The Last Moment at   Myanmar (2)

chakraasis

Aku diarahkan bagian pengecekan paspor ke sebuah ruangan. Meski aku menjelaskan ke Myanmar atas undangan Pemerintah Myanmar, mengikuti Word Buddhist Summit, tapi over stay karena berada di center meditasi, dan saya biku, bagian imigrasi masa bodoh.

Berapa hari over stay aku dihitung, lalu diwajibkan membayar baru diperbolehkan menuju pesawat. Poor day.

Pesawat mendarat di Bandara Changi, Singapura. Ada rekan Hendritanti (sekarang Biku Nyanagupta) menyambutku. Malam itu aku menginap di kontrakannya. Untuk keesokan hari melanjutkan perjalanan ke Indonesia.

Rekan Hendritanti menjagaku sangat baik.  Untuk makan, biar kita makan di tempat umum, dia mewanti-wanti penjualnya untuk tak menggunakan daging, yang sebenarnya bukan pantangan aku, but as long we can follow it, its doesn’t matter.

Dia juga selalu membuka jalan untuk aku saat berjalan di keramaian, tapi saat aku minta diperlakukan biasa saja, dia juga easy going. Take care me as friendly monk, hehe. Dia juga mau membayar penuh tiket pesawat aku ke Jakarta. Tapi aku menolaknya, aku masih ada sisa sedikit uang, kamu nambahin kekurangannya saja, kataku.

Setiba di Indonesia, aku mengontak salah satu biku senior yang punya center di gunung.

“Namo Buddhaya Bhante, Ini Nyanachatta. Aku baru pulang dari Myanmar, Aku butuh bantuan Bhante, sepertinya meditasiku mengalami gangguan,” kataku to the point.

Ajaibnya, ternyata bhante itu sedang ‘turun gunung’ dan berada di Jakarta. “Udah tunggu aja, nanti sekalian aku jemput ke sana,” katanya.

Wah, kali ini sebuah kehormatan besar lagi bagiku. Biku sesenior dia pas lagi di Jakarta dan menjemput aku langsung di Ekayana.

Saat di dalam mobil, biku senior itu bertanya ”dalam mobil  begini pusing gak?”

Ups, dia sangat mengerti kondisiku, kataku dalam hati. Ini yang kucari, “Mual banget Bhante,” kataku.

Saat umat yang ada dalam mobil ikut berbicara, biku senior itu mengalihkan pembicaraan seolah tentang hal lain, jadi komunikasi ini cuma dua arah antara aku dan dia.

Singkat cerita kami sudah sampai di centernya di gunung. Biku senior itu berguman, “Selalu saja begini kalau udah mau jadi.” Beliau juga kaget saat tahu aku baru satu bulan di Forest Center Myanmar, “kirain sudah berapa tahun,” katanya.

Aku sekilas menceritakan kondisi center di Myanmar tempatku berlatih. Disiplin ketat.
Entah karena cerita ini atau bukan, di sini biku ini lalu memperlakukan aku dengan sangat keras… bahasa lainnya dibentak terus. Agak syok juga, hehe. Belakangan hari saat tidak di center biku senior ini lagi, dan bertemu salah satu yogi yang ada di sana saat itu, yogi itu bercerita mereka sempat komplain ke biku senior itu, kenapa memperlakukan aku begitu keras. Dalam pandangan aku, mungkin ada misundestanding antara disiplin dan bentakan.

Di Myanmar, guru kami begitu lembut dan tak pernah membentak. Memang disiplinnya sangat ketat dan seolah bisa membuat kita tak bisa bernapas, tapi fibrasi cintakasihnya yang kuat, rasa menyayanginya yang besar bisa kami rasakan dalam setiap sesi pertemuan yang terbatas.

Ketika biku senior ini, mungkin surprise dengan kemajuanku yang hanya satu bulan lebih di center Myanmar yang ketat ingin mengaplikasi system ini di tempatnya, suasana center berubah menjadi medan ospek. Disiplin tanpa loving kindness membuat center menjadi hanya medan bara. Dari center yang damai, saya tiba-tiba mendapati tiap hari harus diomelin.

Seperti ketika makan siang: Di Panditarama Forest Center, Myanmar, setiap moment adalah meditasi. Saat makan sekalipun, kami memasukan suap demi suap nasi ke mulut dengan sangat pelahan, mengunyahnya dengan penuh kesadaran, merasakan asin, manis, panas dan dingin makanan yang tercerap indra  lidah kami.

Agaknya belakangan aku tahu, biku senior ini juga pernah berada di Soeb  Oo Min Center Myanmar, dimana tidak menyarankan melakukan segala hal terlalu lambat. Mungkin karena hal inilah, siang itu biku senior itu membentak aku lagi. “Apa sih yang kamu lakukan? Makan begitu lambat! Kamu menikmati makanan itu kan?”

“Tidak Bhante,” kataku pelan setelah ia menghabiskan unek-uneknya. Mendengar  jawaban aku, ia melihatku untuk mendengar alasan lebih lanjut. Dengan memberanikan diri, untuk tak berkesan menggurui, aku menjelaskan aku sedang melakukan meditasi dalam makanan.

“Meditasi gimana?! Kamu pasti menikmati makanan itu, enak kan?!” hardiknya.

“Tidak Bhante,” kataku hati-hati dengan sedikit menunduk. “Aku mengawasi rasa asin, asam, manis, panas atau dingin yang kurasakan dari makananku,” aku tak menikmatinya,” kataku.

Syukurlah, meski tampak keras, biku senior itu bisa menerima alasanku. Beliau tampak berpikir dan tak memarahiku lagi. Namun, suasana makan tentu tak mengenakkan lagi.

Meski tahu bahwa aku sedang mendapat gangguan dalam meditasi, aku mencoba selektif terhadap resep yang diberikan padaku. Berhati-hati untuk mencari tahu kondisi batinku ada dimana, dan resep apa yang cocok untukku. Maka ketika biku senior itu diawal kedatanganku, memberikan foto-foto mayat, untuk dilihat lalu diingat dalam batin katanya, tentu tak aku jalankan.

Setahu aku, yang aku pelajari adalah meditasi vipasana. Dalam vipasana kita tak menciptakan atau menghilangkan sesuatu. Jadi agak aneh kalau sekarang aku harus memasukkan mayat-mayat ini ke dalam batinku. Melihatnya, lalu menutup mata membayanginya di dalam batin.

“Nanti aku ajarkan yang lainnya lagi,” katanya.

Namun, tak etis kalau aku menolak di hadapan biku itu. Aku  bilang ya dan menyimpan foto itu, tetapi aku tetap praktek meditasi dengan metode yang sudah aku jalani di dalam kutiku.

Maka bisa dipastikan, esok harinya ketika ditanya hasil meditasiku, apakah sudah ada gambaran mayat itu di dalam batin, aku menjawab belum, biku senior itu tampak mangkel. Terlebih saat aku tanyakan seperti ada tangan robot, tangan tambahan yang menempel di saraf-sarafku.

Langsung saja, pagi itu aku menjadi bulan-bulanan bentakannya. Agaknya dia nge kalau aku tak menjalankan arahannya. Yah, mohon maaf, mungkin aku termasuk pembelajar yang selektif. Meski kadang bisa merugikanku, tapi seringkali itu bermanfaat untukku. “Pantas kamu disuruh keluar dari center. Keras kepala. Disuruh begini malah jalanin yang lain. Lama-lama kamu bisa gila! Denger yah, jangan memasukkan nafas lewat mulut. Nafas masuk lewat hidung harus keluar lewat hidung.”

Astaga, inilah untungnya belajar dengan biku senior, ada point-point yang tak kita sebutkan, tapi dari jam terbangnya yang tinggi, beliau bisa tahu dan menjelaskan.

“Maaf Bhante, aku salah… tadi pagi aku memasukkan nafas lewat mulut dan mengeluarkan lewat ubun-ubun, aku merasa tubuh ini sepertinya dikuasai orang lain.”

“Hah, kamu bisa gila!”

“Maaf Bhante, aku tidak mengulanginya lagi.” Kataku bersujud  tiga kali. “Makasih banget, Bhante.”

Setidaknya biku senior ini mengingatkan dasar-dasar meditasi yang ternyata aku lepaskan. Selama mengamati getaran-getaran tubuh yang terus berpindah, aku sudah terbawa terlalu jauh. Aku bisa merasakan getaran perputaran di titik anus, perut, jantung, hati,tenggorokan, jidat dan ubun-ubun yang bergetar bersamaan, lalu nafas yang masuk lewat mulut aku keluarkan melewati pusaran-pusaaran itu dan berakhir di ubun-ubun seperti helikopter, hehe.

Meditasi yang aku lakukan dengan mengamati pusaran-pusaran itu tanpa aku sadar membuat aku mengamati semua sensasi abstrak yang aku rasakan. Hal sangat sepele yang dulu aku tahu untuk mengabaikan/cukup tahu saja sensasi abstrak colekan di kaki, seperti ada yang berusaha menempel sehingga punggung terasa berat dan sebagainya, telah aku abaikan.

Aku terjebak dan tak bisa membedakan menyadari dengan mengikuti. Dalam hal meditasi, dua kata ini memiliki makna dan akibat yang begitu fatal.

Aku menyadari sepertinya kekacauan ini dimulai dua malam terakhir saat aku di Forest Center Myanmar,ketika aku mengikuti sensasi colekan di kakiku.

Terima kasih Bhante, from that moment, kondisi meditasiku membaik. Aku berhutang sangat banyak pada Bhante.

Tetapi di sisi lain, aku tahu, metode yang aku pelajari berbeda dengan metode di center biku senior yang ada di gunung ini, yang tampaknya menurutku lebih ke arah Samatha Bhawana.

“Kalau aku menutup mata, rasanya tak seperti sedang menutup mata biasanya, tapi seperti sedang ada di alam lain, “ kataku memulai pembicaraan.

“Itu alam tanpa batas,” kata biku senior itu.

Point terakhir yang ingin aku tahu adalah, gambaran yang aku lihat dulu, permadangan yang sangat indah, kuda terbang yang mengangkut penumpang di awan itu apa?

Ketika keesokan harinya aku tanyakan pada biku senior itu, beliau berkata” kamu melamun kali?”

“Yang aku lihat bukan dalam kondisi duduk meditasi, Bhante. Tapi saat mata terbuka begini. Itu seolah ada di jidat, bergerak seperti film, kalau diarahkan ke matahari, gambar itu makin terang…”

Bhante itu tampak terdiam. Ia tak mengucapkan apa-apa. Kesimpulannya, tak ada jawaban di sini.

Genap seminggu, karena merasa yang aku dapat cukup, sore itu aku minta ijin pada biku senior itu untuk pulang ke Jakarta.

Aku bersujud tiga kali mengucapkan rasa terimakasih yang amat sangat. Beliau telah mengingatkan aku sebuah masalah sangat simple dan dasar, tetapi peringatan itu telah menyelamatkan aku.

“Budi ini tak akan bisa aku balas, Bhante,” sujudku pada beliau.

“Ke Jakartanya naek pesawat saja, jangan naek bis” pesan beliau tahu aku belum bisa berada di satu ruangan dengan banyak orang, pasti aku akan mual. Setidaknya pesawat bisa mempercepat semuanya.

Bersambung  gak yah? Hehe….

Jakarta 15 Agustus 2009 (10:56 pm)

Harpin

Sumber: harpin.wordpress.com


The Last Moment at Myanmar (1)

Still Mind, 50cm X 70cm, oil on canvas

HAPPY VAISAKA DAYS, MAY ALL BEING BE ENLIGHTENING AS LORD BUDDHA

Bagi kami yang berlatih Vipassana, terlebih metode Mahasi di Panditarama Forest Center, rasa sakit, jenuh, adalah makanan sehari-hari yang harus dilalui di awal-awal latihan.

Bayangkan, dari jam 3 pagi sudah harus di aula utama untuk meditasi. Diselingi break makan pagi dan siang, mandi sore, praktis hari-hari kami hanya meditasi dan meditasi.

Semua, tahap demi tahap bisa aku lalui hingga aku menikmatinya, terlebih oleh pengalaman di luar nalar yang aku alami, yang mana semua harus diakhiri oleh kekacauan ciptaanku sendiri.

Kekacauan yang kulalui mencapai klimaks, saat di suatu pagi, meditasi jalan di bawah terik matahari pagi, sengatan2 elektro dari cahaya matahari ‘membersihkan’ partikel2 di ubun-ubun kepalaku.

Amazingly thats i cannot believe, meski aku pernah punya ilmu kuda lumping, mengalami mimpi buto muncul dari dinding kamar aku 2 kali (pertama di ekayana-Jakarta, kedua di Tushita Meditation Center-Dharamasala,India), saat aku bangun ada cahaya sebesar sinar senter bergerak di kamar aku, lalu hilang. Tapi pagi ini yang aku alami benar-benar membuatku takjub tak bisa berkata-kata.

Setelah ubun2ku bersih, di jidatku muncul vision. Vision ini berbeda dengan vision ketika duduk meditasi mendalam. Vision saat duduk meditasi mendalam sifatnya samar-samar, seperti mimpi. Atau bahasanya ‘seperti’ melihat Kwam Im. ‘Seperti’ melihat Buddha, yang sifatnya seolah-olah… samar-samar seperti mimpi, begitu kita sadar gambar itu tak ada lagi.

Seperti juga di awal-awal saya tertarik meditasi dan sering berada di ruang meditasi Ekayana. Suatu kali saat mau meditasi di ruang itu aku terkaget-kaget. Ada rupang 1000 Armed Chenrezig/Kwam Im berwarna coklat Tibetan style di ruangan itu yang biasanya hanya terdapat rupang Buddha putih zen style. Sempat tak percaya dengan apa yang ada di hadapanku aku mendekati rupang Chenrezig itu, meraba dan memastikan its real?

Bukan apa-apa, waktu meditasi kemarin aku ‘seolah-olah’ melihat rupang Avalokitesvara itu, persis, plek. Kehadiran rupang ini mempertegas bentuk dan gambar yang ‘seolah-olah’ aku lihat dalam meditasi kemarin.

Saat aku ceritakan ke guruku terkasih Bhante Dharmavimala, menurut beliau, ruang meditasi ini memang spesial. Di Ekayana yang awalnya dimulai hanya dari beberapa ruko, sudah menjadi rahasia umum, ruangan-ruangan yang ada bersifat multifungsi dan banyak dijebol untuk mencari konfigurasi terbaik. Hanya ruang meditasi di sebelah kantor Bhante Aryamaitri saja dari awal dibangun tak pernah dimanfaatkan untuk ruangan apapun selain ruang meditasi.

Di ruangan ini pulalah, air mata dan seduh sedan saya pernah bersahutan saat vision my mom and his suffering live muncul di meditasiku.

But, sekedar info, kemarin setelah `3 tahun tak muncul, aku tiba-tiba mampir ke sana. Tebak yang kulihat? Ruangan ini akhirnya jebol juga menjadi kantor, hanya altarnya tetap di posisi dan tak diganggu-gugat. Yah, everything is impermanen, anicca.

Menurut Bhante Vimala, ruangan meditasi dipindahkan ke atas, ke lantai empat.

Kembali ke vision terbaru ini. Kali ini bukan vision ‘seolah-olah’ seperti pernah aku alami. But this vision is very real, seolah-olah jidatku menjadi proyektor film 3 dimensi seperti di Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah.

Lazimnya vision meditasi yang aku alami bersifat ‘seolah-olah’ saat kita ‘terjaga’ vision itu hilang, sehingga tetap menjadi vision ‘seolah-olah’ melihat ini dan itu.

Nah, vision yang ini seperti tercetak di jidat. Begitu kita mengarahkan pandangan ke tempat yang pencahayaannya kuat, lampu atau matahari, vision yang terlihat di kening kita semakin kuat dan jelas. Jadi di saat mata kita melihat orang dan sebagainya di depan kita, di jidat kita juga sedang berlangsung pemutaran gambar 3 dimensi full color. Seperti tengah menonton film saja.

Benar, seperti menyetel film 3 dimensi. Karena bila konsentrasi kita lepas dari fim 3 dimensi itu ke arah lain,misalnya berbicara dengan rekan dan sebagainya, gambaran itu hilang. Begitu kita melihat apa yang ada dalam jidat lagi, gambaran itu muncul, reply dari awal.

Vision apa yang aku lihat?

Ada sebuah ruangan emas. Di dalamnya sebuah rupang emas duduk di singasana emas dengan bantalan merah. Arca emas dan singasananya terus berputar perlahan seperti kita sedang bekerja dengan program desain 3 dimensi. Aku mengamati Arca itu, bukan Buddha, tapi seperti Tibetan Deity. Belakangan, jauh setelah peristiwa itu saat aku mencari jawaban di internet, aku mendapat gambaran sepertinya  arca itu gambaran Guru Rimpoche/ Padmasambava.

Selanjutnya ada perpohonan dan air mancur yang sangat indah. Lalu di langit ada kuda terbang yang ada orang menungganginya terbang di awan-awan.

Darimana gambaran itu muncul? Kalau dibilang imajinasi saya, rasanya saya tak pernah mengkhayalkan kuda terbang. Padmasambava apalagi, Selama ini yang saya mengerti cuma Buddha dan Kwam Im.

Selain vision itu, di saat bersamaan terdapat sengatan elektrik yang bekerja dari ubun-ubun ke titik-titik konsentrasi yang dominan di tubuhku. Beberapa partikel kecil dalam tubuh aku yang beberapa hari ini bisa aku rasakan pergerakannya, bberhamburan ‘menyelamatkan’ diri saat sengatan elektrik ini muncul. karena sumber elektrik ini dari atas kepala, partikel-partikel kecil ini lari ke bawah. Ada yang keluar lewat mulut menjadi seperti sendawa, lewat lubang pantat menjadi kentut dan banyak yang lari keluar melalui ujung kaki.

Yang tak berhasil melarikan diri terkenal sengatan elektrik ini tertarik ke atas keluar dari ubun-ubun, lalu aku bisa merasakan pecikannya yang jatuh ke wajah aku seperti ketombe, bergerak, menimbulkan rasa gatal lalu lenyap tak bebekas.

Setelah munculnya sengatan ini, sangat mudah bagiku masuk dalam meditasi mendalam. Mungkin inilah sebabnya, U Tamanakyaw Sayadaw, guruku terkasih terakhir kali interviu sempat 2 kali bertanya ‘apa yang kamu lihat?’, waktu aku bilang tak lihat apa-apa, dia bilang mungkin belum bersih. Lalu beliau tanya aku duduk meditasi berapa jam? Aku jawab bisa 3 jam. Beliau mengingatkanku untuk duduk 1 satu jam dan jalan 1 jam, ganti-ganti, tak boleh duduk lama-lama.

Aku merasakan sengatan elektrik itu terus bekerja ‘membersihkan’ tubuhku inci percinci pada setiap sel darahku. Aku menyebutnya ‘membersihkan’ karena ia bersifat seperti vacum cleaner, menyedot habis sumbatan-sumbatan dalam sel darahku lalu membuangnya melalui ubun-ubun.

Celakanya, dalam kondisi ini aku tak memiliki tempat berbagi atau bertanya. Jadwal interviu dengan sayadaw 2 hari lagi. Aku lost kontrol terbawa pada kenikmatan sekaligus kecemasan apa yang aku alami.

Setelah break makan siang, aku duduk meditasi dengan sangat nyaman dan atusias, akhirnya… aku bisa mencapai arahat juga dalam kehidupan ini kataku dalam hati. Secara perlahan tapi pasti peristiwa luar biasa ini menghilangkan kewasapadaan dan kesadaranku. Sambil duduk meditasi aku terus mengawasi getaran dominan dan sengatan-sengatan elektrik itu. ‘Pembersihan’ dalam tubuh kasarku sedang berlangsung, kataku dalam hati. Saat itu aku seperti merasakan ada sekumpulan partikel yang berusaha mencenkram habis tulang belakang di pundakku. Aku berusaha konsentrasi mengarakan sengatan elektrik itu membersihkan partikel-partikel itu. Mungkin inilah cenkraman setan-setan kebodohan yang telah berlangsung sekian abad yang membuatku terlahir dan terus terlahir lagi, kataku dalam hati. Aku tenggelam dalam perang di dalam tubuhku ini dan takut melepaskan sedikit saja konsentrasiku, aku takut terjadi sesuatu tak diinginkan apabila aku lepas konsentrasi.

Bahkan hingga tiba saatnya U Panditarama memberikan Dharma Desana aku tak rela bangun dari meditasiku.

Biasanya, sebelum U Panditarama tiba, biku pengawas mengingatkan kami merapikan jubah kami. Melihat aku terus saja bermeditasi ia berusaha membangunkanku, ‘bangun-bangun Sayadaw sebentar lagi tiba,’ katanya. Tapi aku bergeming. Sekian lama melihat aku tak juga bergerak, dia mendorong tubuhku, dan aku merelakan diriku jatuh oleh dorongannya tanpa merubah posisi meditasiku.

Suasana tentu heboh. Aku segera dibopong ke kuti di dekat meditation hall. Di sana mereka mengira aku kesurupan. Aku dibacain doa, disembur dengan air, dan terakhir matanya dimasukkan cairan-cairan dan daun-daun pedas agar sadar dan bangun dari meditasiku.

Haha, usaha mereka tak membuahkan hasil. Aku mindfull pada tubuhku. Begitu cairan pedas itu menyentuh mataku, ia menjadi objec dominan. Aku cukup mengamati saja, begitu aku mengamati getaran dominan di mataku, getaran elektrik itu mencabut habis gerakan-gerakan dominan di situ, hasilnya ajaib..mataku tidak perih sama-sekali.

Berulang kali mereka melakukan hal itu tanpa hasil, hingga tiba utusan yang merupakan penerjemah U Tamana Kyaw Sayadaw. Kata Ibu itu, sayadaw bilang kesadaranku kuat, jadi biarkan saja aku tak mungkin kerasukan. Aku diberi waktu libur 2 minggu untuk tak mengikuti meditasi. Aku boleh jalan-jalan dan sebagainya. Aku juga diberi seorang dayaka. Untuk makan, aku tak perlu ke dining hall, akan diantar dayaka.

Di Forest Center sekelas Panditarama, ini kemewahan luar biasa bagi biku baru seperti aku. Selain itu, mungkin untuk jaga-jaga cuci dosa, ibu itu mengatakan aku sebelumnya habis dari India dan mempraktekan metode lain, selain itu bahasa inggrisku buruk, jadi mungkin terjadi salah komunikasi, untuk itu ia minta seorang yogi dari Indonesia mendampingi aku.

Harapanku satu-satunya agar bisa bertemu U Tamana Kyaw tak terpenuhi. Seandainya beliau sendiri yang datang dan memintaku bangun, mungkin akan aku lakukan. aku begini lebih karena tak berani melepas konsendtrasi dari sengatan itu dan tak memiliki tempat bertanya.

Sengatan itu begitu hebat menyedot habis sensasi dalam tubuhku, termasuk rasa sakit. Jadi tak heran, hari itu aku meditasi dari jam 2 siang sampai jam 19.30 malam tanpa merubah posisi. Itupun setelah aku diangkut dan dimasukkan dalam truk dalam posisi meditasi ke kutiku, dan mereka mengancam, kalau aku belum mau bangun juga akan disiramin air. Yah, udah ngalah ajalah, aku yang dipaksa tidur di ranjangku akhirnya membuka mata dan merebahkan diri. Gila cing, tubuh aku rasanya ringan dan rileks banget, just like a baby. Lebih terkejut lagi saat aku tanya jam berapa? Mereka bilang sudah 19.30. Ha? Aku kira masih sore!?

Malam itu aku tidur ditemani seorang dayaka. Aku kasihan melihat dia menggelar tikar di depan kuti, aku memintanya masuk tidur di kutiku, dia tak berani.

Keesokan harinya aku tetap bangun pagi dan meditasi. Anehnya, sekujur persendianku rasanya memiliki per. Terutama pada lutut dan siku tanganku. Perubahan fisik juga mulai terasa, jari-jariku menjadi lurus-lurus dan bahkan jempol jariku anehnya bisa melengkung ke atas.

Diluar itu, kini seorang yogi dari Indonesia menemaniku. Mungkin karena satu negara, apalagi beliau juga kenal Pak Handaka sebagai penyokong saya di Myanmar, aku merasa mendapat teman curhat. Dia tampak bersikap baik, tapi juga memberi masukan yang menciutkan nyaliku. Dia mengatakan aku tak boleh merepotkan orang, sampai harus diangkut dengan mobil ke kuti, disediakan dayaka, makan diantar segala. Kalimat-kalimatnya ini membuat aku merasa sangat bersalah, takut dan sebagainya.

Sorenya dia mengajak aku jalan-jalan. Saat melewati sebuah pohon di depan front office, aku bisa merasakan udara yang bergerak aktif masuk ke telingaku. Buzz!  Masuk ke dalam perutku, buzz! Lalu keluar lagi lewat kuping, buzz!

Malangnya aku tak bisa menceritakan ini pada siapa-siapa. aku merasakan tubuhku penuh angin, yang keluar masuk seenaknya. Aku rasanya hampir tak bisa bernafas karena tekanan angin-angin ini dan ketakutanku yang kian menjadi.

Aku coba mengatakan pada yogi itu, kalau pintu sudah terbuka dan aku tak bisa mengendalikannya, angin-angin ini bebas keluar masuk tubuhku seenaknya. Tanpa aku sadari, sepertinya yogi ini makin memandang minor pada diriku. Padahal aku mempercayainya dan menganggap dia sahabat dan saudaraku satu-satunya saat itu. Malamnya, karena ketakutanku aku memilih menginap di kuti yogi itu. Dalam kondisiku yang labil, aku memang berpikir dia sebaik Pak Handaka untuk menjaga aku.

Tapi harapanku sepertinya menjadi bumerang. Keesokannya, mungkin gara-gara menginap di kutinya, dan mungkin juga dari laporannya tentang ucapanku yang aneh-aneh, aku dipanggil oleh Sayadaw. Informasi ini tentu aku dapat dari yogi itu. Bahwa aku tak boleh lagi tinggal di situ. Dia akan mengantar aku ke Yangon. Nanti kalau ketemu Sayadaw kamu jangan bicara…. mereka tak mau bicara lagi dengan kamu tentang meditasi, katanya. Dari sikapnya aku menyadari, kepercayaanku padanya ternyata salah.

Saat ini, tiba-tiba dialah juru bicaraku, di sisi lain sebagai juru bicara dia memandang negatif pada aku. jadi saat ketemu Sayadaw aku menjadi terpidana. Aku malu dan takut, saat aku mencoba berbicara langsung menggunakan Bahasa Inggris dengan Sayadaw, dia mengatakan kamu mau ngomong apa biar aku yang omongin. Dan hebatnya, dia bertanya pada Sayadaw, “sebelum dibawah ke Yangon apakah dia perlu dilepasjubahkan dulu?”

Aku terkaget-kaget mendengarnya. Aku mempercayainya, tapi dia menganggap aku tak waras, ini mengiris-iris hatiku, tapi sebagai terpidana yang sudah menghebohkan Panditarama Forest Center, aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Tidak usah” kata sayadaw. Dia masih memiliki guru di Indonesia. “Emang dia mau dibawa kemana?” tanya Sayadaw.

“Ke Yangon.”

“Terus kemana?”

“Di Yangon ada keluarganya, mereka yang akan mengurusnya” mungkin maksud dia keluarga Pak Handaka.

“Terus?”

“Nanti dari sana dia akan dibawa ke Indonesia.”

Aku menangkap, sepertinya U Tamana Kyaw ingin tahu atau mungkin memberi saran sebaiknya aku dibawa ke mana. Tapi sebagai biku yang baik layaknya guruku di Indonesia, aku tahu biasanya mereka tak akan memberi pendapat kalau tak diminta. Tapi sekali lagi aku hanyalah seorang terpidana yang tak memiliki hak suara.

Keesokan paginya, dengan menumpang mobil center bersama pegawai yang mau belanja keperluan dapur kami ke Yangon. Sepanjang jalan mereka menatap aku senyum-senyum penuh arti. Aku sendiri harus mempertahankan kesadaranku, entah mengapa, berada di dalam mobil membuatku puyeng dan mual. ah, malangnya nasibku, begitu sudah jadi arahat langsung dicap sebagai orang gila, nasib-nasib, pikirku dalam hati, hehe.

Saat sudah di Panditarama Center di Yangon inilah, saya berpikir harus melawan tekanan pikiran mereka bahwa saya gila. Caranya? Saya harusbisa melakukan semuanya sendiri, mencari jawaban apakah trek meditasi saya benar. Dan saya juga masih normal, tak usah dikawal seperti orang yang tak ingat jalan pulang.

Pertama-tama yang aku lakukan adalah menelepon Pak Handaka mengabarkan keadaanku, aku yang dianggap gila dan aku merasa tidak gila, dan niatku mencari solusi sendiri. Sepertinya Pak Handaka awalnya juga ragu, maklumlah kan banyak orang gila karena belajar meditasi tapi merasa tidak gila. Tapi untunglah Pak Handaka memberi kesempatan mempercayaiku untuk menunjukkan aku masih waras.

Jadi, yang pertama-tama aku lakukan ke pasar membeli silet cukur untuk didanakan pada guruku U Tamana Kyaw sebagai tanda terima kasih sudah membimbing aku, kemudian mencari taksi menuju Panditarama Forest Center.

Sesampainya di Forest Center, Ibu di front office yang menertawai aku waktu menuju Yangon di mobil terkaget-kaget melihat aku. “Aku tak seperti kalian kira, kataku. Apakah aku bisa bertemu Sayadaw untuk memberikan dana?” tanyaku.

“Ada di kutinya,” katanya.

Saat membuka pintu, Sayadaw yang habis cuci muka terkejut melihat kemunculanku, ‘ada apa?’ tanyanya.

‘Aku tidak apa-apa,’ kataku, “apa yang ku alami, semua cuman angin.”

Mendengar kalimatku dia tersenyum senang.

Tapi saat aku bertanya tentang vision yang aku lihat, tiba-tiba beliau menutup diri dari pembicaraan lebih lanjut. Dengan kata lain, misiku buyar. Terlebih saat aku bertanya apakah aku boleh tinggal lagi di situ, beliau mengatakan tidak, luluh lantaklah hati ini. Segera aku memberikan dana berupa pisau cukur padanya dengan hormat lalu pamit.

“Kamu mau pergi kemana?” tanyanya sebelum aku berbalik.

Aku kembali melakukan kesalahan, seharusnya aku meminta pertimbangan beliau, tapi karena terlanjur kecewa aku cuma menjawab, “karena tak diperbolehkan di center ini, saya akan mencari center lain,” dengan bahasa lain, yah udah kalau gak boleh di sini aku juga bisa mencari tempat lain.

Aku terus berlalu, segera naik taksi yang masih menunggu aku untuk menuju Panditara Center di Yangon.

Setiba di Center di Yangon aku cepat berbenah. Keesokan harinya sesuai perjanjian sopir Pak Handaka menjemput aku ke rumah Pak Handaka.

Mula-mula Pak Handaka hati-hati juga, tapi melalui serangkai dialog, sepertinya dia tahu aku masih waras, hehe.

Selang dua hari kemudian diantar sopir Pak Handaka aku ke Shwe Oi Min Center untuk kedua kalinya. aku berpikir, karena Pandita Center telah menutup pintu, mungkin aku bisa mencari jawaban di Shwe Oi Min. Kan Shwe Oi Min dulu juga guru di Mahasi Center.

Aku mengatakan pada U Tejaniya, selama di Panditarama mungkin juga pikiranku sempat ‘terganggu’. U Tejaniya mengatakan, bagus. Meditator kalau terganggu tapi menyadarinya bisa sembuh. Yang susah kalau terganggu tapi tidak merasa, katanya.

Cuman, ketika interviu rame-rame saat aku menanyakan vision yang aku lihat, tampaknya U Tejaniya blank, kamu melamun kali, katanya.

Yup, kayaknya memang bukan di sini jawabannya kataku dalam hati. Aku sangat yakin itu bukan khayalanku. Tamana Kyaw sendiri berulang kali bertanya apa yang aku lihat, sebelum aku melihat apa-apa. Tapi begitu aku sudah melilhat lalu terjadi peristiwa heboh itu, beliau menutup semua pembicaraan dengan saya berhubungan dengan meditasi.

Karena merasa tak akan menemukan jawaban di Shwe Oi Min center, seminggu kemudian aku kembali ke rumah Pak Handaka. Pak Handaka sempat mengusulkan aku ke Pak Au Sayadaw. Tapi aku pikir sedang belajar metode Mahasi dan ada di tengah jalan, sebaiknya aku mencari jawaban dari center metode Mahasi dulu. Untuk itu, aku harus ke Chammy Sayadaw.

Lalu aku berangkat sendiri ke Chammy Center.

Di sana aku minta bertemu guru meditasi yang ada, aku diketemukan dengan U Keti (aku tak tahu spellnya benar tidak).

Aku menceritakan yang aku alami. Mikro organisme yang berlarian di tubuhku, sesuatu yang seperti vacum cleaner menyedot mikroorganisme yang berlarian, dan vision yang aku lihat. U Keti, guru meditasi yang tampak sangat muda itu mengatakan trek saya tak salah. Saat aku bertanya aku mencapai tahap apa? Beliau menjawab, biku tak boleh mengatakan seseorang mencapai kesucian tahap begini dan begini.

Aku bertanya boleh tidak aku melanjutkan meditasi di Chammy center? Boleh, katanya. Tapi, karena paspor aku over stay seminggu, dia mengantar aku ke biku yang biasa mengurus yogi dari Indonesia.

Ternyata aku tak berjodoh dengan Chammy center. Biku itu mengatakan tak bisa membantu. Kalau mau tinggal di Chammy center, saya harus mengajukan permohonan sebelum masuk Myanmar.

Meskipun U Keti sangat ingin membantu, tapi beliau tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mengantarkan aku ke pintu gerbang. “Tidak apa-apa, saya memang tak berjodoh belajar di sini, saya harus segera kembali ke Indonesia” kataku.

Saat di Imigrasi, karena overstay aku didenda tanpa ampun sebesar..aku lupa mungkin sekitar 1,5 juta.

To be Continue….

Batavia, 1/5 2009  4:42am


BEAUTIFUL VIPASSANA

Buddha

Sudah dari kecil aku jago berdebat. Boleh dibilang, kalau maunya begini… tak ada yang bisa merubah jadi begitu. Hebatnya, otak ini seperti sumber inspirasi yang tak pernah habis bagi saya merubah hitam jadi putih atau putih jadi hitam.

Jadi, sudah lama aku menyadari tak ada kebenaran absolut. Sesuatu menjadi benar bergantung suasana hati. Kalau saya menginginkannya benar, jadilah benar. Kalau saya menginginkan salah, jadilah salah. Kata-kata hanyalah permainan logika.

Puncak kesewenang-wenangan saya terjadi saat di kelas 3 SMU 9 Yogyakarta tahun 1992. Mungkin suasana kelas Sosial yang rata-rata cowok bandel dan kompak sebagai landasannya.

Aku mulai berani menggugat guru Sejarah Perjuangan Bangsa dengan frontal.

Sudah rahasia umum, di jaman Orde Baru, semua materi sejarah adalah indoktrinasasi cuci otak tentang sucinya Orde Baru dan hinanya Orde Lama. Dengan mudahnya buku sejarah menyalahkan Bung Karno atas politik Ganyam Malaysia, tetapi melupakan keberhasilannya merebut Irian Barat.

Di tengah semangat 45 guru itu menjelekkan Bung Karno dan Orde Lama di depan kelas, aku intruksi, “Pak, seandainya kita berhasil merebut Malaysia dan kini menjadi wilayah Indonesia… mungkin sekarang kita tak akan menyalahkan Bung Karno atas politik Ganyang Malaysianya. Ironinya, keberhasilan yang didapat dari merebut Irian Barat tak pernah dipuji. So, hanya kegagalannya yang dicerca.

Kata penutup saya pada guru sejarah:”Kalau Orde Baru hanya bisa terus menjelekkan Orde Lama, akan datang suatu Orde berikutnya yang akan menhina-dinakan Orde Baru,” kalimat pamungkas yang membuat muka guru sejarah itu merah padam dan terdiam seribu bahasa.

Kelas hening sejenak, yang kemudian disambut sorak-sorai kemenangan dari teman-teman sekelas.

Ada banyak event pembrontakkan yang membuat muka guru-guru saya memerah, yang terakhir adalah Study Tour.

Waktu itu kalau tak salah, biaya study tour ke Bali Rp.75.000,- Ada enam kelas, IPA satu kelas, BIOLOGI dua kelas, SOSIAL 2 kelas yang masing-masing kelas terdiri 50 an orang.

Kami berangkat ke Bali dengan model bus gado-gado, anak IPA yang merupakan anak emas mendapat bus ber-ac, yang lain saya tak tahu, sedang kami yang anak SOSIAL-1, yang paling bandel kebagian bus tak ber-ac meski bayarnya sama!

Studi Tour kami antara lain mengunjungi tempat pembuatan arak bali. Tempat wisata yang kami kunjungi beberapanya karena tibanya malam, sudah ditutup, jadi kami tidak masuk dalam arti tak ada pengeluaran di situ.

Sebenarnya dari tahun sebelumnya sudah ada isu sumir pengurus Studi Tour yang korupsi. Yang katanya, habis Studi Tour bisa beli ini dan itu di rumah.

Secara naluri saya menyadari ada yang tak beres, tapi saya juga menyadari tak ada logika membuktikan penyelewengan itu, hingga tiba study tour untuk adik kelas kami tahun berikutnya saat kami di kelas tiga yang diurus guru berbeda, yang ternyata berbiaya sama, Rp.75.000,- Padahal BBM baru naik.

Logikanya BBM adalah komponen terpenting. Kenaikan BBM pasti disusul kenaikan transportasi, hotel, dan konsumsi. Apalagi penyelenggara tahun ini melibatkan travel bonafit, seharusnya biayanya jauh lebih mahal.

Dari logika sederhana itu aku bergerak. Dengan mesin tik tua, aku mengetik logika-logika sederhana diatas, yang isinya diakhiri kalimat “Oh Guru, Ajarilah kami tentang kejujuran.”

Kertas itu aku fotocopy, dibaca teman-teman, lalu bersama teman-teman, dicenplungkan lewat jendelah ke kantor kepala sekolah. Tak hanya itu, esoknya aku membawa kertas hvs dan spidol merah-biru yang aku tulis kalimat-kalimat provokatif, lalu ditempel teman-teman di kantin dan sudut-sudut sekolah.

Kami memang bebas bergerak, karena kelasnya paling bandel, kompak tapi tidak bodoh, jadi kami seperti penguasa sekolah. Di tangga menuju kelas kami, di tempel kertas bertuliskan “Koruptor Dilarang Masuk!”

Entah karena aksi kami atau bukan, hari itu upacara bendera ditiadakan. Kertas-kertas yang kami tempel dicabut guru. Kami juga mendapat info, guru yang menjadi panitia Study Tour masuk kelas demi kelas mempertangungjawabkan laporan keuangan.

Menjelang istirahat kedua, tibalah dua orang guru yang menjadi panitia ke kelas kami. Dari raut wajah, aku bisa merasakan sikap yang sedikit ketar-ketir, ini kelas singa, Bung!

Guru itu menjelaskan pengeluaran untuk ini-itu.

Saat saya tanya bayarnya sama kok busnya beda-beda yah, Pak. Ada yang pake ac ada yang nggak. Guru itu memberi penjelasan yang tak ada kaitannya bahwa kami harus memaklumi, sopirnya sampai begadang karena ban bocor dan sebagainya.

Aku dengan angkuh dan berkata menghakimi: “Lho Pak, itu bukan urusan kita, harusnya kita sudah bayar kita harus mendapatkan apa yang kita bayar, kalau tak sesuai kan kita bisa minta dikembaliin uangnya. Lagian, tidak pantas studi tour ke tempat pembuatan arak untuk anak sekolah,” kataku. Kalimat terakhir ini kurang didukung teman-teman, soalnya itu salah satu kegemaran mereka,he-he.

Guru itu entah menjelaskan apa aku tak mengikuti, ngalor-ngidul tambah tak ada hubungannya. Teman di samping juga mencolek, katanya ada objek wisata yang tak dikunjungi tapi tercatat pengeluarannya. weleh weleh. Tapi ada teman lain lagi mencolek, “udah-udah kasihan gurunya.”

Begitulah hari-hari terakhir saya di bangku SMU. Garang dan melelahkan.

Dengan kondisi yang suka berseberangan dengan guru, apalagi tak pernah belajar dari kelas 1sampai kelas 3 SMU, aku heran bisa lulus!

Sifat pemarah dan garang ini masih aku bawa sampai di Jakarta. Meski tubuhku saat itu ceking tak bertenaga, soal gertak-gertakan dengan sopir mikrolet karena bayaran dianggap kurang, menjadi makanan sehari-hariku.

Atau dengan penjual buku di pasar senen yang suka memalak, atau sewaktu sudah punya motor dan menjadi wartawan.. apalagi kalau bukan dengan polisi yang suka mencari-cari kesalahan, prinsipnya sepanjang gue benar.. Fight!

Jadi sebenarnya heran juga, dengan segala kekonyolan ini, aku bisa hidup sampai hari ini.

Bahkan setelah saya sempat jadi samanera dan lepas jubah untuk bekerja di kantor lagi, sifat garang ini masih tetap ada. Prinsip saya sepanjang tak diganggu, saya tak akan mengganggu. Tapi kalau saya diganggu, siapa pun dia, hajar, apalagi kalau sekedar berdebat di meja rapat, kata dan logika hanyalah mainan usang saya.

Apakah keberanian dan kemenangan ini membuat aku bahagia?

Terus terang tidak. Terkadang dalam hatiku, aku tak menginginkan semua ini. Aku tak menghendaki mereka bersedih, tapi di sisi lain aku tak bisa mengorbankan diriku untuk kemenangan mereka. Aku tipe idialis yang ingin terlihat hebat.

Namun, beruntunglah meski agak terlambat, seiring pertumbuhan usia aku menyadari “Yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu.”

Mengingat semua kelakuanku dulu, yang bersisa hanyalah penyesalan mendalam pada orang-orang yang pernah aku sakiti. Kini aku berterimakasih dan menyadari, mereka yang pernah menjadi guru saya pasti memiliki kesabaran luar biasa menghadapi murid seperti saya.

Insight Meditation, Meditasi di Myanmar banyak merubah saya.

Sebagai contoh, dulu saya tak pernah betah duduk di belakang meja. Kini, sudah tiga tahun lebih saya setiap hari berada di tempat dengan rutinitas yang sama dan saya merasa biasa saja.

Dulu, kalau pacaran, saya sering berantem karena cemburu, curiga, prasangka dan mau menang sendiri, kini dua tahun lebih pacaran adem ayem saja .

Yang paling penting, kini saya memiliki begitu banyak orang-orang baik di sekitar saya. Mungkin karena aku tak biasa menebar api kegarangan dan kemarahan lagi di sekitar saya.

Batavia 16 Maret 2009 (4:00 am)
Peace,
Harpin

sumber: http://harpin.wordpress.com


The CRAZY MIND (2)

b_hist25

Pernolakan pada  makhluk mengaku Avalokitesvara berlanjut di kuti. Aku seperti bertempur dalam diri, seolah tubuhku  punya dua sopir. Aku, sopir resmi, dan makhluk mengaku Avalokitesvara sebagai sopir ‘tembak’ hehe.

Terjadi pertumbuhan  sel kontrol baru di luar ragaku. Susunan saraf abstrak terbentuk perlahan menempel dari bahu sampai jemari, fungsinya mengontrol tangan diluar kehendakku.

Makhluk itu mengajarkan tak usah makan nasi. Aku sudah hebat. Cukup konsentrasi membentuk bulatan di udara lalu menelannya. Makhluk itu juga suka main mudra di titik di tengah alis kedua mata, seperti tengah menunggu sesuatu.

Terus terang, ini membuat aku khawatir, apa yang ia tunggu? Whats next?

Dalam kondisi ini, pilihan kooperatif atau tidak jadi pertimbangan.

Beruntunglah, Buddha Dharma pegangan hidupku mengajarkan untuk menjadi tuan atas tubuh kita. Dengan pertimbangan itu, aku  tak mau dijadikan alat.

Pembrontakan ini tak mudah, terlebih makhluk itu melakukan perlawanan agar bisa memakai tubuhku.

Dalam kuti saat jam istirahat, aku berusaha ambil kontrol habis atas tubuhku. Berusaha semindful mungkin, bergerak super lambat berpegangaan pada lemari dan sebagainya, kesadaran penuh pada semua pori-pori tubuhku, terbongkok-bongkok melakukan kayanupasana, mindful atas tubuh ini.

Seorang diri dalam kuti aku benar-benar seperti sakit jiwa. Entah benar atau tidak, merasakan ada yang terus mengawasi aku, kalau-kalau aku lengah dan berusaha mengendarai lagi.

Meditasi Malam

Ketika meditasi malam, tiba-tiba aku merasakan makhluk sekecil debu terus menerus keluar dari tulang sayap bahu sebelah kiri. Merasakan hal ini aku ketakutan, lalu melakukan meditasi jalan.

Saat meditasi jalan pun, aku tetap merasakan gerakan-gerakan small things itu. Ketakutanku pada si Penempel belum usai, sekarang apalagi?

Dengan ketakutan amat sangat, aku mendekati kursi  Sayadaw U Panditarama biasa duduk berceramah, berharap miracle terjadi untuk melindungi diriku.

Dan, aku benar-benar mendapatkan keajaiban. Berdiri di samping kursi itu, small thinng lenyap. Menjauh dari kursi Sayadaw,  gerakan di bahu terasa lagi. Begitu aku mendekati kursi sayadaw, small thing itu lenyap lagi. Aneh?

Menyadari ini, aku bersujud ketakutan di samping kursi sayadaw. Aku merasakan gerakan-gerakan small thing itu hilang, sepertinya kesedot. Yah, kesedot ke atas?

Aku melihat ke atas, ternyata di atas kursi sayadaw biasa duduk  terdapat eksos, kipas angin menyedot udara dari dalam dan membuangnya keluar.

Jadi small thing hilang kesedot eksos?! Nice! Aku keasyikan meditasi duduk di dekat kursi sayadaw. Merasa terlindungi.

Pertempuran dalam Gelap Malam

Saat meditasi malam berakhir, aku kembali ke kuti. Tapi berakhirnya meditasi malam bukan berarti berakhirnya ketakutanku.

Bahkan ketakutan lebih besar telah menunggu. Karena menjelang tidur, aku merasakan bulatan yang terbentuk dari titik di tengah dua alis melompat bagai kelereng, mengenai jubah yang aku jadikan selimut.

Tapi saat itu aku belum tahu sumber bulatan itu darititik diantara dua alis mata. Aku berpikir bulatan yang melompat itu bersumber dari sesuatu di luar aku. Alien, hantu dan sebagainya.

Di tengah hutan, di tengah malam gelap dan sunyi, setelah pengalaman makhluk kecil berlarian keluar dari tulang sayap bahu, kini mendapati ada yang melompat mengenai jubah menjelang tidur, ketakutan ini makin jadi.

Celakanya, semakin takut aku, semakin liar imajinasi berkembang.

Saat itu, aku tak menyadari ini. Tiap imajinasi kegelapan datang, yang lahir dari ketakutanku, aku melawannya dengan menciptakan imajinasi suci sebagai perisai.

Celakanya, bermain dengan imajinasi, kita seperti bermain dengan sumber air samudra yang tak pernah kering. Selalu ada next dan next, sampai kita benar-benar kelelahan.

Oleh pikiran naib mengalami peristiwa sejenis dengan malam Pertapa Gautama menghadapi Mara, pikiran liar makin jadi, aku harus menaklukan Mara… agar jadi Buddha in this very moment.

Maka kian serulah pertempuran-pertempuran itu.

Oleh batin bening selama meditasi, tak sulit bagi kita melihat jelas melalui mata batin apa yang melintas di pikiran, layaknya melihat dengan mata biasa.

Tak aku sadari, penglihatan-penglihatan ini  bersumber dari pikiranku. Rumusnya  sederhana: Selama aku bertindak dan bertempur dengan dan berdasarkan pikiran, maka aku selalu dalam kekuasaan pikiran itu. Gak bakalan menang!

Setelah sekian lama, oleh ketakutan yang makin jadi, aku mengetuk kuti sebelah, yang baru dihuni pemeditasi baru tiba dari Jepang. Aku mengatakan ada hantu mau ganggu aku, aku minta ijin nebeng di kutinya.

Selesai menggelar matras dan tidur di lantai kuti sebelah, saat berbaring bulatan dan gerakan itu muncul, tapi kini aku lebih tenang, karena tak sendirian.

Satu hal yang membuat aku heran, ketika aku tertidur kecapean, bulatan-bulatan itu tak mengangguku. Aku baru merasaakannya lagi saat  terjaga….

Semua itu eksis hanya kala aku terjaga dan hilang saat aku tertidur… so semua bersumber dari diriku? Tanyaku dalam hati. That’s only in my mind?

Persis kisah Pangeran Sidharta mencapai Kebuddhaan menjelang fajar, kesadaran ini bagai setetes embun dini hari, luar biasa indahnya. Dengan kelegaan yang ada, selanjutnya aku tertidur.

Di sisi lain, merunut kisah Buddha Gotama yang sukses menaklukan Mara, aku berpikir telah mencapai Kebuddhaan, Arahanta… seperti pertapa Gotama. Pikiran yang tanpa aku sadari, merupakan jebakan baru dalam latihanku.

Tobe continue, hehe….

Batavia, 28 Februari 2009 (4:22am)

Harpin


The Crazy MIND

(kelanjutan The Power of MIND)

avalokitesvara

Pada awalnya bentol-bentol alergi terhadap jamur, dan kadang muncul seenak udel tanpa sebab jelas itu, cukup mengganggu hidupku.

Tapi syukurlah, suatu ketika bentol-bentol itu muncul lalu aku bawa dalam meditasi, ajaib dan susah dipercaya, alergi yang hampir ‘membunuhku’ itu lenyap dalam 15 menit.

Jadi merupakan hal wajar berpegian dengan guruku terkasih, beliau suka melihatku duduk meditasi dalam kamar dengan jubah melilit menyelimuti tubuh dari ujung kepala sampai kaki saat alergi itu muncul.

Aku tak pernah minum obat mengatasi alergi ini, cukup dibawa meditasi anapanasati samata bhawana yang aku praktekkan saat itu, selesai.

Seolah kehilangan taringnya, tak lama setelah jadi samanera bentol-bentol ini lenyap dan tak pernah muncul lagi sampai sekarang. Sedangkan alergi terhadap jamur itu ikut menghilang.

Selanjutnya, tahun 2004 aku berkunjung ke Myanmar untuk kedua kali.

Setelah mengikuti Fourth World Buddhist Summit, aku melanjutkan perjalanan ke Panditarama Forest Monastry.

Semula sempat bingung, nanti bagaimana? Karena aku merasa sudah ‘pinter’, sudah bisa mengamati gerak pikiran (baca ‘Kembali ke MYANMAR’)

Jadi sikap dan gerak-gerik saya sesuai intruksi di Shwe Oo Min center just rileks, santai saja. Berjalan tak terlalu lambat, yang penting menyadari gerak-gerik pikiran.

Saat di ruang makan pun aku bergerak santai. Bahkan dalam hati aku meremehkan mereka yang focus dan serius, aku bertindak sebaliknya, menunjukkan senyum dan keramahanku.

Barulah saat interviue dengan guruku terkasih U Tamana Kyaw Sayadaw keesokan pagi, aku menyadari telah diamati sejak kemarin.

“Kalau tak salah, kamu yogi yang dulu ditabis di sini, bukan?”

“Betul, Bhante,” kataku beranjali menunduk.

“Waktu itu kamu ke India?” tanyanya yang diterjemahkan seorang ibu dokter penerjemah.

“Betul, Bhante.”

“Di India kamu kemana saja?”

“Saya ziarah, Bhante. Ke tempat-tempat suci Agama Buddha.”

“Oo…’ katanya senang. Kemudian beliau melanjutkan ‘setahu saya, dulu kamu yogi yang serius dan bagus. Saya harap kamu mempertahankan sikap yang dulu, kalau tidak, kamu tak akan mendapat kemajuan di sini.”

Deg, tiba-tiba aku menyadari, sikap yang memang tak seserius dulu. Dalam hal berjalan, aku selalu mendahului yogi-yogi lain yang bergerak seperti keong. Lambattt banget.

“Yah, Bhante,” kataku menunduk kian dalam. Malu bercampur takut.

“Masih ada yang ingin dilaporkan?”

“Tidak, Bhante.”

Ia berkata sesuatu pada penerjemahnya, lalu penerjemahnya mengatakan, “now you can go.”

Aku namaskara tiga kali perlahan-lahan, lalu bergerak slow motion meninggalkan ruangan interview.

Sejak itu, aku kembali pada metode Mahasi di Panditarama Forest Monastry yang serius dan keras. Berjalan sangat lambat. Aku menjadi serius dan tak banyak mengumbar keramahan, terutama saat makan. Benar-benar kembali hidup di dunia sendiri.

Hari terus berjalan, hingga suatu pagi saat bangun dan mandi jam 3 pagi, aku merasa gerakanku sangat lambat dalam arti bukan aku yang mengontrolnya, tapi gerakan itu melambat dengan sendirinya. Rasanya enak juga, aku tak usah melambatkan gerakanku, tapi ia melambat sendiri, jadi tak butuh usaha lagi, hehe.

Saat interviu dengan Sayadaw, ia tertawa yang terdengar dari gelaknya.

Aku agak tenang, berarti gerak lambat sendiri ini bukan sebuah kesalahan.

U Tamana Kyaw Sayadaw, guruku terkasih kemudian bertanya, “apakah pusaran di ubun-ubun kamu sudah hilang?

Saya ragu.. berpikir sebentar, “sudah,” kataku.

“Apa yang kau lihat?” Tanya Sayadaw.

“Hm…tidak jelas,” kataku.

“Mungkin belum cukup bersih,” tambahnya, “dan kami melihat gerakkanmu juga belum cukup lambat,” tambahnya lagi sambil tersenyum.

Berdasarkan pengalaman interviuw, aku bisa tahu meditasiku di trek yang benar atau tidak dari nada suara Sayadaw. Bila nadanya lembut berarti baik, bila suaranya tegas berarti ada yang tak beres.

“Ada lagi yang ingin kau laporkan?”

“Hm..aku ragu, sepertinya aku memiliki kekuatan aneh,” kataku sejurus kemudian.

“Dalam vipassana tak ada keraguan, yang ada hanya kepastian,” kata sayadaw tegas.

“Saat meditasi, tanganku bergerak sendiri. Membentuk mudra-mudra, dan sepertinya itu memiliki kekuatan,” kataku.

“Dalam vipassana yang ada hanya kepastian. Disadari saja, itu akan berhenti.” kata sayadaw lagi dengan tegas.

Ups aku menyadari kekeliruanku. Semakin hari, dengan obyeb meditasi yang kian abstrak dan hal aneh yang aku alami (baca ‘Bagai Ular Melompat dari Jidat’), sepertinya aku makin tak tahu apa-apa dan muda melakukan kesalahan mendasar tanpa menyadarinya.

Di lain pihak, nasehat Sayadaw manjur sekali, begitu aku meletakkan kesadaran pada tangan yang akan bergerak sendiri, tangan itu tiba-tiba lemas dan tak berhasil bergerak diluar kesadaranku.

Tapi efek dan perkembangan lebih lanjut berjalan sangat cepat. Jadwal interview dua hari sekali tak memadai lagi dengan peristiwa-peristiwa aneh yang aku alami.

Namun, untuk bertemu sayadaw di luar jadwal adalah hil yang mustahal. Bagaimana kerasnya aku memohon, biku-biku pengawas di meditation hall tak memberiku kesempatan.

Mungkin juga mereka tak berani menyampaikan pada Sayadaw, jawaban mereka selalu akan disampaikan atau Sayadaw tak ada di tempat, Sayadaw sedang mengajar di tempat lain, Sayadaw sedang istirahat.

Celakanya, oleh pengalaman kian aneh diluar nalar dan tak ada sumber pemberi masukan sesuai kapasitas pengetahuannya inilah, hingga suatu malam di dalam kuti yang gelap, di dalam hutan yang sunyi, gerakan-gerakan abstak itu berhasil menjebol kesadaranku, membuat malam itu sebagai malam pertempuran batin yang panjang, menakutkan, dan melelahkan.

Menjelang fajar aku akhirnya menyadari, semalaman aku bertempur dengan imajinasi-imajinasi yang diciptakan pikiranku sendiri.

Tentang ‘pertempuran itu’ akan diceritakan di tulisan berikutnya.

Sunda Kelapa, 14 Februari 2009 (3.32 am)

Harpin


The Power of Mind

A Tribute for my MOM

Kuan Yin

Kuan Yin

Ini cerita sewaktu mama saya masih ada. Saat aku ajak ke Jakarta dan tinggal bersama aku, Mama memiliki keluhan penyakit kulit. Yakni kulitnya suka bentol-bentol kayak alergi.

Kalau saya tak salah, penyakit ini cukup lama Mama pikul. Saya tak tahu mulai kapan. Karena sejak umur 7 tahun, aku tak ikut mama. Melainkan tinggal dengan Tuako/Bibi—adik perempuan paling besar dari papa.

Kakak saya yang paling besar merantau sejak umur belasan. Sedangkan Papa meninggal saat saya bayi. Jadilah Mama hanya tinggal bertiga dengan kakak saya kedua (perempuan) dan kakak ke tiga (laki-laki) di pedalaman Jambi.

Karena ketidakcocokan dengan paman, dilain pihak prestasi belajar yang bagus, rutin juara kelas di SMPN 2 Jambi, menginjak kelas 3 SMP aku dikirim ke Yogya, ikut anak bibi. Maksud Bibi, supaya saya bisa sekolah sambil kerja di toko besi anaknya.

Semenjak di Yogyakarta, Praktis hubungan aku dengan Mama kian jauh. Kalau masih di Jambi, bila liburan aku bisa ke tempat Mama, kini tidak lagi. Praktis aku disibukkan sekolah dan membantu anak bibi yang workaholic, pekerja keras.

Pagi jam tujuh sekolah sampai jam 12.30. Jam 1 siang aku sudah di toko besi grosiran di Bringharjo sampai jam 6 sore. Malamnya, aku pulang ke rumah merangkap gudang di daerah Pingit.

Yang namanya gudang, apalagi anak bibi workaholik, seringkali kita masih bekerja sampai jam 2 pagi menyusun barang. Yang namanya barang besi tahu sendirilah, betapa beratnya peti-peti palu, cangkul, kunci-kunci, baut, kaleng cat dan sohib-sohibnya.

Yah, mungkin karena mental tak siap, juga punya bakat membandel, hehe, sebulan berselang aku cabut alias kabur dari tempat anak bibi. Aku mencari kos di belakang gudang anak bibi , yang masih aku ingat, cuma Rp.10 ribu per bulan.

Demikianlah, sejak itu hingga kini, kediaman resmiku tak jauh dari kamar kos berukuran dua kali tiga, termasuk waktu tinggal di kuti biku,hehe.

Selama tiga tahun, untuk bertahan hidup aku dikirimi kakak kedua yang buka warung kelontong di Jambi sebulan Rp.30 ribu. Rp.10 ribu buat bayar kos. Bayar uang sekolah di SMPN12 Yogyakarta Rp.1000 sebulan. Sisanya RP.19 ribu.

Sebagai gambaran, tahun 1986 makan di warung nasi pakai telor sepiring 250,- Sehari makan tiga kali jadinya RP.750. Dikalikan 30 hari sebulan hasilnya RP.22.500.

Kesimpulannya kiriman kakak saya tak cukup, ada defisit Rp.3.500, itupun untuk standar makan minimun belum termasuk kebutuhan tetek bengek lain.

Untuk mengatasinya, setelah konflik batin mendalam dengan muka badak menahan malu, aku yang berumur 16 tahun saat itu, minta kerjaan lagi pada anak bibi saya. Masuknya sepulang sekolah, tak iku kerja di gudang malam hari, kata aku.

Beliau setuju. Seminggunya aku dikasih Rp.5000,- lumayanlah, hehe, buat nutup defisit.

Karena kondisi ini harap maklum, nantinya sekolah aku kacau beliau. Meski sukses lulus SMPN 12 dan diterima di SMUK de Britto yang muridnya laki-laki semua, tapi inilah awal kekacauan hidup dan kepribadian aku, sampai harus menamatkan SMU selama 6 tahun, 2 tahun di de Britto 4 tahun di SMUN 9, weleh weleh weleh.

Tapi aku ikut anak bibi aku hanya 3 tahun. Aku dikirimin uang juga hanya 3 tahun itu.

Tahun-tahun berikutnya, sambil sekolah aku memiliki dua usaha taman bacaan kakilima di depan Rumah Sakit Panti Rapih dan tiga pegawai yang adalah teman-teman sekolah saya.

Kembali pada cerita tentang Mama saya.

Sudah pasti, karena tak tumbuh bersama Mama, aku tak memiliki hubungan emosional dengan Mama. Perasaan memiliki tak ada. Oleh kenaipan dan pemikiran usia puber, mungkin juga karena rusak dimanja waktu balita, aku justru menyalahkan Mama atas kondisi aku.

Sehingga, saya terlalu masa bodoh atas kondisi Mama di daerah. Hanya sekali-kali aku pulang ke daerah dengan gaya backpacker. Di saat itulah, aku sering melihat Mama mengoles tubuhnya dengan arak, karena tubuhnya bentol-bentol alergi.

“Kenapa, Ma?”

“Gatel, ga tau kenapa, nggak sembuh-sembuh” kata Mama.

“Oh…” kata aku dengan mulut bulat tanpa dilandasi semangat berbakti dan jiwa bhodisattva, mencari solusi untuk Mama. Seolah that’s not my problem, that’s outside of me.

Hari terus berjalan. Aku sudah menjadi wartawan majalah remaja kesohor di Jakarta. Aku memiliki pacar, mencintai pacar saya lebih dari segalanya. Bahkan, Mama tak ada apa-apanya dibandingkan kekasih hatiku.

Kakak perempuan saya bilang, pulang ke Jambi seminggu aku telah sibuk menulis surat ke pacar di Jakarta. Sementara puluhan tahun di rantau, surat yang aku kirim pulang bisa dihitung dengan jari (waktu itu belum ada hp).

Seiring waktu berjalan, mungkin karena pemahaman Buddha Dharma yang lebih baik, aku mulai melihat ada yang salah dalam hubunganku dengan Mama. Terutama saat membaca buku Sutrabakti Seorang Anak, dan mengetahui keniscayaan membalas budi ibu, lulu lantaklah hati ini.

Apalagi ketika aku sudah rutin meditasi di ruang meditasi Ekayana, yang pertamanya untuk memakai ruang itu harus kucing-kucingan dengan Awi yang front officer, karena masih orang baru di Ekayana.

Terkadang saat sedang meditasi seorang diri, bayangan Mama suka melintas. Terbayang akan kesulitan yang beliau pikul saat melahirkan kami berempat, saat ia harus membesarkan kami yang masih kecil tanpa suami, saat ia harus kucing-kucingan menjual nomor buntut, saat ia harus menjadi pencuci baju, saat ia harus berjalan berkilo-kilo meter menagih utang kode buntut yang itupun suka tak dibayar, atau saat ia harus menggelar dagangan kaki lima di depan sekolah.

Belum lagi disertai cercaan dari orang-orang yang bisanya hanya mencerca. Aku tahu Mama tak memiliki tempat mengadu. Papa telah tiada sejak aku bayi. Mungkin Mama hanya bisa mengadu pada sepi, atau menangis di depan altar Kuan Im saat sembahyang di Vihara Sakyakirti Jambi.

Membayangkan wajah mama di foto yang mudanya sangat cantik, yang kini telah tua, bongkok dan beruban diiris waktu dan penderitaan, air mata ini mengalir deras dari kedua pelupuk mata saya. Aku bisa menanggis terisak-isak dalam remang ruangan meditasi di depan altar Guru Buddha.

Berangkat dari situlah, dan dari contoh seorang teman yang sangat berbakti pada mamanya, aku mulai memperbaiki hubungan dengan Mama. Aku coba memeluk dia, aku coba mencium dia, sesuatu yang sangat asing dalam hidup aku, karena tumbuh sendiri di alam bebas. Mula-mula semua berjalan aneh. Namun seiring waktu, kekakuan yang ada mencair satu persatu.

Perlahan tapi pasti, hubungan dengan Mama kian dekat, yang bahkan Bhante Aryamaitri terkasih pernah bercerita, sangat tersentuh akan kedekatan aku dan Mama, saat aku membawanya ikut kebaktian Minggu sore di Vihara Ekayana.

Aku membonceng Mama dengan motor dari kontrakan, menuntun Mama yang beruban dan agak bongkok masuk vihara, lalu mengajarkannya tata cara kebaktian dan melafahkan nama Buddha dengan metode paling sederhana, yang mana tetap Mama lakukan tiap pagi sampai akhir hayatnya.

Tentang bentol-bentol yang ada di tubuh Mama pun, mulai menjadi masalah aku. Semenjak membawanya ke Jakarta, aku mencarikan obat untuknya.

Oleh cerita Mama yang telah memakai banyak obat di Jambi dan tak sembuh, dan keibaan melihatnya di kamar saat bentol-bentol alergi datang, aku mulai bisa merasakan apa yang dirasakan oleh wanita yang telah melahirkan aku dengan penuh kasih ini.

Saat itulah, entah sadar atau tidak, aku berkata pada diriku sendiri dalam hati, ‘kalau diijinkan, biarlah apa yang diderita Mama, diberikan pada diriku. Aku siap menerima penderitaan yang dipikul Mama’

Aku tak tahu, obat itu yang manjur atau tekatku yang manjur. Setelah pulang ke Jambi, aku dapat kabar dari Mama, penyakit yang sangat menyiksanya telah hilang. Obat yang aku beli di Glodok sangat manjur, katanya

Yah, aku ikut berbahagia atas kesembuhan Mama. Hanya aku tak bercerita, kalau penyakit itu kini ada pada aku.

Suatu ketika, saat mengendarai motor di Jembatan Lima, saking besarnya bengkak alergi di sekujur tubuhku, terutama di wajah, aku hampir jatuh pingsan.

Terutama bengkak-bengkak di wajah, membuat mataku hampir tak bisa dibuka untuk melihat jalan. Padahal sebelumnya aku baru dari kantor rekanan pekerjaan design graphic dalam kondisi baik-baik hingga menjelang pulang.

Karena beranjak malam, bergegas aku mencari dokter terdekat. Yang aku temukan adalah apotik di pinggir jalan. Dari apotik itu aku dirujuk ke dokter praktek berjarak sepuluh meteran dari apotik itu.

Dengan segenap tenaga bersisa, aku mencari tempat praktek dokter itu. Sampai di sana sudah banyak pasien yang antri. Tapi karena kondisiku kritis, matanya yang sudah sipit makin sipit karena penbengkakan, aku langsung dibawah ke ruang dokter.

Apa dinyana, setelah melihat tanganku yang membengkak dan membiru, dokter itu angkat tangan.

Kata dokter itu keracunan.

“Disuntik aja dok,” kata beberapa orang yang membawaku ke dalam.

“Tak bisa, tangannya bengkak dan membiru, kemarin ada yang kondisinya begini disuntik mati” katanya, walah-walah.

“Jadi bagaimana, Dok?” Tanya aku.

“Ke rumah sakit saja, diinfus” katanya menyebut sebuah rumah sakit.

Mendengar nama rumah sakit, apalagi harus masuk rumah sakit, yang tebayangkan adalah tumpukan uang yang tak pernah cukup. Jadi prinsipnya jangan deh, sampai masuk rumah sakit.

Tapi harus bagaimana? Ada beberapa orang yang coba memanggilkan taksi, tapi aku menolak, karena memikirkan biaya dan nasib motor aku.

“Ada saudaranya tidak?” tanya seorang wanita sambil mengeluarkan hpnya, yang ditahun 99an itu termasuk barang mewah.

Aku ingat adik mama yang rumahnya tak jauh dari situ. Aku minta meneleponnya,menceritakan kondisi aku dan minta dijemput, seingat aku dia punya mobil.

Sambil menunggu, oleh kondisi aku yang tak kuat, sementara dokter menolak aku, aku mencari meja jualan pedagang makanan kaki lima yang pedagangnya libur.

Berbaringlah aku sendiri di situ. Di tepi jalan antara jembatan lima dan jembatan dua, di tepi kali angke dibatasi trotoar dua arah. Karena berpikir ini keracunan seperti kata dokter, aku membuka susu bubuk yang aku beli di Mangga Dua, menelannya ditemani botol air yang selalu aku bawa.

Sesaat kemudian, aku berbaring dalam diam, tapi aku tak tidur.

Samar aku mendengar suara orang-orang yang tadi mengantre di dokter praktik mendekat dan berbicara diantara mereka, “lihat, dia sudah tak bergerak” yang disahut yang lain, “mungkin sudah mati?”

Mereka terus berbisik dari jarak antara.

Anehnya, melihat tingkah mereka keisengan aku muncul, bukannya memberi reaksi kalau aku belum mati seperti sangkaan mereka, aku malah makin tak mau bergerak, biar mereka kian heboh menduga aku mati,hehe.

Sesaat ada beberapa orang yang berjalan mendekati aku.

Wah, kalau ada yang mendekat beneran begini, aku batuk sajalah: “Hm. Ehm,” memberi tanda aku belum mati.

Mereka menjauh lagi, berbisik dari kejauhan lagi.

Malam kian larut. Aku mulai sadar tak mungkin dijemput adik mama, karena jarak rumahnya dari tempatku cuma 15 menit, sedangkan aku telah berbaring satu jam lebih di sini.

Oleh kondisi mulai pulih, pembengkakan berkurang, aku melanjutkan perjalanan dibawah tatapan orang-orang yang tadi mengawasi aku, ke tempat adik mama.

Sampai di sana, A’I (adik mama) aku tak berkata apa-apa. Ia memintaku berbaring di sofa ruang tamu, lalu menarik-narik urat di leher aku. Setelah itu ia memberiku segelas teh pahit.

“Kamu masuk anginnya udah kelewat parah,” katanya. Setelah itu aku tertidur sebentar, untuk kemudian aneh bin ajaib setelah bangun kondisiku membaik dan aku segera pamit.

Di awal tahun 2000, saat aku menjadi samanera (samanera milenium ceritanya, hehe) penyakit ini awalnya masih suka muncul, terutama kalau habis makan sayur jamur, pasti bentol-bentol. Namun untunglah, kondisi ini bisa diatasi dengan meditasi anapanasati yang saat itu aku praktekan.

Dalam tempo setengah jam bisa lenyap. Maka sudah terbiasa bagi guruku terkasih, Bhante Dharmavimala, kalau berpegian dengan beliau, aku suka bermeditasi berselimutkan jubah menutupi sekujur tubuh dan wajahku kalau bentol-bentol itu ‘bertamu’.

Aku lupa terakhir kali penyakit itu muncul, mungkin saat mengisi acara waisak sekolah di Sunter, bersama Bhante Dharmavimala dan Bhante Badraruci yang waktu itu masih samanera.

Batavia, 8 Februari 2009 (12:42 am)

Harpin


Kembali ke Myanmar.

World Buddist Summit 4, Myanmar

World Buddist Summit 4, Myanmar

Aku berkunjung ke Myanmar lagi saat World Buddhist Summit ke 4, Desember 2004.

Oleh Guru saya terkasih saya ditugaskan mewakili Sangha Agung Indonesia bersama Yang Mulia Bhante Nyanasuryanadi Mahathera.

Pada hari ‘H’ aku berangkat ke Batam. Entah mengapa aku menolak bawa cindramata rupang besar dari Bhante Aryamaitri Mahasthavira yang sudah seperti orang tua saya. Aduh kualat deh. Ampun Bhante, hehe.

Tapi untunglah, belakangan aku tahu, Bhante Nyanasuryanadi yang Mahathera sekalipun, sangat rendah hati membawakan patung itu.

Keesokan harinya, Bhante Nyanasuryanadi Mahathera menyusul tiba di Batam. Kami menginap di Vihara Buddhayana Nagoya Point, untuk keesokan menyebrang dengan kapal feri ke Singapura.

Di Singapura kami mencari pesawat ke Myanmar. Sebenarnya bisa terbang langsung dari Jakarta ke Singapura, tapi supaya irit, perjalanan dilakukan ala back paker traveler.

Ada rekan Hendritanti menemani dari Batam sampai Bandara Changi, Singapura. Terimakasih dan namaskara untuk rekan Hendritanti, yang kini menjadi Biku Nyanagupta. Siapa menyusul? Haha.

Seperti biasa, tiba di Myanmar, Bapak Handaka yang helpfull pada Monk menunggu di airport. Berbeda dengan perjumpaan pertama saat beliau masih menggunakan celana panjang, kini beliau ‘menyatu’ dengan masyarakat Myanmar, kemana-mana pakai sarung kotak-kotak, hehe.

Hari pertama kami bermalam di kediamannya. Terdapat ‘kuti’ di rumah beliau untuk biku-biku yang transit belajar ke Myanmar. Kami juga menerima dana makanan Ibu Eli yang selalu memberi terbaik buat biku.

Setelah cukup istirahat, kami bersafari dengan keluarga Handaka: Bapak Handaka, Ibu Eli dan kedua anaknya : Voni dan Nyonyo (waktu itu anak yang ketiga , Minggala belum hadir,hehe) ke vihara-vihara suci di Myanmar, sebelum akhirnya meregister di hotel, yang disediakan panitia World Buddhist Summit.

Ada catatan kecil manfaat yang saya dapat dari kebiasaan mencatat proses batin, chittanupassana. Terimakasih pada Sayadaw U Tejaniya yang mematangkan karma aku tentang chittanupassana.

Setidaknya kini aku bisa meditasi di tempat ramai sekalipun, aku bisa meditasi dengan mata terbuka, sambil baca koran, sambil ngobrol, sambil nonton televisi.

Jadi saat mata aku nonton televisi, bila ada pikiran melintas aku mencatatnya, seperti :melamun, sambil mengalihkan sejenak mata dari televisi, plong melamun itu hilang, nonton lagi. Merencanakan, catat: rencana, pusaran pikiran rencana itu melemah dan hilang, kembali ke televisi.

Terkadang kita seperti melihat dua hal pada saat bersamaan. Saat mata menonton ke televisi tetapi batin kita melihat /merasakan proses pikiran yang tercatat berputar lalu melemah. Kadang untuk menyeimbangkan proses dalam batin, kepala aku bergerak pelan ke kiri atau ke kanan 15 derajat seperti menoleh sesuatu di samping. Jadi saat nonton televisi, televisi jadi objeck meditasi utamanya,hehe.

Proses pencatatan dalam batin ini sangat bermanfaat bagi pengendalian diri, terutama saat mengobrol dengan umat maupun rekan biku supaya tak hanyut dalam pikiran dan pembicaraan yang berkembang. Karena batin yang terbiasa mencatat, aku cepat tersadar kemana pikiran atau ucapan bergerak.

Misalnya tanpa sadar pembicaraan menjurus ke arah benci atau iri, biasanya sifat pembicaraan ini cepat tertangkap melalui kebiasaan mencatat yang otomatis: Ini kebencian. Ini irihati, ini kesombongan, sehingga aku cepat mengerem pembicaraan.

Ringkasnya pencatatan pikiran membantu kesadaran akan hadirnya akar-akar kejahatan yang bersifat sangat halus, seperti kebencian, keangkuhan, keserakahan, nafsu dan irihati, yang bisa menciptakan karma buruk melalui pikiran, ucapan dan perbuatan. untuk kemudian sadar dan tak melanjutkan.

Jadi kini dari segi wajah, menurut aku sendiri, tampaknya aku lebih bahagia, hehe. Ups, ini keangkuhan, hehe lagi.

Sambil menonton televisi, baca koran terkadang makan ubi berteman secangkir teh aku mengamati proses yang berlangsung dalam batin datang dan pergi. Tuing muncul pikiran, tuing pikiran itu menjadi lemah, tuing muncul lagi, tuing lemah lagi. Tuing tuing tuing, terkadang prosesnya cepat sekali, tapi kadang juga lambat sekali.

Ketika World Buddhist Summit yang berlansung sekitar 2 minggu berakhir, aku melanjutkan perjalanan ke Panditarama Forest Monastry.

Sedangkan Yang Mulia Bhante Nyanasuryanadi Mahathera yang sangat rendah hati harus segera ke Indonesia, tugasnya di Sangha Agung Indonesia dan dosen di IIAB Smara Tunggal Ampel, Boyolali telah menanti.

Batavia, 05 Februari 2009 (05:17 am)

Harpin.


Perjalanan MENANGKAP PIKIRAN 2

Di Shwe Oo Min Center

Shwe Oo Min Sayadaw

Shwe Oo Min Sayadaw

U Tejaniya Sayadaw memintaku merapatkan tangan anjali, “apa yang terasa?” tanyanya.

“Hangat,” kataku

“Itu juga meditasi” katanya.

Satu hal berbeda di Shwe Oo Min center dibandingkan Panditarama Forest Monastry, di sini kami dapat ‘curhat’ panjang lebar dengan Sayadaw pembimbing.

Di Panditarama Forest Monastry kami tak boleh menatap guru pembimbing saat interviu, di sini kami bebas menatap, bertanya dan bercerita. Guru pembimbing sangat bersahabat. Terkadang karena kondisi, interviu dilakukan rombongan, bareng-bareng seperti klub sharing.

Di lain pihak, wajah U Tejaniya Sayadaw benar-benar mirip sahabat saya di Indonesia, Chinese dan putih.

Ditambah metode interviu friendly, jauh dari formalitas..bahkan aku bisa berbicara bila ketemu di jalan setapak, membuat dia reali seperti sahabat sepermainan saya.

Hal unik lainnya, U Tejaniya Sayadaw awet muda, dari teman biku Vietnam aku tahu usia beliau saat itu 40 tahunan, tapi gaya dan yang terlihat seperti baru menginjak 30an.

Dari rekan Biku Vietnam lagi aku mendapat info, penunjukan U Tejaniya Sayadaw sebagai guru meditasi oleh Shwe Oo Min Sayadaw menimbulkan pro kontra. Dari segi vassa, ada banyak murid Shwe Oo Min yang jauh lebih senior di center itu, namun beliaulah yang ditunjuk oleh Shwe Oo Min Sayadaw.

Sekedar info, ada kesamaan antara U Tejaniya Sayadaw dan Bhante Dharmavimala guru saya terkasih di Indonesia, Sama-sama tak pernah menunjukkan dan menuntut diperlakukan sebagai senior, tapi lebih memposisikan sebagai sahabat dalam Dharma, bahkan terhadap biku baru seperti saya

Mungkin bedanya, U Tejaniya Sayadaw lebih muda dan ekspresif.

Jadilah saya yang baru datang dari center ketat, Panditarama Forest Monastry, bagai menikmati liburan di Shwe Oo Min center.

Saat bel jam 3 pagi berbunyi, tak ada biku menyusuri kuti dengan ‘lonceng es’ mengusir kita ke hal meditasi. Semuanya lebih berdasar kesadaran.

Saat di meditation hal pun, tak ada urutan senioritas pada bantal-bantal tempat duduk seperti di Panditarama Forest Monastry. Dengan kata lain, kita boleh duduk dimana saja, yang penting nyaman.

Ajaibnya, saking bebasnya di hal meditasi, pemandangannya agak aneh Ada yang meditasinya menyandar ke tiang penyangah ruangan, ada yang duduk di kursi lipat/malas… dan tampaknya tertidur, weleh-weleh. Aku tak bisa membayangkan yang terjadi bila hal ini di Panditarama Forest Monastry.

Waktu meditasi jalan tak ada yang bergerak slow motion. Di sini yogi/pemeditasi berjalan biasa. Aku yang baru dari Mahasi tradition saat berjalan ke meditation hal masih kebawa berjalan pelan.

U Tejaniya Sayadaw yang melihatku di kejauhan berjalan mendekat.

“Don’t need to move so slowly” katanya, tak usah berjalan selambat itu. Berjalan biasa saja, tapi dengan kesadaran terjaga.

Saat interviu beliau bertanya, saat makan bagaimana?

“Aku menyadari makanan yang aku makan, keras, lunak, asin, pedas, manis. Sempat juga aku nafsu karena lapar, terus aku berhenti sebentar, menyadari nafsu itu, setelah tenang melanjutkan makan.”

“Hmm..itu dia,” kata beliau, “saat makan, saat dimana kita harus sangat berhati-hati ketika nafsu muncul dengan kuat.”

Selain perbedaan-perbedaan di atas, ada juga perbedaan fasilitas. Panditarama Forest Monastry adalah center besar, luas dan kaya dengan Big Master yang masih ada.

Sebaliknya Shwe Oo Min center tak terlalu luas. Tak ada kuti-kuti yang berdiri sendiri, melainkan bangunan dengan kamar berjajar seperti kamar kos, dan Shwe Oo Min Sayadaw yang sudah tutup usia.

Dari segi makanan juga begitu. Di Panditarama Forest Monastry, makanan berlimpah yang sering membuat kita kekenyangan, di sini tak demikian. Tak berlebih, tapi cukup.

Di Panditarama Forest Monastry tak disediakan menu vegetarian, di sini ada meja khusus menyediakan makanan vegetarian. Jadi tak heranlah, banyak biku dan bikuni Mahayana yang bahagia berlatih di sini.

Dengan kondisi center lebih bebas, perlahan aku ‘bisa’ menghirup nafas, menggunakan pikiranku, menganalisa buku-buku yang kuambil dari front office Panditarama Forest Monastry. Mencocokkan dengan praktek yang aku alami.

Perlahan aku menyadari dan menyesali kebodohan-kebodohanku. Hal mendasar Vipassana yang sebelumnya kuabaikan, sepeti mencatat proses batin: melamun, menghayal, rencana, sakit mulai aku mengerti.

Terkadang kalau lelah, aku tak mengikuti session meditasi pagi, tapi langsung sarapan di ruang makan jam 5.30 pagi.

Setelah itu, mengikuti pindapata yang dipimpin langsung U Tejaniya Sayadaw.

Tiga minggu aku di Shwe Oo Min center keadaan center mulai tak kondusif, karena mendekati tahun baru Myanmar, center dipenuhi orang-orang Myanmar.

Ini merupakan tradisi turun-menurun, mungkin seperti umat Islam di Indonesia mengikuti pesantren kilat saat liburan.

Mereka bisa masuk center sekeluarga. Bapaknhya ditabis jadi biku, anaknya karena dibawah 20 tahun ditabis jadi samanera, lalu ibunya jadi siale/samaneri. Itu hanya penabisan sementara, bisa seminggu, dua minggu dan 3 bulan. Dan ini bisa berlangsung tiap tahun menjelang tahun baru Myanmar.

Jadi jangan heran kalau rata-rata orang Myanmar pernah menjalani kehidupan sebagai biku kilat, umumnya berkali-kali. Cukur, lepas jubah. Cukur, lepas juba. Etc.

Karena banyak yang masuk center, kami pun harus berbagi kamar, yang dulunya 1 orang jadi 2 orang.

Karena kondisi yang mulai tak nyaman ini, rekan-rekan biku dari negara lain berencana sementara pindah ke center lain. Aku akhirnya juga memilih sementara keluar center.

Saat kembali ke Indonesia, aku sudah sedikit mengerti Vipassana, setidaknya tentang Mind. Begitu aku sadar sedang melamun, mencatat ‘melamun’… treetttttt… tiba-tiba seperti sesuatu berputar menyedot di dalam kepala dan lamunan itu lenyap.

Saat aku ‘berangan-angan’ dan menyadarinya mencatat :’berangan-angan’.. treeeettt… ada sesuatu, udara menggulung di dalam kepala menyedot habis rangkaian ‘angan-angan’.

Cukup menyenangkan juga ‘mainan’ baru ini.

Jadi aku suka duduk sendiri di depan tv kecil di lantai 4 yang panas dan sepi di Vihara Ekayana. Tak masalah ‘panas’, catat ‘panas’ lalu treet…. beres. Saat ‘senang’ catat: ‘senang’..treeett…. the mind is gone, kepalaku jadi ringan, plong.

Batavia, 30 , Januari 2009 (2.14am)

Harpin


Perjalanan MENANGKAP PIKIRAN-

Awal di Panditarama Forest Monastry.

Mahasi Sayadaw

Mahasi Sayadaw

Kembali ke awal kedatangan saya di Panditarama Forest Monastry.

Waktu itu, masih Samanera. Saya diantar ke forest oleh sopir Pak Handaka, tiba di sana sekitar jam 10.30. Menjelang sore, saya ditabis menjadi Biku oleh guruku terkasih, U Thamana Kyaw di Sima asri dan sunyi Panditarama Forest Monastry.

Bagi penyuka eksotisme, mungkin senang berlama-lama di kuti ini. Untuk mencapainya melalui jembatan di atas danau penghubung meditation hal dan ruang makan. Nah, sima ini terletak ditengah perjalanan melalui jembatan.

Selesai ditabis aku minta ijin ke front office menggunakan internet mengabarkan Pak Handaka dan guruku terkasih di Indonesia, Bhante Dharmavimala.

Tentu tak boleh lama, di Myanmar yang dibentengi junta militer internet termasuk barang luarbiasa mewah, selain itu, ibu di front officer terkenal galak dan tak segan memarahi Biku! Weleh-weleh- weleh.

Awal masuk Panditarama Forest Monastry terusterang aku bego soal vipassana, apalagi mengamati naek turun perut.. aduh makkk ampun dah..gimana caranya? Aku sudah terbiasa dengan anapanasati, mengamati keluar masuk nafas.

Jadi semangat awalnya juga asal bisa ke Myanmar dan juga asal bisa belajar meditasi di Mahasi Center, kan terkenal tuh, Bhante Ashin Jinarakkhita yang kesohor itu kan belajar di sini, di Mahasi Center.

Barulah sampai di Myanmar, pelupuk mata ini sedikit terangkat. Ternyata Mahasi Tradition sudah beranak pinak, berkembang sangat pesat.

Dari Pak Handaka dan keluarganya yang helpful terhadap Sangha inilah aku diantar melihat satu center ke center lain di Myanmar. Baik itu ‘turunan’ Mahasi atau bukan.

Jadilah kita seperti Indiana Jones, dengan mobil (Jeep atau Kijang ya?). Kita, saya dan keluarga Pak Handaka berpetualang melihat center demi center.

Mahasi Center sendiri konon telah ditinggalkan murid-murid terbaiknya, seperti Sayadaw U Pandita (Panditarama) dan Chammay Sayadaw yang membuka center sendiri.

Karena Mahasi Sayadaw sudah tutup usia, maka tak ada guru besar lagi di Mahasi Center. Rekomendasi Pak Handaka, mau belajar metode Mahasi ada dua pilihan, tempat Sayadaw U Panditarama atau Chammay Sayadaw.

Perlu juga diketahui, tak hanya di Indonesia terjadi blok antara biku, di Myanmar juga begitu. Meski sama-sama menggunakan metode Mahasi, hubungan U Panditarama dan Chammay Sayadaw konon tak mulus.

Panditarama Sayadaw adalah guru meditasi Aung San Su Ki oposisi Junta berkuasa, sedangkan Chammy Sayadaw rekanan junta. Jadi ceritanya sedikit mirip kisah air dan minyak.

Selain kedua Master yang mengajarkan metode Mahasi, ada lagi satu center yang didirikan Sayadaw yang dulu merupakan sayadaw di Mahasi center, yakni Shwe Oo Min Center.

Cuma sedikit aneh, Shwe Oo Min Center tak mengajarkan Metode Mahasi, yang mengamati naik turunnya perut. Center ini bisa disebut center ‘kebebasan’ karena diijinkan menggunakan metode apa saja yang menurut anda nyaman. Mau anapanasati boleh, naik turun perut jug oke, atur aja bro.

Sekilas center ini mirip center zen, dan merupakan pusat meditasi pecinan di Myanmar.

Myanamar memang gudangnya master meditasi. Ada banyak center meditasi di sini dengan metode berlainan.

Ada Goenka Center, Pak Auk Sayadaw, Mingun Sayadaw, etc. Terlalu banyak center di sini dengan metode beragam. Ada center yang ketika anda masuk ke meditation hallnya seperti masuk ke rumah tukang kayu.

Anda seperti mendengar orang menggergaji kayu, ‘ngik ngok,ngik ngok’ yang berasal dari suara nafas keluar masuk hidung yang dipush, ditarik panjang hingga berdesis kayak ngorok.

Konon masternya meditation ini, yang awalnya petani, mencapai arahat saat mencangkul dengan nafas ngos-ngosan. Jadi beliau mengajarkan metode ‘ngos-ngosan’ mengepush nafas.

Uniknya, meski metode berbeda, oleh masyarakat di sini, master-master pendiri center ini dianggap telah mencapai arahat. Hal ini dibuktikan dengan relik dan sebagainya.

Namun begitu, yang membangakan kita orang Indonesia, apabila membaca biografi Mahasi Sayadaw, selalu terdapat paragraph menceritakan muridnya The Boan An atau Ashin Jinarakkhita. Cuma beliau satu-satunya murid yang diberi paragraph di biografi Mahasi Sayadaw.

Singkat cerita, mulailah aku melewati hari-hari ‘buta’ dan menyiksa di Panditarama Forest Monastry. Dikatakan buta karena memulai dari nol, buta tentang Metode Mahasi. Dikatakan menyiksa karena datang saat musim panas, summer di Myanmar. Saking panasnya angin yang berhembus pun panas.

Jadilah saya melewati hari gerah. Bukan hanya itu, Panditarama Center juga terkenal keras dan ketat. Rasanya semua kegiatan diawasi dan ditempel rapat dari bangun sampai tidur. Mencuri waktu menarik nafas rasanya bisa ketahuan.

Hampir menginjak sebulan setelah itu, aku mengirim email ke Handaka menceritakan ‘duka’ yang aku alami. Panas dan tak betah.

Oleh Pak Handaka disarankan kalau tak betah pindah center saja. Setelah itu, aku mencari hari baik minta ijin meninggalkan center.

Di hari melaporkan hasil meditasi, aku melaporkan mengamati naik turun perut, sampai akhirnya mendadak mengalami ‘plong’ semua eksistensi lenyap. Yang eksis hanya naik turun perut, tapi hanya sepersekian detik, kemudian semua normal kembali.

Guruku terkasih, U Thamana Kyaw tampak puas atas perkembangan meditasiku.

Aku tak melaporkan sebenarnya tak menggunakan metode vipassana dengan objeb berubah-ubah, tapi aku menggunakan metode samatha. Perhatian penuh pada perut dengan mengacuhkan hal di luar.

Tapi aku tak menyiakan kesempatan, segera mengungkapkan akan pamit dari center.

“Alasannya?” Tanya beliau

“Panas, aku gak kuat,” kataku, “aku ingin berziarah dulu ke India.”

Aku memang akan ziarah ke India, tapi sebelumnya akan ke center lain, tentu aku tak bercerita mau ke center lain.

Dengan murah hati beliau mengijinkan, ini sangat mengembirakan.

Sebelum pamit aku bertanya, boleh kembali ke center ini tidak? Yang dijawab: “boleh.”

Keesokan harinya, aku ikut mobil center di forest ke center yang ada di kota, dari situ dijemput Pak Handaka melanjutkan perjalanan ke Shwe Oo Min Center.

Batavia, 24 Januari 2009 (02:58 am)

Harpin


HARI-HARI yang ANEH

Singkat cerita, meditasiku memasuki tahap aneh. Semisal bisa merasakan getaran pada kaki maupun tanganku sebelah kiri.

Dua kali interview dengan guruku terkasih U Thamana Kyaw, beliau bertanya: “Apakah getaran di ubun-ubunku sudah hilang?”

Saat pertemuan pertama aku berpikir sebentar lalu bilang, “masih ada.”

“Kapan terakhir kamu merasakannya?”

“Sebelum memasuki ruangan ini”

Lalu seperti biasa aku melaporkan perkembangan meditasiku, aku meletakkan kesadaranku pada hembusan angin di kulit, hangatnya sinar mentari, juga dinginnya air atau keramik di kamar mandi yang menyentuh jemari dan wajahku.

Seperti puisi ya.. tapi ini beneran. Dengan latihan terpusat dan terus menerus, aku menyadari, menjaga kesadaran tak hanya saat kita melakukan meditasi duduk, tapi di tiap moment.

Hangatnya mentari pagi di kulit, desiran angin di pipi, kerikil-kerikil tajam yang menyakitkan kaki, bisa menjadi bahan menjaga kesadaran.

Aku melaporkan kejadian semalam, saat meditasi banyak binatang kecil berjalan di kulitku. Karena penasaran, aku meraba, ternyata tak ada apa-apa. Aku juga merasakan angin berputar-butar di telingaku, juga seperti ada orang yang menyentuh kakiku.

Sayadaw cuma tersernyum. Tetap menjaga kesadaran, mengamati hal yang dominan, katanya.

Rasanya, itu hari terakhir aku melapor dalam keadaan ‘normal’. Oleh kesalahan penafsiran instruksi beliau, dan keangkuhan yang timbul akan hasil meditasiku, karena sayadaw tampak bahagia tiap mendengar perkembangan meditasiku, tanpa aku sadari keangkuhanku makin kuat… Sesuatu yang bagai racun merampas kesadaranku untuk membunuhnya perlahan.

Oleh kejadian aneh yang aku alami, aku mulai susah membedakan maya dan nyata. Obyek meditasiku bukan lagi sesuatu yang nyata, seperti naik turunnya perut, tapi getaran dan uliran yang tak bisa ditangkap mata. Tapi bisa dirasakan dalam kondisi batin tertentu.

Biasanya, dari pengalaman, bila pikiran tak dibiarkan berkeliaran, dalam hal ini sebagai meditator, dalam tidur kita tak pernah mimpi.

Kesadaran kita bekerja lebih cepat dari tubuh dan pikiran. Begitu mata terbuka, langsung bangkit dari tidur. Atau terkadang kesadaran datangnya lebih cepat dari tubuh ini, sehingga saat terjaga sempat mendengar dengkur orang tidur. Mula-mula bingung juga. Dengkur siapa gerangan? Padahal aku tidur sendiri, ya iyalah denkur gue sendiri.. emang hantu bisa denkur? Hehe.

Nah, tak biasanya pagi itu aku mimpi dibangunkan seorang gundul, dari wajahnya kelihatan wanita. Seperti wajah Bikuni atau Samaneri. Wajah Samaneri itu cantik tapi bersedih.

What’s aku kebingungan. Kok bisa-bisanya, mimpi dibangunkan samaneri, seumur hidup ipertama aku mimpi wanita gundul. Aku tak mengubris mimpi itu. Akan tetapi, kesedihan wajah samaneri ternyata pertanda tak bagus.

Terbukti hari itu aku mengalami konflik dengan Biku dari Thailand. Masalahnya sederhana. Biku itu minta aku jalan lebih cepat selesai mengikuti patimoka dan hendak ke kuti, tapi aku ogah, balelo aja yang membuat dia jengkel.

Lalu saat meditasi malam, saat terasa ada tangan memegang pundakku, lututku, bukannya menjaga kesadaran, aku mencari dan mengamati sensasi itu. Hal paling bodoh sepanjang karier meditasiku, hehe.

Aku merasakan ada cahaya melayang dan berhenti di hadapanku. Lalu sebuah gelembung udara berputar-putar di hidungku. Mulutku terbuka sendiri. Gelembung itu mendesak masuk ke mulutku. Aku bisa merasakan proses itu berlangsung inci per-inci sampai gelembung itu di puserku, lalu keluar perlahan-lahan.

Saat meditasi malam usai, aku berjalan pulang ke kuti. Melewati pohon di tikungan, aku merasa ada yang mengajak bicara, mind to mind. (aku mengetik ini sedikit merinding merekar kembali pengalamanku, jangan nempel lagi yah, plsss).

Aku merasakan dialog terjadi di pikiranku, seperti dua orang berkomunikasi.

Ringkasnya, aku tak pulang ke kutiku sendiri. Ada yang ‘menyertai’. Ia mengatakan dirinya Avalokitesvara, atau lebih dikenal Kwam Im. Malam itu tak seperti biasa, aku duduk di dipan, kedua tanganku bekerja membentuk mudra-mudra, sambil mengucapkan ‘Om Mani Padme Hum’

Konon kata makhluk itu, ia sedang membersihkan cakra-cakra aku. Begitu juga keesokannya saat terjaga, kembali tanganku membentuk mudra-mudra yang tak aku mengerti, untuk membersihkan cakraku.

Saat makan pagi, aku tak makan daging, karena mahkluk itu tak doyan. Saat duduk maupun berjalan, aku merasa ada yang menempel di belakang. Tapi karena aku mau makan daging juga, aku menelan sepotong daging. Hebatnya, saat menelan daging, aku merasa makhluk yang nempel di belakangku mental sedikit. Tapi jangan khawatir, melalui gerakan-gerakan mudranya saat ga ada orang, ajaib dan susah dipercaya, daging itu bisa dimuntahkan kembali otomatis dari mulut aku, meski sebenarnya udah nyampe di perut.

Mulailah aku melewati hari-hari paling kacau dalam hidupku di Panditarama Forest Monastry.

Pagi itu saat berpindapata, tangan ini sibuk membentuk mudra memberi blessing pada tiap rumah penduduk yang kami lalui. Tentunya tak ada yang melihat tanganku bermain mudra, karena tanganku bergerak di balik jubah.

Itu belum berakhir, akan ada kekacauan lebih besar. Terlebih ketika aku berusaha melepaskan diri dari tempelan mahkluk ini. Dianggap gila dan rasanya hampir mati. Untung belum mati, kalau mati tak mungkin menulis cerita ini, hehe.

Ancol, 19 Januari 2009, (jam 02;38 pagi)

Harpin R

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.