Sekapur Sirih:
Mulanya saya hanya ingin sharing foto-foto 'tempoe doeloe' Ashin Jinarakkhita. Namun,saat merunut tahun foto yang dikirim oleh Momo dan teman-teman, juga mensearch data di forum diskusi dan web, tak disangka, foto-foto dan data tersebut kait-mengkait bercerita sendiri tentang perkembangan Sangha di Indonesia.
Tentu banyak kekurangan di sana-sini. Bantuan data baru akan diterima dengan senang hati. Data ini selalu diupgrade sesuai informasi terbaru, selamat menyimak dengan mindfull.
Anjali, harpin
Sebelum Kemerdekaan/Jaman Penjajahan
1. H.P Blavatski
2. Ernest Erle Power dan Josiast Van Dienst
3. Biku Narada Mahathera
4. Kwee Tek Hoay
Masa setelah Kemerdekaan
U Ashin Jinarakkhita (Cipendawa Valley Sayadaw)

Anagarika The Boan An, semasa menjadi Anagarika ini, beliau sudah aktif menyebarkan agama Buddha walaupun hanya terbatas di perkumpulan Teosofi dan Tiga Ajaran.


Konferensi Pers Waisak Nasional Pertama.Ketika menjadi Anagarika ini, beliau mencetuskan ide berlian untuk menyelenggarakan upacara Tri Suci Waisak secara nasional di Candi Borobudur. Akhirnya pada tanggal 22 Mei 1953 acara tersebut berhasil dilaksanakan.

Jakarta, Juli 1953 bertempat di Wihara Kong Hua Sie(skr W.Vaipulya Sasana) beliau ditahbiskan menjadi seorang samanera dengan nama Ti Chen. Penahbisan tersebut dilakukan menurut tradisi Mahayana(cha’n) di bawah bimbingan Y.A. Sanghanata Arya Mulya Mahabhiksu (Pen Ching Lau Ho Sang)-tengah.

Myanmar, 23 Januari 1 954 Samanera Ti Chen ditahbiskan sekali lagi menjadi seorang samanera menurut tradisi Theravada, dan pada sore harinya diupasampada menjadi seorang bhikkhu. Y.A. Agga Maha Pandita U Ashin Sobhana Mahathera, atau yang lebih terkenal dengan nama Mahasi Sayadaw menjadi guru spiritual utamanya (Upajjhaya).


Bhante Ashin mendirikan Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI), pada Pada hari Asadha 2499 atau 4 Juli 1955 di Wihara Buddha Gaya Watugong- Ungaran, Semarang. Pada tahun 1979 PUUI berganti nama menjadi Majelis Buddhayana Indonesia.


Di tahun 1956 umat Buddha sedunia merayakan Buddha Jayanti, genapnya masa 2,500 tahun perjalanan sejarah agama Buddha terhitung sejak Buddha Gotama wafat. Selama ini beredar ramalan yang menyatakan bahwa setelah 2,500 tahun agama Budha akan lenyap, atau sebaliknya akan berkembang kembali. Melalui perayaan ini tersirat harapan agama Buddha bangkit di zaman modern. Di Indonesia perayaan Buddha Jayanti ditandai semangat kebangkitan kembali agama Buddha yang pernah terkubur di bawah reruntuhan kerayaan Majapahit.
Penahbisan Biku

tahun 1959 Biku Ashin Jinarakkhita mengundang 13 biku dari luar negeri, yaitu Y.A. Mahasi Sayadaw dari Myanmar, Y.A. Mahathera Narada dan 6 biku lain dari Sri Lanka, 3 biku dari Thailand, dan 2 biku dari Kamboja.
Indonesia membutuhkan banyak biku. Menurut Winaya atau peraturan Sanggha, penahbisan biku, yaitu upasampada dapat dilakukan dengan syarat paling kurang dihadiri oleh 5 biku senior. Ketika itu yang ditahbiskan adalah Ong Tiang Biauw yang kemudian diberi nama Jinaputta. Ia adalah pendiri sekolah Buddhis yang pertama di Indonesia. Sekolah yang terletak di Jakarta ini asalnya Batavia English School (1931), pernah ditutup pada zaman penjajahan Jepang, kemudian dibuka kembali dengan nama Sin Hwa English School (1945), dan terakhir menjadi Sekolah Sariputra pada tahun 1955. Sebelum menjadi biku, Tee Boan An pernah juga mengajar di sekolah ini. Sekolah Sariputra memiliki sebuah wihara, tempat ibadah Buddhis pertama di Jakarta yang tidak bercorak klenteng. Di sana pada tanggal 17 Mei 1959 Ong ditahbiskan menjadi samanera dan selanjutnya 5 hari kemudian ditahbiskan menjadi biku di Watugong, Jawa Tengah. Bersamaan dengan itu ditahbiskan pula Ktut Tangkas dari Singaraja dan Ki Sontomihardjo dari Banyumas menjadi samanera. Tahun-tahun selanjutnya calon-calon biku dan biksuni dikirim untuk ditahbiskan di luar negeri.

Wihara Vimala Dharma-Bandung 1959, Mengundang gurunya Y.A. Agga Maha Pandita U Ashin Sobhana Mahathera/Mahasi Sayadaw ke Indonesia

Bandung, 1959 Mengundang biku Narada ke Indonesia untuk acara penahbisan biku di Indonesia.

Singaraja-Bali, November 1960.

Bengkulu Maret 1960, Cipendawa Sayadaw atau U Ashin Jinarakkhita memulai Pembabaran Buddha Dharma di Sumatra.

Bersama Romo Kumarasamy, Medan 1960

Palembang April 1960, Buddha Dharma mulai bergema lagi di Palembang sekian lama setelah jatuhnya kedatuan Sriwijaya.

Palembang , Dua tahun kemudian Wihara Dharmakirti berdiri dan diresmikan U Ashin Jinarakkhita pada 8 Juli 1962.

Padang 1962, Yang Mulia Ashin Jinarakkhita dibantu murid yang dikasihinya Samanera Giri (kemudian dikenal dengan B.Girirakkhito) mulai memperkenalkan Buddha Dharma di kota Padang.
U Ashin Jinarakkhita
Mengundang DharmaDuta Thailand

Bandung 1969, di belakang Bhikkhu Chao Kun Sasana Sobhana adalah Hudoyo Hupudio dan yang memakai baju kotak2 adalah Michael Ananda.
Bandung 1969. Untuk kepentingan pengembangan Buddha Dharma di tanah air, atas Undangan Ashin Jinarakkhita Mahathera dari Maha Sangha Indonesia, tibalah rombongan bhikkhu dari Thailand di Indonesia.
Keterangan foto: Di barisan depan kiri ke kanan: Kepala Vihara Wat Bovoranives Bangkok Bhikkhu Chao Kun Sasana Sobhana, Wakil Kepala Vihara Wat Bovoranives Chao Kun Dhamma, Ketua Maha Sangha Indonesia Bhikkhu Ashin Jinarakkkhita, Bhikkhu Khantipalo dari Inggris.
Beberapa tahun kemudian Bhikkhu Chao Kun Sasana Sobhana yang menjadi guru agama Raja Thailand, diangkat menjadi Sangharaja Kerajaan Thailand.

Cipanas 1969

-
Bandung 1969, Bhante Ashin Jinarakkhita bersama 4 Dharmaduta Thailand yang diundang beliau. Keempat orang Dhammaduta dari Thailand ini diharapkan membantu mengembangkan Agama Buddha di Indonesia. Mereka adalah Ven. Phra Kru Pallad Attachariya Nukich yang kemudian memakai nama Chau Kun Vidhurdhammabhorn(yang juga akrab di panggil bhante Vin), Ven. Phra Kru Pallad Viriyacarya, Ven. Phra Maha Prataen Khemadas, dan Ven. Phara Maha Sujib Khemacharo.
Tiga dari keempat Dhammaduta itu hanya tinggal beberapa bulan di Indonesia. Tapi Dhammaduta yang ke-4, Ven. Phra Kru Pallad Attachariya Nukich yang kemudian memakai nama Chau Kun Vidhurdhammabhorn(yang juga akrab di panggil bhante Vin), menetap di Indonesia selama beberapa tahun. Setelah itu masih bolak-balik ke Indonesia, sampai meninggal beberapa tahun lalu.
Penahbisan Biku
Dengan bantuan Dharma Duta Thailand ini, tahun 1970 bersamaan perayaan waisak di Borobudur diadakan penahbisan biku. Yang Mulia Ashin Jinarakkhita menyerahkan murid-murinya yang masih samanera mengambil sisilah Dhammayuttika dari Kepala Vihara Wat Bovoranives Bangkok Bhikkhu Chao Kun Sasana Sobhana (sekarang Sangharaja Thailand). 5 orang biku yang ditahbis adalah: B.Aggajinamitto, B.Uggadhammo, B. Jinadhammo, B. Sirivijayo (lepas), B.Saccamano (lepas).
Karena Bhikkhu Chao Kun Sasana Sobhana harus kembali ke Bangkok, pembimbingan biku-biku muda ini diserahkan pada Bhante Vidhurdhammabhorn (bhante Vin) yang kemudian sering berada di Indonesia.
Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dan Terbentuknya Sangha Theravada ‘Dhammayuttika’ Indonesia (STI)
Bhante Vin berjasa besar bagi pengembangan Theravada aliran Dhammayuttika (Sangha Raj) di Indonesia. Pada saat itu, Biku-biku muda seperti Bhante Subhato (Armahumah Mochtar Rashid), Bhante Khemiyo (sdh menjadi umat biasa), Bhante Aggabalo (Bpk Cornelis Wowor) dll, semua ditahbiskan di Wat Bovoranives,Thailand atas bantuan Bhante Vin .
Mungkin disinilah friksi, benih-benih perbedaan mulai muncul. Bapak Pdt. Dr. Hudoyo Hupudio (mantan biku aliran Dhammayuttika) dalam satu tulisan di forum Dhammachitta.org menulis:
Saya rasa, perkembangan yang tidak terduga ini mencemaskan Bhante Ashin … Soalnya sering kali bhikkhu-bhikkhu muda itu langsung pergi ke Thailand begitu saja dengan bantuan Bhante Win, tanpa minta pertimbangan Bhante Ashin; seolah-olah Bhante Ashin di-bypass begitu saja. (Ketika pada 1969 saya ditahbiskan menjadi Samanera oleh Bhante Ashin, lalu pada 1970 dibantu oleh Bhante Win pergi ke Thailand untuk menerima upasampada, Bhante Ashin hanya dipamiti saja, tidak dimintai pendapat.) …
Apa lagi, semua bhikkhu-bhikkhu muda itu ditahbiskan di Wat Bovoranives, garis keturunannya adalah Dhammayuttika. … dengan demikian semua bhikkhu yang berasal dari satu garis keturunan boleh mengikuti upacara patimokkha … bhikkhu yang bukan dari garis keturunan yang sama tidak boleh mengikuti patimokkha garis keturunan itu. … Misalnya, alm Bhante Girirakkhito juga ditahbiskan di Thailand, tapi garis keturunannya adalah Maha Nikaya … jadi beliau tidak bisa ikut patimokkha bhikkhu-bhikkhu Dhammayuttika. … Bhante Jinapiya yang ditahbiskan di Sri Lanka, tidak bisa ikut patimokkha bhikkhu-bhikkhu Dhammayuttika … sampai beliau bersedia ditahbiskan-ulang dalam garis keturunan Dhammayuttika sebagai Bhante Thitaketuko (saya tidak tahu, vassa beliau dihitung dari mana, dari penahbisan pertama atau dari penahbisan belakangan) … Tapi bisa dibayangkan kelak, kalau bhikkhu-bhikkhu muda Dhammayuttika mengadakan patimokkha, maka Bhante Ashin tidak bisa ikut, karena berbeda garis keturunan …

Bersama murid yang dikasihinya B.Jinapiya (sekarang B.Thitaketuko)

Bersama murid-murid yang dikasihinya, Biku Agga Jinamitto dan Biku Girirakkhito
Perbedaan pandangan dan kondisi-kondisi inilah, yang mungkin menyebabkan pada tanggal 12 Januari 1972 biku-biku ‘lulusan’ Wat Bovoranives’ Thailand ini: bhikkhu Girirakhito, bhikkhu Sumanggalo, bhikkhu Jinapiya(sekarang bhikkhu Thitaketuko), bhikkhu Jinaratana (sekarang Pandhit Kaharudin), bhikkhu Subhato (armahumah Moctar Rashid) yang notabene adalah murid beliau memisahkan diri – membentuk Sangha Indonesia.
Tiga (3) Biku diantaranya adalah pendiri in absentia, dalam arti tak hadir/tak berada di Indonesia: B. Jinapiya(skr B.Thitaketuko), B. Jinaratana(skr Pandhit Kaharudin) dan B. Sumanggalo.Yang terakhir ini, B.Sumanggalo sampai akhir hayatnya tak pernah kembali ke Indonesia.
Jadi yang berada di Indonesia dan benar-benar mengerti keadaan saat itu mengapa perlu membuat Sangha baru dan berseberangan dengan gurunya hanyalah B.Girirakkhita dan B.Subhato (almahumah Mochtar Rasyid).
Namun dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1974 murid-murid ini (Sangha Indonesia) melebur kembali pada gurunya, Sayadaw Ashin Jinarakkhita di Maha Sangha Indonesia. Nama Maha Sangha Indonesia diubah menjadi Sangha Agung Indonesia(Sagin).
Bhante Vidhurdhammabhorn yang juga akrab di panggil bhante Vin, kemudian juga menjadi upajjhaya yang mentahbiskan Husodo/Ong Tik Tjong(sekarang Bhante Sri Pannavaro Mahathera) menjadi samanera Tejavanto di Vihara Dharmasurya, desa Kaloran, Temanggung pada tanggal 24 November 1974.
Konon, pemuda Husodo yang saat itu masih tercatat sebagai mahasiswa Psikologi UGM sebenarnya sudah lama memendam keinginan mulia ini.
Sebelum diterima bhante Vin sebagai murid, beliau beberapa kali meminta pada Mahawiku Dharma-aji Uggadhammo (Murid Ashin Jinarakkhita) untuk diterima menjadi samanera. Namun, karena pertimbangan masih kuliah, Mahawiku Dharma-aji Uggadhammo yang merupakan Nayaka Sangha Tantrayana Indonesia dan Anu Nayaka Sangha Agung Indonesia ini memintanya menyelesaikan studi dulu.

Jodoh dan karma memang memiliki jalannya sendiri, sebelum menamatkan studi, pemuda Husodo bertemu dengan Bhante Vidhurdhammabhorn (bhante Vin), Oleh bhante Vin pemuda Husodo langsung diterima menjadi samanera.
Hadir dalam pentahbisan samanera itu: Bhante Girirakkhito dan bhante Jinapiya (sekarang bhante Thitaketukho) dan beberapa samanera Sangha Agung Indonesia, waktu itu (STI) Sangha Theravada Indonesia belum ada. Namun, mereka ini adalah cikal berdirinya STI (Sangha Theravada Indonesia).
Seperti biku-biku muda lainnya, 2 tahun menjadi samanera beliau dikirim bhante Vin untuk ditahbiskan menjadi bhikkhu di Wat Bovoranives, Bangkok.
Kian hari, putra-putra Indonesia yang ditahbiskan menjadi biku di Wat Bovoranives kian banyak. Oleh sifat eksklusik aliran Dhammayuttika sebagai Sangha-nya Raja, sudah dipastikan konflik yang ada saat mereka kembali ke Indonesia dan bergabung dengan biku-biku lain yang non Dhammayuttika, biku Mahayana dan Tantra maupun Theravada non Dhammayuttika dalam satu Sangha tidaklah mudah. Sebagai contoh: Yang Mulia Ashin Jinarakkhita yang Nayaka Sangha Agung Indonesia sebagai pemimpin paling tinggi sekalipun, tak diperkenankan ikut Patimoka dengan mereka?
Puncaknya tahun 1976, biku-biku ‘lulusan’ Wat Bovoranives yang merupakan murid binaan Bhante Vidhurdhammabhorn (bhante Vin) memutuskan keluar dari Sangha Agung Indonesia dan mendirikan Sangha Theravada Indonesia, atau lebih sering disingkat STI.
Dalam hal ini perlu diingat, mengingat eksklusifnya aliran Dhammayuttika, STI atau Sangha Theravada Indonesia lebih tepat diartikan Sangha Theravada ‘Dhammayuttika’ Indonesia.
Adapun ke-5 orang pendiri Sangha Theravada ‘Dhammayuttika’ Indonesia adalah: B.Aggabalo (Skr Bapak. Cornelis Wowor), B.Sudhammo, B. Khemiyo (Skr menjadi umat biasa), B.Khemmasarano, B.Nyanavuttho.
Adapun B.Sudhammo adalah murid dari B.Agga Jinametto (murid dari Ashin Jinarakkhita). Jadi masih kakak seperguruan dari B.Dharmasurya Bhumi Mahathera di Sangha Agung Indonesia saat ini.
Sejarah terus berulang. Dalam perkembangannya pun, Bhante Vidhurdhammabhorn (bhante Vin),satu dari 4 dharmaduta Thailand yang diundang U Ashin Jinarakkhita yang amat berjasa dalam mengembangkan Theravada Dhammayutika di Indonesia, yang sangat berjasa pada awal pengiriman biku-biku muda untuk ditahbis di Wat Bovoranives, yang sangat berjasa dalam mendirikan Sangha Theravada ‘Dhammayutika’ Indonesia (STI) pun akhirnya harus tersisih dari ‘singasana’ kehormatan di STI. Konon katanya, ada dishamoni perbedaan ras biku orang Thailand dan biku orang Indonesia.
Dalam saat-saat sulit ini, umat dan sahabat terbaiknya justru berasal dari umat berumahtangga pengusaha Siti Hartati Murdaya. Biku-biku orang Thailand binaan bhante Vidhurdhammabhorn (bhante Vin) dan beliau sendiri aktif membantu Sangha Theravada Walubinya Siti Hartati Murdaya.
Setelah friksi orang Thai dan orang Indonesia, kabar terakhir yang berhembus adalah Cina dan Pribumi. Konon masalah rasia inilah yang menyebabkan jabatan Mahanayaka di STI tiba-tiba ditiadakan. Kali ini yang terguling dari ‘singasana’ adalah B.Pannyavaro Mahathera dari kursi Sanghanayaka (Ketua Umum Sangha).
Jasa B.Pannyavaro sendiri dalam membesarkan Sangha Theravada ‘Dhammyuttika’ Indonesia (STI) tiada terkira. Hal pertama yang orang ingat tentang B.Pannyavaro adalah ceramahnya yang lembut dan STI. Dan hal pertama yang orang ingat tentang STI seringkali adalah B.Pannyavaro
Entah ada hubungan dengan ini atau tidak , di suatu forum ditulis:
“baru-baru ini Bhante Pannyavaro pergi ke Thailand beberapa bulan untuk belajar menjadi upajjhaya (penahbis bhikkhu) … Sekarang beliau sudah mempunyai wewenang menahbiskan bhikkhu. … Sebelumnya di Indonesia yang punya wewenang itu hanyalah Bhante Sukhemo… “
Wewenang penabhisan ini menyebabkan biku-biku muda di STI semuanya adalah murid Bhante Sukhemo… suatu dukungan yang sangat menguntungkan bila terjadi pemungutan suara

Menado 1981

Cipendawa 1982, Sederhana dan bersahaja saat menjamu Thrangu Rinpoche. Sederhana, teladan hidup Yang Mulia Ashin Jinarakkhita.

1994, Petapa Gunung Gede, Cipendawa Sayadaw

Sisa Perabuan Ashin Jinarakkhita berupa relik warna-warni berkilau. Kepercayaan Masyarakat Myanmar tempat beliau ditabhis menjadi biku Theravada dan Umat Buddha umumnya, jika memiliki relik setelah perabuan, sudah pasti beliau adalah Arahanta.
Sangha Mahayana Indonesia
…….
Siti Hartati Murdaya
Umat berumah tangga yang banyak mensuport berdirinya STI ‘Sangha Theravada “Dhammayuttika” Indonesia’ adalah Ibu Siti Hartati Murdaya. Ini tak lain karena kedekatannya dengan Dharma Duta Thailand Ven. Phra Kru Pallad Attachariya Nukich yang kemudian memakai nama Chau Kun Vidhurdhammabhorn(yang juga akrab di panggil bhante Vin), dan Bhante Girirakhitto.
Wisma Narada dan Perpustakaan Narada yang berdiri di atasnya, yang dikelola Bpk.Cornelis Wowor dan Vihara Mendut yang didiami B.Pannyavaro adalah sedikit contoh kontribusi Ibu Hartati Murdaya untuk STI. Kabarnya, semua pegawai perpustakaan Narada termasuk Bpk.Cornelis Wowor mendapat gaji dari beliau.
Sebaliknya beliau dan kroninya juga yang coba membubarkan Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) secara sistematis pada jaman Orba dengan mengeluarkan keanggotaan Sagin dan MBI dari Walubi ‘lama’ pada 15 Oktober 1994 disertai kekerasan fisik.
Saksi sejarah mengatakan, saat itu Ashin Jinarakkhita termasuk target operasi yang akan diciduk. Jadi dia harus bergerilyar mengantar Ashin Jinarakkhita dari satu tempat ke tempat lain menghindari tukang ciduk.
Semua ini dimungkinkan oleh kekayaan dan kedekatan wanita ini dengan penguasa orba dan militer.
Jadi peran beliau untuk agama Buddha seperti pisau bermata dua, satu sisi cukup membantu sisi lain sangat mengacaukan. Bagi kroninya beliau adalah wanita luar biasa, tapi bagi orang yang pernah dijaliminya, beliau adalah calon penghuni neraka avici.
Tiada yang abadi di dunia ini. Kemesraan simbiosis mutualisma beliau dengan Sangha Theravada ‘Dhammayuttika’ Indonesia (STI) berakhir setelah jaman reformasi. Untuk mencuci dosanya atas SAGIN dan MBI beliau membubarkan Walubi-lama (Perwalian Umat Buddha Indonesia) dan membentuk Walubi baru (Perwakilan Umat Buddha Indonesia).
Konon, setelah kerusuhan Mei 1998 berakhir, beliau yang sempat ‘menghilang’ ke luar negeri, saat kembali ke tanah air sowan ke Bhante Arya Maitri Mahasthavira di Ekayana, Jakarta. Kongsinya dengan STI telah usai. Kini beliau melirik SAGIN untuk bergabung di Walubi baru mililknya.
Biku Aryamaitri Mahasthavira yang merupakan Nayaka Sangha Agung Indonesia saat itu, pihak yang pernah dijaliminya, menolak tawaran itu.
Dengan pertimbangan seharusnya Ulama/Biku yang memimpin Umat, bukan Umat yang memimpin Ulama/Biku, maka Sangha Agung Indonesia bersama Sangha Theravada ‘Dhammayuttika’ Indonesia dan Sangha Mahayana Indonesia membentuk KASI (Konferensi Agung Sangha Indonesia).
Siti Hartati Murdaya sendiri tetap jalan dengan Walubi ‘miliknya’ sampai hari ini, yang bila diungkap asal-usul Sanghanya sangat kontroversial. Salah satu contoh segar adalah kasus tewasnya penyanyi Alda Risma. Diduga Fery Surya Perkasa atau YM Serlingpa Dharmakirti Yongdzin Tulku Rinpoche, pacar sekaligus teman kencannya di kamar 432 hotel Grand Menteng adalah petinggi Sangha Tantrayana di Walubi Hartati Murdaya.
Bagaikan teori gunung es, kisah yang bocor ke permukaan karena ‘kecelakaan’ ini hanyalah sebagian kecil, ada banyak desas-desus lain semisal beberapa biku yang bergabung adalah biku karir berseragam, dalam arti mendapat tunjangan saku bulanan ‘si Ibu’ dan mereka memiliki anak / istri di rumah, jadi jubah just a uniform-seragam aja
Di luar cerita di atas, sedikit informasi untuk Anda, tanah berdirinya Vihara Dhammacakkajaya Sunter pun memiliki ‘kembarannya’ dan kisah tersendiri.
Konon Alm Bapak Anton Haliman (Pendiri Agung Podomoro Group) sewaktu mendonorkan tanah pada Sangha, tak memahami Sangha sudah mengkotakkan diri.
Seperti kebanyakan donatur lain, mereka masih berpikir semua biku adalah muridnya Ashin Jinarakkhita Mahathera dari Sangha Agung Indonesia. Mereka tak mengetahui ada biku-biku ‘lulusan’ Wat Bovoranives yang sudah memisahkan diri dari Sangha Agung Indonesia.
Jadi, tanah didanakan pada biku-biku ‘lulusan’ Wat Bovoranives tersebut, yang sekarang menjadi tempat berdirinya Vihara Dhammacakkajaya, Sunter.
Nah, belakangan setelah tanah itu terlanjur didanakan, barulah disadari biku-biku ‘lulusan’ Wat Bovoranives tersebut sudah memisahkan diri dari Ashin Jinarakkhita Mahathera di Sangha Agung Indonesia.
Karena perasaan tak enak hatinya pada Ashin Jinarakkhita Mahathera, Ibunda pendonor meminta anaknya kembali mendonorkan sebidang tanah yang sama pada Sangha, dalam hal ini pada Ashin Jinarakkhita Mahathera di Sangha Agung Indonesia.
Maka, donatur yang mendirikan perumahan elit di Sunter ini pun kembali mendonorkan sepetak tanah pada Sangha, kali ini pada Sangha Agung Indonesia. Lokasi tanah ini tak jauh dari Vihara Dhammacakkajaya, yakni di : JL. Agung Tengah 7 No.1 Blok B i/6 Sunter Agung Podomoro, dimana saat ini berdiri Sekolah Dharma Budi Bhakti.
Meski didanakan pada Sangha Agung Indonesia, dan seharusnya merupakan aset Sangha, sepertinya kepermilikan sekolah dan tanah itu kini ada pada individu perseorangan. Ini tak lain karena simplesitas dan ketidakmelekatan Ashin Jinarakkhita pada benda-benda duniawi, dengan mudah menyerahkan tanah itu pada orang yang ia percaya untuk membangun Sekolah Buddhis, meski mungkin atribut Buddhis pada sekolah itu kini maknanya hanyalah sebuah atribut.
saya memposting mengenai cerita ini di facebook saya,dan mendapatkan tanggapan sebagai berikut :message seperti berikut :
dari Thio Kenghin :
Pemiliknya bukan Anton Haliman.
Sewaktu Bhante Sombat menujuk sebidang tanah di daerah Sunter ada sumur tua.
Bhante Sombhat sudah mengetahui pemilik tanah tsb di daerah selatan pintu rumahnya berbentuk Gapura Kerajaan Majapahit di Trowulan dan diruang tamunya ada Patung Dewa Garuda terbuat dari kayu.
Beberapa umat Buddha berkeinginan membeli seluas 10 x 20 M dari Badan Otorita Sunter. dan ditunjuk ke P.T. Agung Podomoro sebagai penguasa karena telah membebaskan tanah tersebut dan membuat Site Plan dan Sarana Penunjang seperti Jalan, Saluran air dan Waduk Sunter.
Mereka datang kesana diketemukan Bpk Anton Haliman.
Bpk Anton Haliman menolak menjual tanah tersebut peruntukannya untuk Vihara, walaupun mengaku ibunya pun Buddhist.
Dalam bayangan Bpk Anton Vihara itu sama seperti Vihara Wan Kiap Sie gg Tepekong Ps Baru dan Vihara Toa se bio Petak Sembilan dimana ibunya suka berkunjung.
Di depan Vihara Wan Kiap Sie ada juga Vihara Kwan Im yang dihuni oleh Cai cie upacara ritualnya pernah diprotes oleh lingkungannya memakai Tambur dan Kecring samapi masuk di koran.
Takut nanti peruntukan Vihara Dhammaccakkha Jaya nanti membuat tanah sekitarnya tidak laku.
Mereka datang kerumah bpk Anton dalam usaha mereka untuk mendapatkan sebidang Tanah tersebut (10 x 20 m), ternya rumah pak Anton pintunya depannya biasa bukan seperti yang digambarkan Bhante Sobhat dan diruang tamunya tidak ada Dewa Garuda.
Atas petunjuk Bhante Sombhat mencari ke daerah selatan dan berputar-putar didaerah jalan Teuku Umar dan jalan Tanjung No 8.
Tiba-2 seorang umat menujuk satu rumah pintu depannya bergaya Bali Rumah itu Jln Tanjung No 8. dan mereka turun berkunjung masuk kerumah tersebut dan mengutarakan maksud tujuannya membeli tanah di daerah Kawasan Badan Otorita Sunter.
Setelah dipersilakan masuk kedalam ruangan Tamu yang besar ternyata ada ukiran patung Garuda dari Bali. tepat seperti yang digambarkan oleh Bhante Sombhat.
Mereka lebih yakin lagi tidak salah alamat. dan ternyata itu rumah seorang Mayor Jenderal Dr, IS mantan penjabat BUMN yang terkenal.
Dengan ramah tamah mereka disambut oleh pemilik tanah.
Dan pemilik tanah menawarkan untuk mengambil satu blok saja. karena peruntukkannya untuk Vihara seperti yang mereka ceritakan tidak seperti bentuk Kelenteng. dan mengatakan dia asalnya dari Palembang yang pernah menjadi pusat Kerajaan Buddhis yang terkenal di Asia.
Mereka yang ingin membeli tanah tersebut terkejut atas tawaran yang diluar jangkauan biaya yang diperkirakan tersedia.
Dan lebih terkejut lagi tanah satu blok bukan untuk dijual tapi akan dihibakan olehnya.
Dan langsung menelepon bpk Anton Haliman untuk melaksanakan surat-2nya yang diperlukan yang akan dibuat di depan Notaris.
Jadi kesimpulan nya ibunda bpk Anton Haliman tidak mendapat informasi yang benar atau bpk Anton Haliman yang menutup informasi yang benar.
Mereka kelompok ini masih hidup.
Harap Sdr. Memperbaikinya informasinya supaya anda punya tulisan menjadi lebih valid
saya balas :
Ok.Nanti dikaji..Krn ada sumbernya,saya no comment,nanti mslh ini saya bw ke forum..Anumodana
di balas lagi :
Membuat sejarah yang salah juga menyebarkan kebohonganan. nanti cerita anda dianggap bohong juga.
Bhante Sombhat masih sering berkunjung ke Dhammacakkha Jaya.
Tante Mamy yang dijalan Kepu yang menrima tanah itu dari Mayor Jenderal IS masih hidup.
Pertanyaannya terlihat anda mendapatkan cerita dari sumber yang tidak benar.
Apakah anda mendapatkan cerita ini dari Sangha Agung.
buat TS ada comment?
Re: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
Kalimat ini saya kutip dari web tersebut tentang sejarah Vihara tersebut:
Setelah melalui pencarian yang cukup sulit, di daerah sekitar Ancol yang sedang diadakan pembangunan perumahan itulah akhirnya mereka menemukan sebuah tempat dengan ciri-ciri yang sesuai. Setelah mencari informasi, diketahui bahwa tanah tersebut milik PT. Agung Podomoro. Mengingat harga tanah yang cukup tinggi, maka tanah yang akan dibeli hanya seluas 1.000 m2 saja. Setelah mengetahui bahwa tanah tersebut akan dipergunakan untuk membangun vihara, ternyata Anton Haliman atas nama Direksi PT. Agung Podomoro sebaliknya ingin menyumbangkan satu blok tanah seluas satu hektar kepada Saṅgha, asalkan ijin pembangunannya sudah didapatkan. Pernyataan PT. Agung Podomoro untuk menyumbangkan satu blok tanah seluas satu hektar tersebut dituangkan dalam surat resmi kepada Saṅgha Theravāda Indonesia dan diserahkan langsung oleh Anton Haliman kepada Bhikkhu Paññāvaro selaku Sekretaris Jenderal Saṅgha Theravada Indonesia dalam suatu rapat di kantor PT. Agung Podomoro, Sunter. Pada waktu itu Saṅgha Theravāda Indonesia dipimpin oleh Sekretaris Jenderal.
Sepertinya harus disampaikan ke Bapak Thio Kenghin jangan berbohong mengarang sejarah, Buddhism berbeda dengan religion lain, apapun alasannya nilai sebuah kebohongan adalah pelanggaran sila. Hanya dengan kejujuran kita bisa membangun sejarah yang baik.
Fakta yang kembali terungkap adalah, memang benar Alm.Bapak Anton Haliman adalah donatur tanah Wihara Dhammacakka Sunter Jakarta.




Maret 27, 2009 at 5:15 am
Thank u ya Harpin……saya senang melihat foto-foto ini,…….apalagi mengingat sepak terjang beliau di bumi pertiwi ini dalam hal pengembangan Buddha Dhamma….
Sama-sama….
Maret 28, 2009 at 8:03 am
Boleh saya ambil Bro Harpin dan saya attach di blog saya? menarik sekali dan suka mengikuti blog Harpin. Thanks
Silahkan Bro….
Maret 30, 2009 at 4:31 pm
Bung Harpin yang berbahagia,
Terima kasih banyak,atas infonya.
Mereka2 lah yang harus kita kenang dan berterima kasih atas jasa2nya kita bisa mengenal agama Buddha.
Salam bahagia,
simon n fam
Bisa berterimakasih dan menghargai pendahulu adalah pencapaian yang indah
Makasih yah….
Maret 30, 2009 at 8:40 pm
Tampaknya dalam narasi di atas ada poin-poin yang kurang tepat atau bahkan tidak betul sama sekali, di samping ada informasi yang tidak dicantumkan.
Mohon masukkannya, makasih….
Maret 31, 2009 at 3:14 am
Saya sangat menghargai sejarah,
tetapi tidak mudah mempercayainya begitu saja.
Cerita didiatas tsb menambah wawasan saya akan masa lalu dan masa sekarang ini
Matur Nuwun.
Betul, Ehipassiko sangat diperlukan.
Terimakasih, tulisan ini bisa mendatangkan manfaat bagi Anda.
Matur Nuwun juga.
April 1, 2009 at 3:49 am
Namo Buddhya,
Marilah kita duduk bersama sebagai umat Buddha tanpa mengkotak-kotakan silsilah, ras, mahzab maupun sekte. Saya gak begitu yakin tentang adanya hal kudeta seperti tulisan anda, tapi saya hargai pendapat anda ynag mungkin juga tidak benar.
Namo Buddhaya,
Trimakasih atas penghargaannya, tidak perlu diyakini kok, just be ehipasiko aja. Mungkin juga benar, hehe.
April 2, 2009 at 1:27 am
Wow, foto dokumentasi yg bagus, bro Harpin.
Sangat informatif dan diharapkan menjadi inspirasi bagi perkembangan Buddha Dhamma di Indonesia.
Aku pernah bertemu dan melihat dari kejauhan bhante Ashin Jinarakhita ini di Bogor thn 1995.
Terimakasih…. But aku heran juga bro Nang Ning Nung Neng Nong yang biasanya di milis Samagiphala, kok bisa ke sini yah? Padahal info Foto Ashin Jinarakkhita saya di sana kan diblokir..hehe
April 3, 2009 at 11:46 am
Bro Harpin.
Sebuah sumber sejarah yang sangat bagus.
Tetapi sungguh sayang, banyak masa lalu berbagai organisasi buddhis yang tidak cerah. Banyak ketimpangan di sana sini. Banyak luka lama.
Tapi itu wajar. Organisasi buddhis yang mulai berkembang harus melewati proses pendewasaan dan pembelajaran yang panjang.
Karena itu, kita tidak perlu mewariskan pertentangan2 yang terjadi di masa lalu kepada generasi muda sekarang. Biarlah masa lalu itu sekadar menjadi pembelajaran bagi kita.
Biarlah generasi muda tumbuh tanpa beban masa lalu yang penuh luka. Dalam hal ini, hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk ajaran Buddha adalah menggalang kerukunan.
Tidak perlu kita menunjukkan keburukan dan kebaikan pihak-pihak tertentu.
Be Peacefull
Waduh..ada penghuni ‘Kolam Teratai’ nih. Setujuuu… hehe. Sejarah itu hitam putih,kok. Buruk dan baik hanyalah buah dari pemikiran. Makasih….
Peace 2
April 7, 2009 at 5:32 pm
Alm.Bhante Narada Mahathera berjasa juga yah buat perkembangan agama Buddha di Indonesia.
Yo’i, masing2 tokoh berperan di jamannya. Pada masa pra kemerdekaan ada H.P. Blavatsky, Ernest Erle Power , Josias van Dienst, B.Narada(Sri Langka) dan Kwee Tek Hoay.
Ada yang bisa bantu dengan foto dan data2 mereka? Thx.
April 9, 2009 at 5:44 am
Terima kasih atas artikelnya. MSetidaknya menambah pengetahuan umat Buddha Indonesia.
Sama-sama….
April 11, 2009 at 1:38 pm
bhikku emang g boleh berpolitik namun justru mereka yang dipolitisasi.sungguh sayang hal ini terjadi.orang yang harusnya membabarkan buddha dhamma menjadi orang2 yg menghancurkannya sendiri…
eh ada yg tau g apa arti dhammayutika n sejarahnya,juga sejarah buddhayana?saya juga merasa prihatin n terkejut melihat bxxxk STI yg notabene-nya memiliki bhukku2 yg kompeten(dr segi pemahaman dhamma n pelaksanaan vinaya).n kenapa budhayana byk terdapat bhikku2 nxxxxr(xxx….xxx).?
SEMOGA BUDDHA DHAMMA TETAP LESTARI
SADHU SADHU SADHU
April 22, 2009 at 7:12 pm
komentar saya diblokir. apakah saya menggunakan kata-kata kotor atau kasar yang bisa menyakiti Bro Harpin? saya pikir tulisan saya itu sepaham dengan keinginan yang tersirat dalam artikel itu. Bro Harpin tak cukup tabah mem-post tanggapan itu? saya memberikan komentar dengan cara berpikir saya dengan tujuan memperjelas makna artikel. Mohon Bro Harpin memberi alasan kepada saya, walau bukan dengan jalur terbuka seperti ini tapi lewat email saya secara langsung. terimakasih atas kebesaran hati Bro Harpin.
Salam metta,
Ben Angkusut
Terimakasih atas perhatian, dukungan dan masukkannya. Mohon maaf, blog ini memiliki indentitas penulis dan para komentator dengan indentitas yang jelas, atau setidaknya sudah penulis kenal secara pribadi maupun lewat milis-milis buddhis.
Dalam hal ini id ‘benang kusut’ anda tdk memenuhi kriteria tersebut.
Namun untuk menjaga perasaan Anda, komentar Anda sebelumnya yang saya pending akan saya tampilkan:
Suatu tulisan yang menarik. Berdasarkan tulisan di atas, itu dapat disimpulkan bahwa Sangha Theravada Dhammayuttika Indonesia itu kayaknya tidak tahu diri, arogan, tricky, jealous, penuh dendam. Ini jauh berbeda dengan Sangha Agung Indonesia ciptaan Hyang Arya Arahanta Sayadaw Ashin Jinarakkhita yang penuh wibawa, cinta persatuan dalam dharma Sang Buddha, cinta kedamaian dan kerukunan, anti kekejaman, anti pemelintiran sejarah.
Hidup, Sangha Agung Indonesia!
Jaya, Sangha Agung Indonesia!
Agung, Sangha Agung Indonesia!
Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari membenci, bebas dari menyakiti.
Semoga Harpin berbahagia.
Teriring metta,
Ben Angkusut.
Selanjutnya, untuk menjaga sportifitas, dengan sangat menyesal, komentar sejenis tanpa id dan pertangungjawaban yang jelas tak akan ditampilkan. Makasih….
Mei 14, 2009 at 7:34 am
Terima kasih buat Infonya
Maju terus dalam Dhamma,
HOPE ALL BEING BE HAPPY
Makasih juga,sori ya update komentarnya agak lambat karena mata aku lagi bermasalah, jadi beberapa hari ini lagi ‘diem-dieman’ ama layar komputer,he2.
Juni 10, 2009 at 5:04 pm
Kita sebagai orang beragama, bertuhan, kenapa kita masih terkotak-kotak oleh ke”aku”an, keakuan bangsa, negara, suku dll, hingga akhirnya terjadi perang antar bangsa, negara, suku dll. Apakah mereka yang perang itu beragama???
Juli 26, 2009 at 10:50 pm
<>
Faktanya sekarang ini ada dua Sangha besar di Indonesia, di samping sangha-sangha yang lain. Yang penting adalah bagaimana membina kerukunan, dan kalau bisa saling memahami & menghormati di antara umat dari sangha-sangha itu.
Kalimat di atas tidak mendukung ke arah semangat itu, alih-alih malah menyebarluaskan kesalahpahaman dan permusuhan di antara umat Sangha Agung Indonesia terhadap umat Theravada Indonesia.
Bahkan penamana Sangha Theravada DHAMMAYUTTIKA Indonesia adalah penyalahpahaman terhadap prinsip-prinsip Sangha Theravada Indonesia, disengaja atau tidsak. Kalau disengaja, tentu mempunyai motif tertentu.
Ada beberapa bhikkhu non-Dhammayuttika menjadi anggota Sangha Theravada Indonesia.
Hudoyo Hupudio
Terimakasih Romo atas komentarnya, salam.
Agustus 12, 2009 at 5:16 am
Oi Harpin,
Wah keren buanget… gue fans berat Bhante Ashin. Seneng deh liat photo2nya.
jadi inget deh beliau pernah berkata “Sudah Buddha, kenapa masih mau dijadiin Buddha lagi?”
Doh kalo inget kata-kata beliau, kereeeen… keknya simple tapi daleeeeeeem…
Dan yang penting, berlatihnya itu loh… wuuuuuaaaaaah… tak tergoncangkan…
Super duper keren…
Thx, Elany hehehe
September 9, 2009 at 7:54 am
Tulisan Bro Harpin, memang akan menjadi satu sisi informasi sejarah.
Namun jauh daripada itu… Theravada, Mahayana, dan Tantrayana adalah sudah satu, dan tidak perlu disatu2kan, mereka berkembang sesuai dengan tempat dan budaya masing2 daerah.
Bagi yang memang minat ke Theravada, mari pelajari dengan seksama.
Bagi yang memang minat ke Mahayana, mari pelajari dengan seksama.
Bagi yang memang minat ke Tantrayana, mari pelajari dengan seksama.
Bagi kita yang penyedia jasa tempat pembelajaran, tidaklah perlu menyatukan ketiga hal diatas.
Ibarat sebuah keluarga memiliki 3 anak, sejalan dengan waktu, perkembangan psikologi anak, maka tiap2 anak akan memiliki kebiasaan yang berbeda, contoh cara menyisir rambut, kesukaan pakaian, makanan yang pasti berbeda, namun intinya tetap satu.. mereka memiliki satu induk yaitu papa dan mamanya yang telah menanamkan nilai-nilai moral yang baik.
Tidaklah perlu anak2 itu dikungkung menjadi satu rumah terus, dengan tradisi keluarga papa dan mamanya.
Semoga hal ini bisa dipahami.. karena dasarnya agama Buddha adalah satu, dan tidaklah perlu diucapkan berbeda-beda, yang justru dihindari adalah kultivasi-nya.
Salam
Suwarno – Batam
November 21, 2009 at 11:47 am
terimakasih bro harpin utk menuliskan sejarah buddhisme di negeri ini, penting dan berguna utk referensi bagi org awam/pelajar/pemerhati dll. ***….
‘ex injuria jus non oritur’ [right cannot originate from wrong]
Thx Yang Mulia Milarepa..hehe
Januari 15, 2010 at 4:08 am
dear rekan2 Buddhist,
sy sedang mengumpulkan data2 mengenai Drs. Mochtar Rasyid, alm (dulu Bhante Subbhato), ketika mengetik kata kunci dengan nama Beliau di Google, sy menemukan blog ini dan ternyata cukup banyak informasi lama yg sy dapatkan. Sejarah yg baik hanya mencatat apa adanya, tingal kita lah yg dapat dengan bijaksana belajar dari sejarah tsb.
Juga, sekiranya ada diantara teman2 yg mempunyai informasi sedikit/banyak tentang Drs. Mochtar Rasyid / Bhante Subbhato, mohon bantuannya untuk membagi informasi ke saya. Rencananya saya berniat menyusun Biografi Beliau…. anumodana Semoga Berbahagia.. William Halim, Padang
Setuju, Semoga berbahagia
Januari 15, 2010 at 4:46 am
mohon izin untuk repost ke dhammacitta, soalnya seperti sy, mereka pasti ingin tau juga sejarah dan mungkin saja bermanfaat buat generasi muda Buddhis
Silahkan, semoga bermanfaat
Januari 24, 2010 at 12:09 pm
terima kasih atas informasinya bro harpin
saya pernah ketemu beberapa kali dengan bhante Ashin sekitar tahun 1980 up (persisnya saya lupa) di kota pekanbaru.
kalau ada foto2 Beliau pada kunjungan ke Pekanbaru, mohon agar dapat di upload juga. nanti kalau ada kesempatan pulang ke Pekanbaru, saya akan coba cari di Vihara, kalau2 masih ada menyimpan Foto Beliau.
Mohon izin, kalau berkenan saya save foto2 Bhante.
Nammo Bhuddaya/suratno
Januari 24, 2010 at 5:57 pm
Terima kasih juga, ditunggu lo foto2nya,hehe. kalau bisa juga sejarah agama buddha di pekanbaru, bila perlu dilengkapi foto2 jadulnya, thx y utk kebaikannya.
Februari 17, 2010 at 3:16 pm
Om Swastiastu Namo Buddhaya !
Salam untuk Mas Hudoyo, sahabat yang pernah bersama-sama di Bandung tahun 1976-1978.
Meminjam laggam slogan si Orang Jerman Brewok, saya hanya ingin menyerukan : “Umat Buddha di seluruh dunia, bersatulah !”.
Ngapain ribut-ribut “aku Mahayana”, “situ Theravada”, “awas si anu sesat Tantrayana”, “dia Buddhayana, salah”.
Setiap sekte, setiap mazhab punya tradisi masing-masing yang harus dihormati, brothers !
Salam untuk semua !
Maret 26, 2010 at 4:48 pm
komen2 nya dahsyat n beragam ya.. haha.. khusus buat pak William Halim, TOP bgt pernyataannya : sejarah yang baik hanya mencatat apa adanya. tak peduli apa komentar orang yg membaca sejarah tersebut. this is cool.. n spesial buat Ms. Elany Tambara, saya tertarik dgn komen anda, mohon ceritakan lebih banyak ttg bhante.. terutama kalimat itu.. hehe.. mungkin pak Harpin bisa kasih email saya ke Ms. Elany.. thx a lot..ditunggu ne..
Juni 10, 2010 at 8:46 pm
Terima Kasih brother Harpin atas info anda yang bagus…,sangat bermanfaat buat kita-kita & generasi muda, semoga buah karma baik akan anda petik ….. Namo Buddhaya….
Apakah boleh saya share …… ?
Juni 11, 2010 at 3:28 pm
Terimakasih Brother, turut bahagia Anda mendapat manfaat dari tulisan ini, semoga karma baik pun mengikuti Anda.
Silahkan dishare bila mendatangkan manfaar bagi orang banyak.
Namo Buddhaya
Juli 23, 2010 at 3:53 pm
saya membaca blog ini dari forum DhammaCitta, sungguh baru kali pertama ini saya baca semuanya secara gamblang, dan hasilnya saya menjadi sedih, kenapa semua ini harus terjadi? tetapi sebagai umat Buddhist kita harus tetap ingat ajaran guru agung kita Sang Buddha agar selalu mengembangkan metta karuna mudhita upekka, marilah kita kembangkan hal ini, semua yg sudah terjadi semoga tidak terulang lagi dimasa mendatang yg membuat agama Buddha makin terkoyak, terbelah, terpecah-2 antara sangha. kesannya amat memprihatinkan. semoga semua berbahagia. sabbe satta bhavantu sukhitatta.
mettacittena,
Juli 23, 2010 at 11:24 pm
Sadhu….
Oktober 30, 2010 at 2:19 am
Yang sudah berlalu biarlah berlalu, terbukalah dengan sejujur-jujurnya, sebagai catatan sejarah yang lebih mendekati realitas apa adanya, sebagai bekal untuk generasi2 selanjutnya..
Sadarilah bahwa komunitas itu ternyata mudah terkoyak koyak karena tak punya suatu identitas diri dalam suatu kebersamaan..
Yang ke kiri merujuk ke kiri, yang ke kanan merujuk kekanan, yang ketengah merujuk ketengah, semua wajarlah menganggapnya paling benar, namun semua itu hanya menimbulkan koyakan-koyakan dalam kebersamaan..
Landasan kebangsaan yang diletakkan dan dirintis oleh ‘Sukong’ sebenarnya suatu kompromi yang pas untuk menegakkan suatu identitas diri dalam kebersamaan..
Semoga generasi selanjutnya bisa ‘mengalahkan’ kebenaran egonya sendiri2 dan mau dengan sadar hidup bersama2 dalam suatu identitas kebersamaan..
Salam damai _/\_
Oktober 31, 2010 at 8:12 am
Keberadaan Vihara Dhammacakkha sekarang tidak dapat dipisahkan dengan Bhante Sombati yang melihat adanya sejarah sumur tua didepan Dhamasalla yang berdiamnya Raja Naga penjaga tanah itu karena pernah menjadi Vihara besar pada zaman dahulu,
Bhante Sombati waktu itu masih tinggal di Vihara Buddha Metta Arama bersama Bhante Vin.
Buddha Metta Arama yang status perijinannya hanya sebagai Arama [kuti],
Dan beliau melihat ketidak leluasaan penggunaan kuti sebagai Vihara dalam upacara Waisak.., umat dan kendaraannya yang menutupi kawasan perumahan dan mendapat keluhan dari warga skeliling BMA.
Dengan mata batin Bhante Sombati yang melihat letak tanah yang akan menjadi Vihara Besar itu dan selanjutnya melihat pula pemilik tanah yang sebenarnya [IS}
Jasa-jasa bpk. IS, bpk. Anton Haliman. ibu Hartati Mudaya Pho dan beberapa umat yang turut mencari dan mengurus sampai pelaksanaan Pembangunan Vihara Dhammacakkha.
Semuanya ter- dokumentasi dari proses awal sampai selesainya dan tercatat dapat dilihat diperpustakaan Narada.
Pelurusan Sejarah Vihara Dhammacakkha ini semoga tidak menjadi perasaan sukha dan tidak sukha.
Tulisan ini, Hendaknya kita tidak melupakan juga proses awalnya kepada tokoh yang berjasa juga dan tidak mau dicantumkan namanya.
Semoga kebahagia Alm.IS yang diperoleh atas jasa-jasanya berperan terlaksananya Sasana Buddhist di Sunter,
Semoga Beliau pun berbahagia juga dikehidupan yang sekarang.
Maret 27, 2011 at 8:31 pm
Pak Harpin yg budiman,
Perkenalkan saya seorang umat Buddha baru, asal Solo. Saya sangat tertarik utk mengetahui lebih jauh ttg sejarah bangkitnya agama Buddha di Indonesia, tapi saya mendapatkan bbp versi yg agak berbeda. Saya sangat tertarik pd figur YM Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, dan juga sedang menulis paper utk tugas sekolah ttg pribadi beliau dan peran beliau dlm menyemai benih tumbuhnya agama Buddha kembali di tanah air. Foto2 dgn catatannya ini sangat membantu, saya mohon ijin utk menggunakannya sbg tambahan dokumentasi dlm paper saya. Terima kasih.
Anjali maitri,
Wilis
Maret 28, 2011 at 12:06 am
Rekan Wilis yang baik, silahkan menggunakannya, semoga membantu tugas yang sedang rekanWilis kerjakan.
Anjali,
harpin
Maret 28, 2011 at 1:07 am
maaf OOT,
kalo tidak salah blog ini milik seorang bhante, apakah benar demikian? agar tidak salah menyebut. trm ksh sblm n ssdhnya.
maaf OOT lagi,
sy kehilangan kontak dg mba wilis stlh email sy kekunci, apa kabar mba wilis, kapan pulang ke Indo? smg sukses n bagi2 Ilmu di tanah air. salam metta
Maret 28, 2011 at 2:44 am
Hehe, mantan bhante, tepatnya sekarang adalah Pandita.
salam metta
Maret 28, 2011 at 9:09 am
salam dlm Dhamma Romo Pandita,
apakah dlu yg wkt festival Buddhist 2008, kta ketemu di Trowulan? tepatnya wkt itu msh bhante dan bersama romb menginap di Vhra Trwlan.salam metta.
Maret 29, 2011 at 9:01 am
Terima kasih banyak, kalau begitu saya seharusnya memanggil dgn Romo Pandita (siapa ya nama panditanya?).
Rekan Pannadevi, silahkan email saya di lotus_ree@yahoo.com.
Terima kasih,
Anjali
April 1, 2011 at 5:22 pm
Salam dalam Dharma juga,
Terakhir saya ke Trowulan saat masih samanera dan mengisi Trainer of Trainer guru sekolah minggu Munas Sekber PMVBI sekitar tahun 2002, setelah itu tdk pernah lagi ke Jatim. Saat pulang dari Myanmar sekitar 2006/7 sempat mampir ke tempat Bhante Suryabhumi.
April 1, 2011 at 5:25 pm
Hahaha, tidak usah Romo Wilis. cukup panggil Harpin saja.
Terima kasih, senang bisa mengenal rekan2 sedharma yang bersemangat seperti Rekan Wilis dan Rekan Pannadevi.
Anjali
Juni 7, 2011 at 3:35 pm
Dear Mr. Harpin,
Saya mau tanya tentang samanera jinananda, jina kumara dan yang lain2 ditabishkan di bandung sekitar tahun 62-63 oleh Bhante Jipapiya ? Bagaimana kelanjutannya ?
Juni 24, 2011 at 6:39 am
Dear Mr.Wawang, coba saya cari info dulu yah, by the way.. ada yang bisa bantu? thx
Desember 21, 2011 at 7:34 pm
Dear Bro wawang,
Sori baru sempet balas, aku sempat menanyakan pada anggota Sangha senior yang dulu aktivis di Bandung, tapi tidak mendapat info. Moga suatu saat kalau menemukan jawaban saya akan pos di sini.
Anjali,
harpin
Februari 15, 2012 at 9:37 am
foto Beliau bersama Sai Baba mana?
Februari 20, 2012 at 6:22 pm
Dear Bro Jansen, jangan ragu mengirim ke saya kalau Anda memiliki foto2 beliau, termasuk dengan Sai Baba atau dengan siapa saja kalau ada, ditunggu yah, thx.
Februari 23, 2012 at 7:49 am
Cukup Informatif tapi sewaktu penyerahan lahan di Sunter saya menyaksikan sendiri sebagai undangan, benar adanya langsung diserahkan resmi dari Bapak Anton Hilman. Masalah siapa yang benar antara versi bantuan May Jen IS dalam hal ini saya berasumsi bisa saja benar …. bahwa bisa saja pembelian tanah tersebut hasil gabungan Bpk Anton Hilman bersama Bpk IS hanya saja masih perlu ditelusuri data otentik itu di Agung Podomoro Sunter termasuk Notaris yang membuat akte tersebut biasanya disebut dengan jelas siapa penyumbang atau siapa pembeli dan dihibahkan kepada siapa ???….. Sehingga terhindar info kontroversial dan menghapuskan dengan segera berita simpang siur yang merugikan nama baik perorangan maupun Lembaga atau yayasan ….. Salam Hormat Anjali … Semoga dengan niat yang luhur kita semua bersatu memajukan BUDDHA DHAMMA ditanah air tercinta tanpa diskriminatif dan perbedaan asal-usul lagi ……