p>Meditasi yang aku lakukan dengan mengamati pusaran-pusaran itu tanpa aku sadar membuat aku mengamati semua sensasi abstrak yang aku rasakan. Hal sangat sepele yang dulu aku tahu untuk mengabaikan/cukup tahu saja sensasi abstrak colekan di kaki, seperti ada yang berusaha menempel sehingga punggung terasa berat dan sebagainya, telah aku abaikan.</p>
<p>Aku terjebak dan tak bisa membedakan menyadari dengan mengikuti. Dalam hal meditasi, dua kata ini memiliki makna dan akibat yang begitu fatal.</p>
<p>Aku menyadari sepertinya kekacauan ini dimulai dua malam terakhir saat aku di Forest Center Myanmar,ketika aku mengikuti sensasi colekan di kakiku.</p>
<p>Terima kasih Bhante, from that moment, kondisi meditasiku membaik. Aku berhutang sangat banyak pada Bhante.</p>
<p>Tetapi di sisi lain, aku tahu, metode yang aku pelajari berbeda dengan metode di center biku senior yang ada di gunung ini, yang tampaknya menurutku lebih ke arah Samatha Bhawana.</p>
<p>“Kalau aku menutup mata, rasanya tak seperti sedang menutup mata biasanya, tapi seperti sedang ada di alam lain, “ kataku memulai pembicaraan.</p>
<p>“Itu alam tanpa batas,” kata biku senior itu.</p>
<p>Point terakhir yang ingin aku tahu adalah, gambaran yang aku lihat dulu, permadangan yang sangat indah, kuda terbang yang mengangkut penumpang di awan itu apa?</p>
<p>Ketika keesokan harinya aku tanyakan pada biku senior itu, beliau berkata” kamu melamun kali?”</p>
<p>“Yang aku lihat bukan dalam kondisi duduk meditasi, Bhante. Tapi saat mata terbuka begini. Itu seolah ada di jidat, bergerak seperti film, kalau diarahkan ke matahari, gambar itu makin terang…”</p>
<p>Bhante itu tampak terdiam. Ia tak mengucapkan apa-apa. Kesimpulannya, tak ada jawaban di sini.</p>
<p>Genap seminggu, karena merasa yang aku dapat cukup, sore itu aku minta ijin pada biku senior itu untuk pulang ke Jakarta.</p>
<p>Aku bersujud tiga kali mengucapkan rasa terimakasih yang amat sangat. Beliau telah mengingatkan aku sebuah masalah sangat simple dan dasar, tetapi peringatan itu telah menyelamatkan aku.</p>
<p>“Budi ini tak akan bisa aku balas, Bhante,” sujudku pada beliau.</p>
<p>“Ke Jakartanya naek pesawat saja, jangan naek bis” pesan beliau tahu aku belum bisa berada di satu ruangan dengan banyak orang, pasti aku akan mual. Setidaknya pesawat bisa mempercepat semuanya.</p>
<p>Bersambung  gak yah? Hehe….</p>
<p>Jakarta 15 Agustus 2009 (10:56 pm)</p>
<p>Harpin</p>
<p>Sumber: harpin.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/harpin.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/harpin.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/harpin.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/harpin.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/harpin.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/harpin.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/harpin.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/harpin.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/harpin.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/harpin.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/harpin.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/harpin.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/harpin.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/harpin.wordpress.com/413/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=413&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harpin.wordpress.com/2009/08/15/the-last-moment-at-myanmar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac9caaf73477463624197c93e41a2d3f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harpin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://harpin.files.wordpress.com/2009/08/chakraasis.jpg?w=230" medium="image">
			<media:title type="html">chakraasis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Last Moment at Myanmar (1)</title>
		<link>http://harpin.wordpress.com/2009/04/30/the-last-moment-at-myanmar-1/</link>
		<comments>http://harpin.wordpress.com/2009/04/30/the-last-moment-at-myanmar-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 21:46:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harpin</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[Mind Traveling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harpin.wordpress.com/?p=367</guid>
		<description><![CDATA[The Last Moment at Myanmar (1) Bagi kami yang berlatih Vipassana, terlebih metode Mahasi di Panditarama Forest Center, rasa sakit, jenuh, adalah makanan sehari-hari yang harus dilalui di awal-awal latihan. Bayangkan, dari jam 3 pagi sudah harus di aula utama untuk meditasi. Diselingi break makan pagi dan siang, mandi sore, praktis hari-hari kami hanya meditasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=367&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>The Last Moment at Myanmar (1)<br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_364" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><strong><strong><img class="size-medium wp-image-364" title="teratai" src="http://harpin.files.wordpress.com/2009/03/teratai.jpg?w=300&#038;h=218" alt="Still Mind, 50cm X 70cm, oil on canvas" width="300" height="218" /></strong></strong><p class="wp-caption-text">HAPPY VAISAKA DAYS, MAY ALL BEING BE ENLIGHTENING AS LORD BUDDHA</p></div>
<p><strong> </strong></p>
<p><em><strong>Bagi kami yang berlatih Vipassana, terlebih metode Mahasi di Panditarama Forest Center, rasa sakit, jenuh, adalah makanan sehari-hari yang harus dilalui di awal-awal latihan.</strong></em></p>
<p>Bayangkan, dari jam 3 pagi sudah harus di aula utama untuk meditasi. Diselingi break makan pagi dan siang, mandi sore, praktis hari-hari kami hanya meditasi dan meditasi.</p>
<p>Semua, tahap demi tahap bisa aku lalui hingga aku menikmatinya, terlebih oleh pengalaman di luar nalar yang aku alami, yang mana semua harus diakhiri oleh kekacauan ciptaanku sendiri.</p>
<p>Kekacauan yang kulalui mencapai klimaks, saat di suatu pagi, meditasi jalan di bawah terik matahari pagi, sengatan2 elektro dari cahaya matahari &#8216;membersihkan&#8217; partikel2 di ubun-ubun kepalaku.</p>
<p>Amazingly thats i cannot believe, meski aku pernah punya ilmu kuda lumping, mengalami mimpi buto muncul dari dinding kamar aku 2 kali (pertama di ekayana-Jakarta, kedua di Tushita Meditation Center-Dharamasala,India), saat aku bangun ada cahaya sebesar sinar senter bergerak di kamar aku, lalu hilang. Tapi pagi ini yang aku alami benar-benar membuatku takjub tak bisa berkata-kata.</p>
<p>Setelah ubun2ku bersih, di jidatku muncul vision. Vision ini berbeda dengan vision ketika duduk meditasi mendalam. Vision saat duduk meditasi mendalam sifatnya samar-samar, seperti mimpi. Atau bahasanya &#8216;seperti&#8217; melihat Kwam Im. &#8216;Seperti&#8217; melihat Buddha, yang sifatnya seolah-olah&#8230; samar-samar seperti mimpi, begitu kita sadar gambar itu tak ada lagi.</p>
<p>Seperti juga di awal-awal saya tertarik meditasi dan sering berada di ruang meditasi Ekayana. Suatu kali saat mau meditasi di ruang itu aku terkaget-kaget. Ada rupang 1000 Armed Chenrezig/Kwam Im berwarna coklat Tibetan style di ruangan itu yang biasanya hanya terdapat rupang Buddha putih zen style. Sempat tak percaya dengan apa yang ada di hadapanku aku mendekati rupang Chenrezig itu, meraba dan memastikan its real?</p>
<p>Bukan apa-apa, waktu meditasi kemarin aku &#8216;seolah-olah&#8217; melihat rupang Avalokitesvara itu, persis, plek. Kehadiran rupang ini mempertegas bentuk dan gambar yang &#8216;seolah-olah&#8217; aku lihat dalam meditasi kemarin.</p>
<p>Saat aku ceritakan ke guruku terkasih Bhante Dharmavimala, menurut beliau, ruang meditasi ini memang spesial. Di Ekayana yang awalnya dimulai hanya dari beberapa ruko, sudah menjadi rahasia umum, ruangan-ruangan yang ada bersifat multifungsi dan banyak dijebol untuk mencari konfigurasi terbaik. Hanya ruang meditasi di sebelah kantor Bhante Aryamaitri saja dari awal dibangun tak pernah dimanfaatkan untuk ruangan apapun selain ruang meditasi.</p>
<p>Di ruangan ini pulalah, air mata dan seduh sedan saya pernah bersahutan saat vision <em>my mom and his suffering live </em>muncul di meditasiku.</p>
<p>But, sekedar info, kemarin setelah `3 tahun tak muncul, aku tiba-tiba mampir ke sana. Tebak yang kulihat? Ruangan ini akhirnya jebol juga menjadi kantor, hanya altarnya tetap di posisi dan tak diganggu-gugat. Yah, <em>everything is impermanen, anicca.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Menurut Bhante Vimala, ruangan meditasi dipindahkan ke atas, ke lantai empat.</p>
<p>Kembali ke vision terbaru ini. Kali ini bukan vision &#8216;seolah-olah&#8217; seperti pernah aku alami. <em>But this vision is very real, </em>seolah-olah jidatku menjadi proyektor film 3 dimensi seperti di Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah.</p>
<p>Lazimnya vision meditasi yang aku alami bersifat &#8216;seolah-olah&#8217; saat kita &#8216;terjaga&#8217; vision itu hilang, sehingga tetap menjadi vision &#8216;seolah-olah&#8217; melihat ini dan itu.</p>
<p>Nah, vision yang ini seperti tercetak di jidat. Begitu kita mengarahkan pandangan ke tempat yang pencahayaannya kuat, lampu atau matahari, vision yang terlihat di kening kita semakin kuat dan jelas. Jadi di saat mata kita melihat orang dan sebagainya di depan kita, di jidat kita juga sedang berlangsung pemutaran gambar 3 dimensi full color. Seperti tengah menonton film saja.</p>
<p>Benar, seperti menyetel film 3 dimensi. Karena bila konsentrasi kita lepas dari fim 3 dimensi itu ke arah lain,misalnya berbicara dengan rekan dan sebagainya, gambaran itu hilang. Begitu kita melihat apa yang ada dalam jidat lagi, gambaran itu muncul, reply dari awal.</p>
<p>Vision apa yang aku lihat?</p>
<p>Ada sebuah ruangan emas. Di dalamnya sebuah rupang emas duduk di singasana emas dengan bantalan merah. Arca emas dan singasananya terus berputar perlahan seperti kita sedang bekerja dengan program desain 3 dimensi. Aku mengamati Arca itu, bukan Buddha, tapi seperti Tibetan Deity. Belakangan, jauh setelah peristiwa itu saat aku mencari jawaban di internet, aku mendapat gambaran sepertinya  arca itu gambaran Guru Rimpoche/ Padmasambava.</p>
<p>Selanjutnya ada perpohonan dan air mancur yang sangat indah. Lalu di langit ada kuda terbang yang ada orang menungganginya terbang di awan-awan.</p>
<p>Darimana gambaran itu muncul? Kalau dibilang imajinasi saya, rasanya saya tak pernah mengkhayalkan kuda terbang. Padmasambava apalagi, Selama ini yang saya mengerti cuma Buddha dan Kwam Im.</p>
<p>Selain vision itu, di saat bersamaan terdapat sengatan elektrik yang bekerja dari ubun-ubun ke titik-titik konsentrasi yang dominan di tubuhku. Beberapa partikel kecil dalam tubuh aku yang beberapa hari ini bisa aku rasakan pergerakannya, bberhamburan &#8216;menyelamatkan&#8217; diri saat sengatan elektrik ini muncul. karena sumber elektrik ini dari atas kepala, partikel-partikel kecil ini lari ke bawah. Ada yang keluar lewat mulut menjadi seperti sendawa, lewat lubang pantat menjadi kentut dan banyak yang lari keluar melalui ujung kaki.</p>
<p>Yang tak berhasil melarikan diri terkenal sengatan elektrik ini tertarik ke atas keluar dari ubun-ubun, lalu aku bisa merasakan pecikannya yang jatuh ke wajah aku seperti ketombe, bergerak, menimbulkan rasa gatal lalu lenyap tak bebekas.</p>
<p>Setelah munculnya sengatan ini, sangat mudah bagiku masuk dalam meditasi mendalam. Mungkin inilah sebabnya, U Tamanakyaw Sayadaw, guruku terkasih terakhir kali interviu sempat 2 kali bertanya &#8216;apa yang kamu lihat?&#8217;, waktu aku bilang tak lihat apa-apa, dia bilang mungkin belum bersih. Lalu beliau tanya aku duduk meditasi berapa jam? Aku jawab bisa 3 jam. Beliau mengingatkanku untuk duduk 1 satu jam dan jalan 1 jam, ganti-ganti, tak boleh duduk lama-lama.</p>
<p>Aku merasakan sengatan elektrik itu terus bekerja &#8216;membersihkan&#8217; tubuhku inci percinci pada setiap sel darahku. Aku menyebutnya &#8216;membersihkan&#8217; karena ia bersifat seperti vacum cleaner, menyedot habis sumbatan-sumbatan dalam sel darahku lalu membuangnya melalui ubun-ubun.</p>
<p>Celakanya, dalam kondisi ini aku tak memiliki tempat berbagi atau bertanya. Jadwal interviu dengan sayadaw 2 hari lagi. Aku lost kontrol terbawa pada kenikmatan sekaligus kecemasan apa yang aku alami.</p>
<p>Setelah break makan siang, aku duduk meditasi dengan sangat nyaman dan atusias, akhirnya&#8230; aku bisa mencapai arahat juga dalam kehidupan ini kataku dalam hati. Secara perlahan tapi pasti peristiwa luar biasa ini menghilangkan kewasapadaan dan kesadaranku. Sambil duduk meditasi aku terus mengawasi getaran dominan dan sengatan-sengatan elektrik itu. &#8216;Pembersihan&#8217; dalam tubuh kasarku sedang berlangsung, kataku dalam hati. Saat itu aku seperti merasakan ada sekumpulan partikel yang berusaha mencenkram habis tulang belakang di pundakku. Aku berusaha konsentrasi mengarakan sengatan elektrik itu membersihkan partikel-partikel itu. Mungkin inilah cenkraman setan-setan kebodohan yang telah berlangsung sekian abad yang membuatku terlahir dan terus terlahir lagi, kataku dalam hati. Aku tenggelam dalam perang di dalam tubuhku ini dan takut melepaskan sedikit saja konsentrasiku, aku takut terjadi sesuatu tak diinginkan apabila aku lepas konsentrasi.</p>
<p>Bahkan hingga tiba saatnya U Panditarama memberikan Dharma Desana aku tak rela bangun dari meditasiku.</p>
<p>Biasanya, sebelum U Panditarama tiba, biku pengawas mengingatkan kami merapikan jubah kami. Melihat aku terus saja bermeditasi ia berusaha membangunkanku, &#8216;bangun-bangun Sayadaw sebentar lagi tiba,&#8217; katanya. Tapi aku bergeming. Sekian lama melihat aku tak juga bergerak, dia mendorong tubuhku, dan aku merelakan diriku jatuh oleh dorongannya tanpa merubah posisi meditasiku.</p>
<p>Suasana tentu heboh. Aku segera dibopong ke kuti di dekat meditation hall. Di sana mereka mengira aku kesurupan. Aku dibacain doa, disembur dengan air, dan terakhir matanya dimasukkan cairan-cairan dan daun-daun pedas agar sadar dan bangun dari meditasiku.</p>
<p>Haha, usaha mereka tak membuahkan hasil. Aku mindfull pada tubuhku. Begitu cairan pedas itu menyentuh mataku, ia menjadi objec dominan. Aku cukup mengamati saja, begitu aku mengamati getaran dominan di mataku, getaran elektrik itu mencabut habis gerakan-gerakan dominan di situ, hasilnya ajaib..mataku tidak perih sama-sekali.</p>
<p>Berulang kali mereka melakukan hal itu tanpa hasil, hingga tiba utusan yang merupakan penerjemah U Tamana Kyaw Sayadaw. Kata Ibu itu, sayadaw bilang kesadaranku kuat, jadi biarkan saja aku tak mungkin kerasukan. Aku diberi waktu libur 2 minggu untuk tak mengikuti meditasi. Aku boleh jalan-jalan dan sebagainya. Aku juga diberi seorang dayaka. Untuk makan, aku tak perlu ke dining hall, akan diantar dayaka.</p>
<p>Di Forest Center sekelas Panditarama, ini kemewahan luar biasa bagi biku baru seperti aku. Selain itu, mungkin untuk jaga-jaga cuci dosa, ibu itu mengatakan aku sebelumnya habis dari India dan mempraktekan metode lain, selain itu bahasa inggrisku buruk, jadi mungkin terjadi salah komunikasi, untuk itu ia minta seorang yogi dari Indonesia mendampingi aku.</p>
<p>Harapanku satu-satunya agar bisa bertemu U Tamana Kyaw tak terpenuhi. Seandainya beliau sendiri yang datang dan memintaku bangun, mungkin akan aku lakukan. aku begini lebih karena tak berani melepas konsendtrasi dari sengatan itu dan tak memiliki tempat bertanya.</p>
<p>Sengatan itu begitu hebat menyedot habis sensasi dalam tubuhku, termasuk rasa sakit. Jadi tak heran, hari itu aku meditasi dari jam 2 siang sampai jam 19.30 malam tanpa merubah posisi. Itupun setelah aku diangkut dan dimasukkan dalam truk dalam posisi meditasi ke kutiku, dan mereka mengancam, kalau aku belum mau bangun juga akan disiramin air. Yah, udah ngalah ajalah, aku yang dipaksa tidur di ranjangku akhirnya membuka mata dan merebahkan diri. Gila cing, tubuh aku rasanya ringan dan rileks banget, just like a baby. Lebih terkejut lagi saat aku tanya jam berapa? Mereka bilang sudah 19.30. Ha? Aku kira masih sore!?</p>
<p>Malam itu aku tidur ditemani seorang dayaka. Aku kasihan melihat dia menggelar tikar di depan kuti, aku memintanya masuk tidur di kutiku, dia tak berani.</p>
<p>Keesokan harinya aku tetap bangun pagi dan meditasi. Anehnya, sekujur persendianku rasanya memiliki per. Terutama pada lutut dan siku tanganku. Perubahan fisik juga mulai terasa, jari-jariku menjadi lurus-lurus dan bahkan jempol jariku anehnya bisa melengkung ke atas.</p>
<p>Diluar itu, kini seorang yogi dari Indonesia menemaniku. Mungkin karena satu negara, apalagi beliau juga kenal Pak Handaka sebagai penyokong saya di Myanmar, aku merasa mendapat teman curhat. Dia tampak bersikap baik, tapi juga memberi masukan yang menciutkan nyaliku. Dia mengatakan aku tak boleh merepotkan orang, sampai harus diangkut dengan mobil ke kuti, disediakan dayaka, makan diantar segala. Kalimat-kalimatnya ini membuat aku merasa sangat bersalah, takut dan sebagainya.</p>
<p>Sorenya dia mengajak aku jalan-jalan. Saat melewati sebuah pohon di depan front office, aku bisa merasakan udara yang bergerak aktif masuk ke telingaku. Buzz!  Masuk ke dalam perutku, buzz! Lalu keluar lagi lewat kuping, buzz!</p>
<p>Malangnya aku tak bisa menceritakan ini pada siapa-siapa. aku merasakan tubuhku penuh angin, yang keluar masuk seenaknya. Aku rasanya hampir tak bisa bernafas karena tekanan angin-angin ini dan ketakutanku yang kian menjadi.</p>
<p>Aku coba mengatakan pada yogi itu, kalau pintu sudah terbuka dan aku tak bisa mengendalikannya, angin-angin ini bebas keluar masuk tubuhku seenaknya. Tanpa aku sadari, sepertinya yogi ini makin memandang minor pada diriku. Padahal aku mempercayainya dan menganggap dia sahabat dan saudaraku satu-satunya saat itu. Malamnya, karena ketakutanku aku memilih menginap di kuti yogi itu. Dalam kondisiku yang labil, aku memang berpikir dia sebaik Pak Handaka untuk menjaga aku.</p>
<p>Tapi harapanku sepertinya menjadi bumerang. Keesokannya, mungkin gara-gara menginap di kutinya, dan mungkin juga dari laporannya tentang ucapanku yang aneh-aneh, aku dipanggil oleh Sayadaw. Informasi ini tentu aku dapat dari yogi itu. Bahwa aku tak boleh lagi tinggal di situ. Dia akan mengantar aku ke Yangon. Nanti kalau ketemu Sayadaw kamu jangan bicara&#8230;. mereka tak mau bicara lagi dengan kamu tentang meditasi, katanya. Dari sikapnya aku menyadari, kepercayaanku padanya ternyata salah.</p>
<p>Saat ini, tiba-tiba dialah juru bicaraku, di sisi lain sebagai juru bicara dia memandang negatif pada aku. jadi saat ketemu Sayadaw aku menjadi terpidana. Aku malu dan takut, saat aku mencoba berbicara langsung menggunakan Bahasa Inggris dengan Sayadaw, dia mengatakan kamu mau ngomong apa biar aku yang omongin. Dan hebatnya, dia bertanya pada Sayadaw, &#8220;sebelum dibawah ke Yangon apakah dia perlu dilepasjubahkan dulu?&#8221;</p>
<p>Aku terkaget-kaget mendengarnya. Aku mempercayainya, tapi dia menganggap aku tak waras, ini mengiris-iris hatiku, tapi sebagai terpidana yang sudah menghebohkan Panditarama Forest Center, aku tak bisa berbuat apa-apa.</p>
<p>&#8220;Tidak usah&#8221; kata sayadaw. Dia masih memiliki guru di Indonesia. &#8220;Emang dia mau dibawa kemana?&#8221; tanya Sayadaw.</p>
<p>&#8220;Ke Yangon.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terus kemana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Di Yangon ada keluarganya, mereka yang akan mengurusnya&#8221; mungkin maksud dia keluarga Pak Handaka.</p>
<p>&#8220;Terus?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti dari sana dia akan dibawa ke Indonesia.&#8221;</p>
<p>Aku menangkap, sepertinya U Tamana Kyaw ingin tahu atau mungkin memberi saran sebaiknya aku dibawa ke mana. Tapi sebagai biku yang baik layaknya guruku di Indonesia, aku tahu biasanya mereka tak akan memberi pendapat kalau tak diminta. Tapi sekali lagi aku hanyalah seorang terpidana yang tak memiliki hak suara.</p>
<p>Keesokan paginya, dengan menumpang mobil center bersama pegawai yang mau belanja keperluan dapur kami ke Yangon. Sepanjang jalan mereka menatap aku senyum-senyum penuh arti. Aku sendiri harus mempertahankan kesadaranku, entah mengapa, berada di dalam mobil membuatku puyeng dan mual. ah, malangnya nasibku, begitu sudah jadi arahat langsung dicap sebagai orang gila, nasib-nasib, pikirku dalam hati, hehe.</p>
<p>Saat sudah di Panditarama Center di Yangon inilah, saya berpikir harus melawan tekanan pikiran mereka bahwa saya gila. Caranya? Saya harusbisa melakukan semuanya sendiri, mencari jawaban apakah trek meditasi saya benar. Dan saya juga masih normal, tak usah dikawal seperti orang yang tak ingat jalan pulang.</p>
<p>Pertama-tama yang aku lakukan adalah menelepon Pak Handaka mengabarkan keadaanku, aku yang dianggap gila dan aku merasa tidak gila, dan niatku mencari solusi sendiri. Sepertinya Pak Handaka awalnya juga ragu, maklumlah kan banyak orang gila karena belajar meditasi tapi merasa tidak gila. Tapi untunglah Pak Handaka memberi kesempatan mempercayaiku untuk menunjukkan aku masih waras.</p>
<p>Jadi, yang pertama-tama aku lakukan ke pasar membeli silet cukur untuk didanakan pada guruku U Tamana Kyaw sebagai tanda terima kasih sudah membimbing aku, kemudian mencari taksi menuju Panditarama Forest Center.</p>
<p>Sesampainya di Forest Center, Ibu di front office yang menertawai aku waktu menuju Yangon di mobil terkaget-kaget melihat aku. &#8220;Aku tak seperti kalian kira, kataku. Apakah aku bisa bertemu Sayadaw untuk memberikan dana?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Ada di kutinya,&#8221; katanya.</p>
<p>Saat membuka pintu, Sayadaw yang habis cuci muka terkejut melihat kemunculanku, &#8216;ada apa?&#8217; tanyanya.</p>
<p>&#8216;Aku tidak apa-apa,&#8217; kataku, &#8220;apa yang ku alami, semua cuman angin.&#8221;</p>
<p>Mendengar kalimatku dia tersenyum senang.</p>
<p>Tapi saat aku bertanya tentang vision yang aku lihat, tiba-tiba beliau menutup diri dari pembicaraan lebih lanjut. Dengan kata lain, misiku buyar. Terlebih saat aku bertanya apakah aku boleh tinggal lagi di situ, beliau mengatakan tidak, luluh lantaklah hati ini. Segera aku memberikan dana berupa pisau cukur padanya dengan hormat lalu pamit.</p>
<p>&#8220;Kamu mau pergi kemana?&#8221; tanyanya sebelum aku berbalik.</p>
<p>Aku kembali melakukan kesalahan, seharusnya aku meminta pertimbangan beliau, tapi karena terlanjur kecewa aku cuma menjawab, &#8220;karena tak diperbolehkan di center ini, saya akan mencari center lain,&#8221; dengan bahasa lain, yah udah kalau gak boleh di sini aku juga bisa mencari tempat lain.</p>
<p>Aku terus berlalu, segera naik taksi yang masih menunggu aku untuk menuju Panditara Center di Yangon.</p>
<p>Setiba di Center di Yangon aku cepat berbenah. Keesokan harinya sesuai perjanjian sopir Pak Handaka menjemput aku ke rumah Pak Handaka.</p>
<p>Mula-mula Pak Handaka hati-hati juga, tapi melalui serangkai dialog, sepertinya dia tahu aku masih waras, hehe.</p>
<p>Selang dua hari kemudian diantar sopir Pak Handaka aku ke Shwe Oi Min Center untuk kedua kalinya. aku berpikir, karena Pandita Center telah menutup pintu, mungkin aku bisa mencari jawaban di Shwe Oi Min. Kan Shwe Oi Min dulu juga guru di Mahasi Center.</p>
<p>Aku mengatakan pada U Tejaniya, selama di Panditarama mungkin juga pikiranku sempat &#8216;terganggu&#8217;. U Tejaniya mengatakan, bagus. Meditator kalau terganggu tapi menyadarinya bisa sembuh. Yang susah kalau terganggu tapi tidak merasa, katanya.</p>
<p>Cuman, ketika interviu rame-rame saat aku menanyakan vision yang aku lihat, tampaknya U Tejaniya blank, kamu melamun kali, katanya.</p>
<p>Yup, kayaknya memang bukan di sini jawabannya kataku dalam hati. Aku sangat yakin itu bukan khayalanku. Tamana Kyaw sendiri berulang kali bertanya apa yang aku lihat, sebelum aku melihat apa-apa. Tapi begitu aku sudah melilhat lalu terjadi peristiwa heboh itu, beliau menutup semua pembicaraan dengan saya berhubungan dengan meditasi.</p>
<p>Karena merasa tak akan menemukan jawaban di Shwe Oi Min center, seminggu kemudian aku kembali ke rumah Pak Handaka. Pak Handaka sempat mengusulkan aku ke Pak Au Sayadaw. Tapi aku pikir sedang belajar metode Mahasi dan ada di tengah jalan, sebaiknya aku mencari jawaban dari center metode Mahasi dulu. Untuk itu, aku harus ke Chammy Sayadaw.</p>
<p>Lalu aku berangkat sendiri ke Chammy Center.</p>
<p>Di sana aku minta bertemu guru meditasi yang ada, aku diketemukan dengan U Keti (aku tak tahu spellnya benar tidak).</p>
<p>Aku menceritakan yang aku alami. Mikro organisme yang berlarian di tubuhku, sesuatu yang seperti vacum cleaner menyedot mikroorganisme yang berlarian, dan vision yang aku lihat. U Keti, guru meditasi yang tampak sangat muda itu mengatakan trek saya tak salah. Saat aku bertanya aku mencapai tahap apa? Beliau menjawab, biku tak boleh mengatakan seseorang mencapai kesucian tahap begini dan begini.</p>
<p>Aku bertanya boleh tidak aku melanjutkan meditasi di Chammy center? Boleh, katanya. Tapi, karena paspor aku over stay seminggu, dia mengantar aku ke biku yang biasa mengurus yogi dari Indonesia.</p>
<p>Ternyata aku tak berjodoh dengan Chammy center. Biku itu mengatakan tak bisa membantu. Kalau mau tinggal di Chammy center, saya harus mengajukan permohonan sebelum masuk Myanmar.</p>
<p>Meskipun U Keti sangat ingin membantu, tapi beliau tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mengantarkan aku ke pintu gerbang. &#8220;Tidak apa-apa, saya memang tak berjodoh belajar di sini, saya harus segera kembali ke Indonesia&#8221; kataku.</p>
<p>Saat di Imigrasi, karena overstay aku didenda tanpa ampun sebesar..aku lupa mungkin sekitar 1,5 juta.</p>
<p>To be Continue&#8230;.</p>
<p>Batavia, 1/5 2009  4:42am</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/harpin.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/harpin.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/harpin.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/harpin.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/harpin.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/harpin.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/harpin.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/harpin.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/harpin.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/harpin.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/harpin.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/harpin.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/harpin.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/harpin.wordpress.com/367/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=367&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harpin.wordpress.com/2009/04/30/the-last-moment-at-myanmar-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac9caaf73477463624197c93e41a2d3f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harpin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://harpin.files.wordpress.com/2009/03/teratai.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">teratai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beautiful Vipassana</title>
		<link>http://harpin.wordpress.com/2009/03/15/192/</link>
		<comments>http://harpin.wordpress.com/2009/03/15/192/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 21:35:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harpin</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harpin.wordpress.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[BEAUTIFUL VIPASSANA Sudah dari kecil aku jago berdebat. Boleh dibilang, kalau maunya begini&#8230; tak ada yang bisa merubah jadi begitu. Hebatnya, otak ini seperti sumber inspirasi yang tak pernah habis bagi saya merubah hitam jadi putih atau putih jadi hitam. Jadi, sudah lama aku menyadari tak ada kebenaran absolut. Sesuatu menjadi benar bergantung suasana hati. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=192&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BEAUTIFUL VIPASSANA</strong></p>
<p><strong><img class="alignright size-medium wp-image-196" title="Buddha" src="http://harpin.files.wordpress.com/2009/03/06mm137.jpg?w=199&#038;h=300" alt="Buddha" width="199" height="300" /><br />
</strong></p>
<p><em><strong>Sudah dari kecil aku jago berdebat. Boleh dibilang, kalau maunya begini&#8230; tak ada yang bisa merubah jadi begitu. Hebatnya, otak ini seperti sumber inspirasi yang tak pernah habis bagi saya merubah hitam jadi putih atau putih jadi hitam.</strong></em></p>
<p>Jadi, sudah lama aku menyadari tak ada kebenaran absolut. Sesuatu menjadi benar bergantung suasana hati. Kalau saya menginginkannya benar, jadilah benar. Kalau saya menginginkan salah, jadilah salah. Kata-kata hanyalah permainan logika.</p>
<p>Puncak kesewenang-wenangan saya terjadi saat di kelas 3 SMU 9 Yogyakarta tahun 1992. Mungkin suasana kelas Sosial yang rata-rata cowok bandel dan kompak sebagai landasannya.</p>
<p>Aku mulai berani menggugat guru Sejarah Perjuangan Bangsa dengan frontal.</p>
<p>Sudah rahasia umum, di jaman Orde Baru, semua materi sejarah adalah indoktrinasasi cuci otak tentang sucinya Orde Baru dan hinanya Orde Lama. Dengan mudahnya buku sejarah menyalahkan Bung Karno atas politik Ganyam Malaysia, tetapi melupakan keberhasilannya merebut Irian Barat.</p>
<p>Di tengah semangat 45 guru itu menjelekkan Bung Karno dan Orde Lama di depan kelas, aku intruksi, &#8220;Pak, seandainya kita berhasil merebut Malaysia dan kini menjadi wilayah Indonesia&#8230; mungkin sekarang kita tak akan menyalahkan Bung Karno atas politik Ganyang Malaysianya. Ironinya, keberhasilan yang didapat dari merebut Irian Barat tak pernah dipuji. So, hanya kegagalannya yang dicerca.</p>
<p>Kata penutup saya pada guru sejarah:&#8221;Kalau Orde Baru hanya bisa terus menjelekkan Orde Lama, akan datang suatu Orde berikutnya yang akan menhina-dinakan Orde Baru,&#8221; kalimat pamungkas yang membuat muka guru sejarah itu merah padam dan terdiam seribu bahasa.</p>
<p>Kelas hening sejenak, yang kemudian disambut sorak-sorai kemenangan dari teman-teman sekelas.</p>
<p>Ada banyak event pembrontakkan yang membuat muka guru-guru saya memerah, yang terakhir adalah Study Tour.</p>
<p>Waktu itu kalau tak salah, biaya study tour ke Bali Rp.75.000,- Ada enam kelas, IPA satu kelas, BIOLOGI dua kelas, SOSIAL 2 kelas yang masing-masing kelas terdiri 50 an orang.</p>
<p>Kami berangkat ke Bali dengan model bus gado-gado, anak IPA yang merupakan anak emas mendapat bus ber-ac, yang lain saya tak tahu, sedang kami yang anak SOSIAL-1, yang paling bandel kebagian bus tak ber-ac meski bayarnya sama!</p>
<p>Studi Tour kami antara lain mengunjungi tempat pembuatan arak bali. Tempat wisata yang kami kunjungi beberapanya karena tibanya malam, sudah ditutup, jadi kami tidak masuk dalam arti tak ada pengeluaran di situ.</p>
<p>Sebenarnya dari tahun sebelumnya sudah ada isu sumir pengurus Studi Tour yang korupsi. Yang katanya, habis Studi Tour bisa beli ini dan itu di rumah.</p>
<p>Secara naluri saya menyadari ada yang tak beres, tapi saya juga menyadari tak ada logika membuktikan penyelewengan itu, hingga tiba study tour untuk adik kelas kami tahun berikutnya saat kami di kelas tiga yang diurus guru berbeda, yang ternyata berbiaya sama, Rp.75.000,- Padahal BBM baru naik.</p>
<p>Logikanya BBM adalah komponen terpenting. Kenaikan BBM pasti disusul kenaikan transportasi, hotel, dan konsumsi. Apalagi penyelenggara tahun ini melibatkan travel bonafit, seharusnya biayanya jauh lebih mahal.</p>
<p>Dari logika sederhana itu aku bergerak. Dengan mesin tik tua, aku mengetik logika-logika sederhana diatas, yang isinya diakhiri kalimat &#8220;Oh Guru, Ajarilah kami tentang kejujuran.&#8221;</p>
<p>Kertas itu aku fotocopy, dibaca teman-teman, lalu bersama teman-teman, dicenplungkan lewat jendelah ke kantor kepala sekolah. Tak hanya itu, esoknya aku membawa kertas hvs dan spidol merah-biru yang aku tulis kalimat-kalimat provokatif, lalu ditempel teman-teman di kantin dan sudut-sudut sekolah.</p>
<p>Kami memang bebas bergerak, karena kelasnya paling bandel, kompak tapi tidak bodoh, jadi kami seperti penguasa sekolah. Di tangga menuju kelas kami, di tempel kertas bertuliskan &#8220;Koruptor Dilarang Masuk!&#8221;</p>
<p>Entah karena aksi kami atau bukan, hari itu upacara bendera ditiadakan. Kertas-kertas yang kami tempel dicabut guru. Kami juga mendapat info, guru yang menjadi panitia Study Tour masuk kelas demi kelas mempertangungjawabkan laporan keuangan.</p>
<p>Menjelang istirahat kedua, tibalah dua orang guru yang menjadi panitia ke kelas kami. Dari raut wajah, aku bisa merasakan sikap yang sedikit ketar-ketir, ini kelas singa, Bung!</p>
<p>Guru itu menjelaskan pengeluaran untuk ini-itu.</p>
<p>Saat saya tanya bayarnya sama kok busnya beda-beda yah, Pak. Ada yang pake ac ada yang nggak. Guru itu memberi penjelasan yang tak ada kaitannya bahwa kami harus memaklumi, sopirnya sampai begadang karena ban bocor dan sebagainya.</p>
<p>Aku dengan angkuh dan berkata menghakimi: &#8220;Lho Pak, itu bukan urusan kita, harusnya kita sudah bayar kita harus mendapatkan apa yang kita bayar, kalau tak sesuai kan kita bisa minta dikembaliin uangnya. Lagian, tidak pantas studi tour ke tempat pembuatan arak untuk anak sekolah,&#8221; kataku. Kalimat terakhir ini kurang didukung teman-teman, soalnya itu salah satu kegemaran mereka,he-he.</p>
<p>Guru itu entah menjelaskan apa aku tak mengikuti, ngalor-ngidul tambah tak ada hubungannya. Teman di samping juga mencolek, katanya ada objek wisata yang tak dikunjungi tapi tercatat pengeluarannya. weleh weleh. Tapi ada teman lain lagi mencolek, &#8220;udah-udah kasihan gurunya.&#8221;</p>
<p>Begitulah hari-hari terakhir saya di bangku SMU. Garang dan melelahkan.</p>
<p>Dengan kondisi yang suka berseberangan dengan guru, apalagi tak pernah belajar dari kelas 1sampai kelas 3 SMU, aku heran bisa lulus!</p>
<p>Sifat pemarah dan garang ini masih aku bawa sampai di Jakarta. Meski tubuhku saat itu ceking tak bertenaga, soal gertak-gertakan dengan sopir mikrolet karena bayaran dianggap kurang, menjadi makanan sehari-hariku.</p>
<p>Atau dengan penjual buku di pasar senen yang suka memalak, atau sewaktu sudah punya motor dan menjadi wartawan.. apalagi kalau bukan dengan polisi yang suka mencari-cari kesalahan, prinsipnya sepanjang gue benar.. Fight!</p>
<p>Jadi sebenarnya heran juga, dengan segala kekonyolan ini, aku bisa hidup sampai hari ini.</p>
<p>Bahkan setelah saya sempat jadi samanera dan lepas jubah untuk bekerja di kantor lagi, sifat garang ini masih tetap ada. Prinsip saya sepanjang tak diganggu, saya tak akan mengganggu. Tapi kalau saya diganggu, siapa pun dia, hajar, apalagi kalau sekedar  berdebat di meja rapat, kata dan logika hanyalah mainan usang saya.</p>
<p>Apakah keberanian dan kemenangan ini membuat aku bahagia?</p>
<p>Terus terang tidak. Terkadang dalam hatiku, aku tak menginginkan semua ini. Aku tak menghendaki mereka bersedih, tapi di sisi lain aku tak bisa mengorbankan diriku untuk kemenangan mereka. Aku tipe idialis yang ingin terlihat hebat.</p>
<p>Namun, beruntunglah meski agak terlambat, seiring pertumbuhan usia aku menyadari &#8220;Yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu.&#8221;</p>
<p>Mengingat semua kelakuanku dulu, yang bersisa hanyalah penyesalan mendalam pada orang-orang yang pernah aku sakiti. Kini aku berterimakasih dan menyadari, mereka yang pernah menjadi guru saya pasti memiliki kesabaran luar biasa menghadapi murid seperti saya.</p>
<p>Insight Meditation, Meditasi di Myanmar banyak merubah saya.</p>
<p>Sebagai contoh, dulu saya tak pernah betah duduk di belakang meja. Kini, sudah tiga tahun lebih saya setiap hari berada di tempat dengan rutinitas yang sama dan saya merasa biasa saja.</p>
<p>Dulu, kalau pacaran, saya sering berantem karena cemburu, curiga, prasangka dan mau menang sendiri, kini dua tahun lebih pacaran adem ayem saja .</p>
<p>Yang paling penting, kini saya memiliki begitu banyak orang-orang baik di sekitar saya. Mungkin karena aku tak biasa menebar api kegarangan dan kemarahan lagi di sekitar saya.</p>
<p>Batavia 16 Maret 2009 (4:00 am)<br />
Peace,<br />
Harpin</p>
<p>sumber: http://harpin.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/harpin.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/harpin.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/harpin.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/harpin.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/harpin.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/harpin.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/harpin.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/harpin.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/harpin.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/harpin.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/harpin.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/harpin.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/harpin.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/harpin.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=192&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harpin.wordpress.com/2009/03/15/192/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac9caaf73477463624197c93e41a2d3f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harpin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://harpin.files.wordpress.com/2009/03/06mm137.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">Buddha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The CRAZY MIND (2)</title>
		<link>http://harpin.wordpress.com/2009/02/27/the-grazy-mind-2/</link>
		<comments>http://harpin.wordpress.com/2009/02/27/the-grazy-mind-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 21:50:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harpin</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harpin.wordpress.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[The CRAZY MIND (2) Pernolakan pada  makhluk mengaku Avalokitesvara berlanjut di kuti. Aku seperti bertempur dalam diri, seolah tubuhku  punya dua sopir. Aku, sopir resmi, dan makhluk mengaku Avalokitesvara sebagai sopir ‘tembak’ hehe. Terjadi pertumbuhan  sel kontrol baru di luar ragaku. Susunan saraf abstrak terbentuk perlahan menempel dari bahu sampai jemari, fungsinya mengontrol tangan diluar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=182&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong>The CRAZY MIND (2)</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><img class="alignright size-medium wp-image-183" title="b_hist25" src="http://harpin.files.wordpress.com/2009/02/b_hist25.jpg?w=222&#038;h=300" alt="b_hist25" width="222" height="300" /></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em><strong>Pernolakan pada  makhluk mengaku Avalokitesvara berlanjut di kuti. Aku seperti bertempur dalam diri, seolah tubuhku  punya dua sopir. Aku, sopir resmi, dan makhluk mengaku Avalokitesvara sebagai sopir ‘tembak’ hehe.</strong></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Terjadi pertumbuhan  sel kontrol baru di luar ragaku. Susunan saraf abstrak terbentuk perlahan menempel dari bahu sampai jemari, fungsinya mengontrol tangan diluar kehendakku.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Makhluk itu mengajarkan tak usah makan nasi. Aku sudah hebat. Cukup konsentrasi membentuk bulatan di udara lalu menelannya. Makhluk itu juga suka main mudra di titik di tengah alis kedua mata, seperti tengah menunggu sesuatu.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Terus terang, ini membuat aku khawatir, apa yang ia tunggu? <em>Whats next?</em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Dalam kondisi ini, pilihan kooperatif atau tidak jadi pertimbangan.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Beruntunglah, Buddha Dharma pegangan hidupku mengajarkan untuk menjadi tuan atas tubuh kita. Dengan pertimbangan itu, aku  tak mau dijadikan alat.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Pembrontakan ini tak mudah, terlebih makhluk itu melakukan perlawanan agar bisa memakai tubuhku.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Dalam kuti saat jam istirahat, aku berusaha ambil kontrol habis atas tubuhku. Berusaha semindful mungkin, bergerak super lambat berpegangaan pada lemari dan sebagainya, kesadaran penuh pada semua pori-pori tubuhku, terbongkok-bongkok melakukan <em>kayanupasana, mindful </em>atas tubuh ini.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Seorang diri dalam kuti aku benar-benar seperti sakit jiwa. Entah benar atau tidak, merasakan ada yang terus mengawasi aku, kalau-kalau aku lengah dan berusaha mengendarai lagi.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Meditasi Malam</strong></p>
<p class="MsoNormal">Ketika meditasi malam, tiba-tiba aku merasakan makhluk sekecil debu terus menerus keluar dari tulang sayap bahu sebelah kiri. Merasakan hal ini aku ketakutan, lalu melakukan meditasi jalan.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Saat meditasi jalan pun, aku tetap merasakan gerakan-gerakan <em>small things</em> itu. Ketakutanku pada si Penempel belum usai, sekarang apalagi?</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Dengan ketakutan amat sangat, aku mendekati kursi  Sayadaw U Panditarama biasa duduk berceramah, berharap <em>miracle</em> terjadi untuk melindungi diriku.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Dan, aku benar-benar mendapatkan keajaiban. Berdiri di samping kursi itu, <em>small thinng </em> lenyap. Menjauh dari kursi Sayadaw,  gerakan di bahu terasa lagi. Begitu aku mendekati kursi sayadaw, <em>small thing</em> itu lenyap lagi. Aneh?</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Menyadari ini, aku bersujud ketakutan di samping kursi sayadaw. Aku merasakan gerakan-gerakan <em>small thing</em> itu hilang, sepertinya kesedot. Yah, kesedot ke atas?</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Aku melihat ke atas, ternyata di atas kursi sayadaw biasa duduk  terdapat eksos, kipas angin menyedot udara dari dalam dan membuangnya keluar.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Jadi <em>small thing</em> hilang kesedot eksos?! <em>Nice!</em> Aku keasyikan meditasi duduk di dekat kursi sayadaw. Merasa terlindungi.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Pertempuran dalam Gelap Malam</strong></p>
<p class="MsoNormal">Saat meditasi malam berakhir, aku kembali ke kuti. Tapi berakhirnya meditasi malam bukan berarti berakhirnya ketakutanku.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Bahkan ketakutan lebih besar telah menunggu. Karena menjelang tidur, aku merasakan bulatan yang terbentuk dari titik di tengah dua alis melompat bagai kelereng, mengenai jubah yang aku jadikan selimut.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Tapi saat itu aku belum tahu sumber bulatan itu darititik diantara dua alis mata. Aku berpikir bulatan yang melompat itu bersumber dari sesuatu di luar aku. Alien, hantu dan sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Di tengah hutan, di tengah malam gelap dan sunyi, setelah pengalaman makhluk kecil berlarian keluar dari tulang sayap bahu, kini mendapati ada yang melompat mengenai jubah menjelang tidur, ketakutan ini makin jadi.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Celakanya, semakin takut aku, semakin liar imajinasi berkembang.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Saat itu, aku tak menyadari ini. Tiap imajinasi kegelapan datang, yang lahir dari ketakutanku, aku melawannya dengan menciptakan imajinasi suci sebagai perisai.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Celakanya, bermain dengan imajinasi, kita seperti bermain dengan sumber air samudra yang tak pernah kering. Selalu ada next dan next, sampai kita benar-benar kelelahan.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Oleh pikiran naib mengalami peristiwa sejenis dengan malam Pertapa Gautama menghadapi Mara, pikiran liar makin jadi, aku harus menaklukan Mara… agar jadi Buddha <em>in this very moment.</em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Maka kian serulah pertempuran-pertempuran itu.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Oleh batin bening selama meditasi, tak sulit bagi kita melihat jelas melalui mata batin apa yang melintas di pikiran, layaknya melihat dengan mata biasa.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Tak aku sadari, penglihatan-penglihatan ini  bersumber<span> </span>dari pikiranku. Rumusnya  sederhana: Selama aku bertindak dan bertempur dengan dan berdasarkan pikiran, maka aku selalu dalam kekuasaan pikiran itu. Gak bakalan menang!</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Setelah sekian lama, oleh ketakutan yang makin jadi, aku mengetuk kuti sebelah, yang baru dihuni pemeditasi baru tiba dari Jepang. Aku mengatakan ada hantu mau ganggu aku, aku minta ijin <em>nebeng</em> di kutinya.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Selesai menggelar matras dan tidur di lantai kuti sebelah, saat berbaring bulatan dan gerakan itu muncul, tapi kini aku lebih tenang, karena tak sendirian.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Satu hal yang membuat aku heran, ketika aku tertidur kecapean, bulatan-bulatan itu tak mengangguku. Aku baru merasaakannya lagi saat  terjaga….</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Semua itu eksis hanya kala aku terjaga dan hilang saat aku tertidur… so<span> </span>semua bersumber dari diriku? Tanyaku dalam hati. <em>That’s only in my mind?</em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Persis kisah Pangeran Sidharta mencapai Kebuddhaan menjelang fajar, kesadaran ini bagai setetes embun dini hari, luar biasa indahnya. Dengan kelegaan yang ada, selanjutnya aku tertidur.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Di sisi lain, merunut kisah Buddha Gotama yang sukses menaklukan Mara, aku berpikir telah mencapai Kebuddhaan, Arahanta… seperti pertapa Gotama. Pikiran yang tanpa aku sadari, merupakan jebakan baru dalam latihanku.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Tobe continue, hehe….</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Batavia, 28 Februari 2009 (4:22am)</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Harpin</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/harpin.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/harpin.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/harpin.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/harpin.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/harpin.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/harpin.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/harpin.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/harpin.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/harpin.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/harpin.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/harpin.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/harpin.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/harpin.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/harpin.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=harpin.wordpress.com&amp;blog=6028564&amp;post=182&amp;subd=harpin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harpin.wordpress.com/2009/02/27/the-grazy-mind-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac9caaf73477463624197c93e41a2d3f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">harpin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://harpin.files.wordpress.com/2009/02/b_hist25.jpg?w=222" medium="image">
			<media:title type="html">b_hist25</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
