(Sumber: Majalah Mamit 8, Tahun 2012)

Penyebar Dharma

Ashin Kheminda

Mengenal Ajaran Buddha di Hutan

Adik-adik, kata Ashin berasal dari bahasa Myanmar yang artinya Bhante. Jadi, Ashin Kheminda artinya sama dengan Bhante Kheminda.

Ashin Kheminda dilahirkan di Semarang tahun 1967. Ayahnya merupakan seorang anggota DPR.

Ashin Kheminda berasal dari keluarga non Buddhist. Namun, kebebasan dalam keluarga dan keingintahuan yang besar tentang agama, membuatnya tertarik untuk mengerti Agama Katolik khususnya saat duduk di SMU Kolese Loyola Semarang.

Ia tertarik pada agama Katolik karena ajaran cinta kasihnya. Ketertarikan ini berlanjut saat ia meneruskan kuliah di Fakultas Teknik Sipil di UNDIP (Universitas Diponegoro) Semarang di awal pertengahan tahun 1980-an. Namun kali ini lebih karena dosen mata kuliah agama Katolik murah memberi nilai. Perkenalan dengan Ajaran Buddha dimulai saat beliau gemar keluar masuk hutan mendalami tapa, hingga suatu ketika berjumpa biksu Tantra yang tinggal menyendiri di hutan Jawa Timur.

Biksu yang belakangan ia ketahui murid Ashin Jinarakkhita itu begitu bersahaja. Dari biksu inilah, ia mengenal Ajaran Buddha. Biksu ini mengajarkannya meditasi dengan objek api, hingga Ashin Keminda yang saat itu masih umat awam merasakan ketenangan yang luar biasa. Selama hidupnya, selama pencahariannya ia belum pernah merasakan ketenangan yang begitu memukau.

Keterpukauan ini berlanjut, semua buku meditasi dari Achan Chah ia lahap habis, hingga timbul niatnya berguru langsung dengan  Master meditasi itu di Thailand.

Namun, ternyata ia yang masih awam dengan Ajaran Buddha tak berjodoh dengan Achan Chah, ia baru mengetahui Achan Chah telah tiada setelah tiba di Wat Pah Nanachat, Thailand.

Tidak menemukan master yang diidolakan, ia berkeliling di pusat-pusat meditasi yang ada, kemudian melanjutkan ke Dharamsala, India. Sampai akhirnya, seorang kenalan yang orang Prancis menasehati, Myanmarlah gudangnya master meditasi.

Myanmar? Ia baru mendengarnya tapi rasanya tak asing. Ia segera mencari tahu tentang Myanmar dan berangkat ke sana.

Setibanya di Myanmar, ia memutuskan ingin menjadi biksu. Setahun belajar meditasi di Mahasi Sasana Yeikhta, Yangon, Myanmar beliau ditabhiskan oleh Sayadaw Jatila Mahathera. Kemudian ia mengambil gelar Bachelor di ITBMU (The International Theravãda Buddhist Missionary University) of Yangon dan memperoleh medali emas sebagai lulusan terbaik.

Setelah wisuda sarjana, sebenarnya ia ingin pulang ke Indonesia. Tetapi cerita menjadi berbeda ketika sebuah wihara di Singapura mengundangnya untuk tinggal dan mengajar Abhidhamma di sana. Ashin Kheminda akhirnya mengajar Abhidhamma dan meditasi di Singapura selama hampir 3 tahun; dan sempat menyelesaikan pendidikan S2 nya di Buddhist Studies di salah satu perguruan tinggi Buddhist di Singapura.

Saat berlangsung Word Buddhist Sangha Council di Myanmar pada tahun 2004, ia menjadi peserta dan bertemu dengan Mahathera Suryanadi yang sudah lama ia dengar namanya dari guru meditasinya di Indonesia. Pertemuan itu sangat berkesan. Sosok yang sudah lama terngiang di hatinya akhirnya bertemu jua. Ia terkesan dengan kerendahan hati dan kebijaksanan Mahathera Suryanadi.

Pada tahun 2009, Ashin Kheminda resmi menjadi anggota Sangha Agung Indonesia. Faktor kedekatan dengan Mahathera Suryanadi dan kesesuaian dengan konsep Buddhayana membuatnya nyaman di Sangha Agung Indonesia. Menurut Bhante, konsep Buddhayana adalah warisan dari semangat Buddha, sama seperti saat Buddha belum parinirwana, semua umat Buddha dan Sangha bersatu tidak terkotak-kotak. Beliau sangat prihatin dengan kondisi perpecahan agama Buddha menjadi beberapa aliran. Seandainya Buddha masih hidup, Ashin Kheminda yakin beliau tidak akan setuju dengan perpecahan ini Untungnya Ashin Kheminda menemukan Sangha Agung Indonesia, dimana semua aliran bias bersatu dan duduk bersama dengan sangat harmonis.

Selesai berwassa di Ekayana, saat ini Bhante berdomisili di Prasadha Jinarakkhita untuk membangun beberapa institusi Buddhis. Salah satunya adalah PJBI (Prasadha Jinarakkhita Buddhist Institut) yang akan launching 18 Februari 2002 nanti.

Untuk adik-adik, Ashin Kheminda mendirikan PJBS (Prasadha Jinarakkhita Buddhist Study) yakni  sekolah minggu Buddhist yang terstruktur, menggunakan kurikulum dari Taiwan, Srilangka dan Singapura.

Pesan Ashin Kheminda untuk adik-adik: Jangan lupa ke wihara. jadilah anak yang baik, caranya  dengan menolong dan peduli pada orang lain. Untuk Adik-adik yang sekolah di sekolah non Buddhis: Jangan mudah percaya hal yang tak masuk akal. Beranilah bertanya tentang hal yang tak masuk akal.

Hadirilah, talkshow yang diadakan oleh Keluarga Buddhayana Indonesia bersama Bhikkhu Kheminda, B.A., M.A. dalam rangka menyambut Tahun Baru Naga Air, dengan tema: Mengungkap Rahasia Kebahagiaan.” Hari Sabtu, tanggal 14 Januari 2012, Pukul: 17.00 – 19.00 WIB di Gedung Prasadha Jinarakkhita, Jl. Kembangan Raya, Blok JJ Puri Indah Kembangan Selatan, Jakarta Barat 11610. (GoogleMap: -6.177700, 106.746400).

PENDAFTARAN GRATIS dan TEMPAT TERBATAS!!
Ketik di subject email: DAFTAR MRK <Nama>, <Email>, <HP>
dan kirim ke pjbi@buddhayana.or.id atau
SMS ke 08788.500.7791

(Buletin Regina Pacis, Edisi Ketujuh, Maret 2005)

Hudaya Kandahjaya

Lika-Liku Menggali Misteri Borobudur

Berikut kami sampaikan tulisan Hudaya yang menceritakan dari
awal sampai kejeblos dalam penelitian Misteri Borobodur dan
dengan ketekunannya yang luar biasa Disertasi Borobudur-nya
berhasil dipertahankan sekaligus meraih gelar PHD (Doctor of
Philosophy) di Berkeley, Amrik. Congratulations Kang Hudaya.

Semua kawans dan guru ikut bangga atas prestasi anda! Redaksi

Tahunnya mungkin 58. Sekeluarga plus
supir, kami bermobil melancong ke Jateng
dan Jatim, menengok hampir semua
peninggalan purbakala yang terkenal waktu
itu. Itulah pertama kali saya berdiri dan
berfoto di Borobudur. Tetapi, saat itu, tak
terbayang bahwa saya akan bergelut tentang
maknanya di kemudian hari. Tidak juga
ketika kira-kira 25 tahun kemudian saya
kembali lagi ke situ, kali ini setir sendiri, ikut
merayakan Wesak nasional.

Baru tahun 86, ketika saya diangkat jadi
Pemimpin Rubrik Buddha Ensiklopedi
Nasional Indonesia, Borobudur masuk ke
dalam fokus. Saya terima permintaan menulis
entris Borobudur dengan pikiran saya akan
mudah merangkumnya dari karya berbagai
pakar. Setelah berkutat beberapa lama baru
saya sadari bahwa informasi tentang
Borobudur saling bertentangan kalau bukan
semrawut. Akhirnya, saya batalkan kesediaan
menulis dan mengembalikan entris itu ke
pimpinan redaksi agar ditulis orang lain.

Namun, sejak saat itu benak saya sebetulnya
tak pernah bisa lepas lagi dari Borobudur.

Saya mulai meneliti, tetapi tak
bisa tuntas karena bahan terbatas dan
saya masih harus cari nafkah. Hasil
sementaranya saya bicarakan dengan
Pak Soekmono, juga J.G. de
Casparis, kedua-duanya cendekiawan
yang sebagian besar hidupnya
tercurah buat Borobudur. Tak banyak
yang bisa saya timba, maklumlah
saya pun masih pemula. Tetapi dari
konsultasi ini ada satu hal yang
mengemuka. Studi Borobudur belum
cukup memperoleh pertimbangan
kajian agama Buda, padahal
monumen ini adalah bangunan
agama Buda, bahkan yang termegah
di seluruh muka bumi.

Dari perbincangan sederhana itu
niat saya belajar agama Buda
menguat. Harapannya, saya nanti
akan mampu mengungkap pemikiran
yang melandasi pembangunan
Borobudur. Tetapi saya tidak tahu ke
mana harus belajar.

Dari Pak Soekmono bisa dipastikan di
Indonesia tidak tersedia. Saya coba melamar
ke beberapa universitas di luar negeri. Gagal.
Masalah utamanya adalah latar pendidikan
formal saya sendiri. Walau punya gelar Ir dan
MS, bidangnya adalah Statistika Terapan,
yang tidak ada hubungannya dengan agama
Buda. Ditambah lagi, ada juga persyaratan
bahasa-bahasa yang diperlukan buat studi
agama Buda, yang pada waktu itu masih
enggan saya pelajari.

Kesibukan mencari nafkah membuat
penelitian Borobudur tertunda. Tetapi
pergaulan dengan kolega bisnis, terutama
mereka yang pernah dididik di negara asing,
membuka pikiran. Saya melihat kemung-
kinan menempuh jalan berputar. Amerika
menawarkan banyak sekolah bisnis, sekaligus
kesempatan kerja. Yang terakhir amat
penting buat saya yang tak punya dukungan
siapapun. Kebetulan, Hawaii Pacific
University (HPU) di Hawaii menawarkan
kesempatan yang cocok bagi saya. Apa dan
bagaimana universitas ini sebenarnya tidak
saya risaukan. Saya putuskan berangkat.

Semester Fall 91, saya terdaftar di HPU.
Di sini tersedia cukup banyak jurusan. Saya
pilih program MBA dengan spesialisasi
Akunting, juga Information Systems.
Alasannya sederhana. Ada modal berhitung
dan sedikit pengalaman kerja. Tapi yang
tidak terhitung, program ini juga
mensyaratkan Business Law. Apa mau
dikata, saya ambil kuliah ini yang ditawarkan
di winter break. Lalu, karena kepingin buru-
buru beres, saya ambil juga required course
lainnya, Information Systems. Tetapi,
intersession ini panjangnya cuma empat
minggu. Lalu, textbook Business Law
tebalnya lebih dari 1,000 halaman dan mesti
habis dalam kira-kira 10 kuliah yang
selangnya cuma satu dua hari. Dengan bahasa
Inggris pas-pasan, ditambah bikin paper, dan
ujian, empat minggu winter itu jadi the
coldest hell. Setelah ujian di hari terakhir,
saya jalan pulang mirip zombie.

Kalau tahu Akunting begitu menarik, dan
gajinya bagus, saya sayangkan tidak tahu ini
dari dulu-dulu.

Di kelas saya menunjukkan minat
besar, dan berinteraksi baik dengan
gurunya, Pak Fred Davis. Tak diduga,
hubungan awal ini jadi panjang.

Menjelang Thanksgiving pertama di
Amrik, dia bukan hanya minta saya
datang ke rumahnya, tapi juga diantar
jemput dengan mobilnya. Belakang
rumahnya yang persis di pantai teluk
di daerah Windward, di balik
Honolulu, indah bukan kepalang.
Kediaman ini tentu sesuai statusnya
sebagai Chair Professor yang
bergengsi di HPU. Tetapi sebagai
murid Asia, saya sebetulnya merasa
canggung diperlakukan begitu.
Walaupun, perlahan-lahan saya belajar
mengikuti tradisi guru-murid ala
Amrik ini. Dalam tradisi ini, transfer
afektif (perasaan), yang sering
terabaikan dalam pendidikan, terjadi
tanpa halangan. Lewat interaksi
informal, murid menyerap semangat
dan kegairahan guru di bidang yang
dipelajarinya, yang sulit tertangkap
lewat forum kelas.

Hidup di Amrik, apalagi di Hawaii,
mahal sekali. Tanpa sumber dana,
dompet lekas kempes. Masuk ke
Spring 92, saya mulai gemetar, duit
tinggal buat sebulan lagi. Saya berpikir
keras mencari penghasilan. Ini soal
sulit. Sebagai mahasiswa asing,
terlebih di sembilan bulan pertama,
saya tidak bisa kerja di luar kampus.
Setelah itupun international student tak
boleh kerja tanpa izin. Satu-satunya
jalan, bekerja di dalam kampus.

Kendatipun demikian, saya belum punya
pegangan untuk masuk ke Buddhist Studies.
Bulan November 94, untuk pertama kalinya
saya datangi Berkeley untuk menemui Pak
Lew Lancaster dan Ibu Joanna Williams,
dua-dua yang erat kaitannya dengan Buddhist
Studies dan Borobudur. Mengetahui kondisi
saya, Pak Lancaster menganjurkan saya
masuk ke IBS (Institute of Buddhist Studies)
di GTU (Graduate Theological Union) dulu.
Sekolah ini ada di Berkeley, bertetangga dan
bekerja sama dengan Universitas California
(UC). Tetapi itu berarti saya mesti kembali
mengambil program MA, sebelum bisa
masuk ke program doktoral. Pulang ke
Hawaii, saya berkonsultasi dengan Pak Davis.

Yang terakhir bilang silakan saja ajukan
lamaran, jangan satu, dan tetap lamar juga
program Ph.D. Information Systems yang
saya tekuni juga waktu di HPU. Saya kirim
beberapa lamaran, termasuk satu ke IBS.
Hingga kira-kira bulan Maret 95, kepastian
belum juga jelas. Mendengar saya gundah,
Pak Davis datang ke kantor saya membawa
donat dan kopi dan mengajak saya keluar.

Dia menenangkan saya dan bilang ‘no
news is good news’. Beberapa minggu
kemudian datang surat penerimaan dari
Claremont Graduate University, juga
Universitas North Texas (UNT). Yang
terakhir adalah universitas tempat Pak Davis
mengajar sebelumnya, dan karenanya besar
dugaan saya dia membantu secara diam-
diam. Di UNT saya diterima untuk program
Ph.D. Information Systems berikut beasiswa
penuh untuk empat tahun. Tak lama
kemudian, juga surat penerimaan dari GTU.

Karena Claremont mahal, dan GTU tidak
memberikan cukup financial aid, saya
putuskan pergi ke Texas. Niat belajar agama
Buda agaknya bakal tak kesampaian karena
dana. Saya kabari keluarga di Bogor, karena
sekarang mereka akan menyusul ikut saya.
Tommy, teman karib dari Texas dan tinggal
dekat UNT girang bukan main, dan tentu saja
Pak Davis. Tetapi di akhir April datang surat
lagi dari GTU, mengabari financial aid yang
lebih besar.

Tidak sebesar UNT, tapi masih
memberi kesempatan saya hidup
sekeluarga, dan yang terpenting
kesempatan belajar agama Buda. Saya
konsultasi lagi ke Pak Davis. Dia
merelakan saya ke GTU sekiranya
itulah panggilan saya.

Di jalan bercagak begini, sungguh
sulit buat saya mengambil keputusan
yang konsekuensinya begitu mahal dan
seumur hidup. Akhirnya, berpegang ke
niat saya datang ke Amrik, saya telepon
Bogor. Mungkin itulah international
call terpanjang dan tersulit, karena saya
mesti meyakinkan istri bahwa
perubahan keputusan ini memang bisa
dibenarkan dan lebih baik. Entahlah.
Tetapi akhirnya istri menyerahkan
semuanya ke tangan saya. Sebaliknya,
yang tak bisa terima adalah Tommy.
Dia marah bukan main dan tak habis
pikir saya mengambil keputusan begitu
bodoh, karena melepaskan beasiswa
penuh program doktor di bidang yang
sangat basah.

Pengalaman registrasi pertama di
GTU menoreh bekas. Saya diberitahu
ada kesalahan perhitungan financial
aid. Saya mendengarnya seperti
disambar geledek. Katanya, jumlahnya
tidak sebesar yang tertulis di surat yang
dikirim dulu. Padahal, itulah alasan
saya satu-satunya beralih ke GTU di
saat terakhir. Nasi sudah menjadi
bubur, saya tak bisa ganti sekolah lagi,
terutama karena keluarga sudah ada di
sini. Namun, pakai kacamata lain, ini
barangkali a blessing in disguise juga.
Karena kesalahan itu, saya langsung
dipekerjakan di dalam kampus, di
library.

Saya penuhi program MA dengan
mengambil kuliah dan menulis tesis.
Kuliah yang disyaratkan GTU saya
ambil di GTU, selebihnya saya ikuti
kuliah Pak Lancaster dan Ibu Williams
di UC Berkeley. Dari kuliah di UC ini
saya pahami saya tak bisa menghindari
kuliah bahasa kalau saya mau serius
belajar agama Buda.

Untuk beberapa tahun
saya jadi sukarelawan
tukang bantu bikin
laporan pajak. Pergi
pulang dengan biaya
sendiri, umumnya kami
dikirim ke tempat
terpencil. Satu hari saya
ditempatkan di kantor
pemerintah di ujung
barat pulau Oahu
(pulaunya Honolulu).

Saya datang pagi-pagi, karena program
ini mulai jam 8. Sampai jam mulai yang
ditentukan, kuncen kantor tidak kelihatan
juga batang hidungnya, padahal penduduk
yang mau minta bantuan sudah
berdatangan dan saya sendirian. Setelah
lewat batas tunggunya, saya putuskan
mulai membantu di pinggir jalan. Kap
mobil parkir jadi tempat kerja dan alas
untuk menyusun laporan pajak WN Amrik.

Setelah selesai program MBA, atasan
Arlene, Norine Yuen, yang kepala akuntan,
menawarkan kerja sebagai pegawai tetap,
menjabat Fixed Assets Coordinator, di
kantornya selama setahun. Saya bersyukur,
jadi ada kesempatan setahun menjelang
masuk ke program berikutnya. Hingga saat
itu, pikiran saya tentang Borobudur tidak
lenyap Kalau ada kesempatan, saya
gunakan pergi ke perpustakaan Universitas
Hawaii (UH). Sekali waktu saya temui
juga Pak David Kalupahana, yang
mengajar di UH. Saya jajagi peluang
masuk ke Buddhist Studies di situ. Saya
kisahkan minat saya dan dengan bangga
mengabarkan bahwa saya sudah
menerjemahkan dan menerbitkan karyanya
dalam bahasa Indonesia, yaitu Filsafat
Buddha, diterbitkan Penerbit Erlangga
tahun 1986. Responsnya tidak saya sangka
sama sekali. Yang dia perhatikan malah
royalti penerbitan itu. Rasa hormat saya
mendadak merosot drastis dan saya tak
peduli lagi apakah nanti saya akan diterima
oleh UH atau tidak.

Sebagai pegawai tetap HPU,
saya mendapat jatah kuliah tiap
semester. Pak Jerry Feldman, yang
spesialis Art History, kebetulan
menawarkan kuliah South and
Southeast Asian Art. Saya ikut
kuliahnya dan belakangan minta
izin menulis tentang Borobudur
sebagai laporan akhir. Tanpa saya
duga, dalam penelitian kecil itu
saya menangkap titik terang.
Berlawanan dengan kesan T.S.
Raffles, saya yakin orang Jawa
punya kemampuan matematis
cukup tinggi. Borobudur agaknya
merekam perhitungan geometris
yang cukup rumit, terkait
pembentukan sebuah mandala dan
Silpasastra (ilmu seni dan
bangunan) India. Temuan ini
kemudian saya konsultasikan
dengan beberapa cendekiawan,
termasuk lagi-lagi Pak Soekmono,
juga de Casparis.

Saya tanya-tanya, mungkin ada kesem-
patan menjadi student assistant. Seorang
teman Malaysia memberi jalan. Katanya ada
kesempatan di Financial Office. Saya mem-
beranikan diri melamar. Setelah interview,
dibantu rekomendasi dekan waktu itu, Pak
Warren Wee, saya dinyatakan diterima.
Paycheck pertama bulan Maret 1992 mengisi
bank account saya yang sudah tandes.

Arlene Myers, supervisor saya di Financial
Office, menangani masalah Hutang Piutang
Mahasiswa. Tugas saya membantu
memeriksa student account, terutama yang
bermasalah, dan menghubungi bank, jika cek
yang diberikan mahasiswa mental. Di hari
pertama, tahu bahasa Inggris saya payah,
Arlene menuliskan kalimat yang mesti saya
ucapkan ketika mengontak bank (tulisan
bersejarah ini masih saya simpan).
Seterusnya, saya belajar kerja lagi mulai dari
level paling bawah dan pelan-pelan ber
adaptasi dengan lingkungan kerja yang sama
sekali baru ini. Selama berada di HPU, ini
tempat kerja tetap saya, ditambah sedikit
sambilan, khususnya di musim panas.
Sekolah bisa terus karena ada jadwal kuliah
setelah jam kantor.

Tetapi di hari kerja ini berarti saya
berada di luar rumah mulai pagi, jam 6,
hingga malam, jam 10. Praktis tiada waktu
buat hal lain, termasuk makan sehat (di
tahun ke-3 saya kena defisiensi gizi).
Tetapi dengan cara ini saya meneruskan
hidup dan sekolah.

Hubungan saya dengan kerabat kerja di
Financial Office semakin hari semakin
akrab, dan terus berlanjut sampai sekarang.
Dari kolega jualah saya mendengar tentang
program VITA (Volunteer Income Tax
Assistance), yang dikelola oleh IRS
(Internal Revenue Service = Kantor Pajak
Amrik). Karena tertarik mengetahui lebih
lanjut seluk beluk Akunting di Amrik, saya
ikuti program ini. Bulan Januari hingga
pertengahan April adalah bulan-bulan
sibuk bagi WN Amrik, sebab tiap orang
harus bikin laporan pajak penghasilan.
Banyak yang tidak paham dan karenanya
IRS perlu membantu dalam bentuk
sukarelawan yang siap membuatkan
laporan itu. Sebelum diterjunkan ke
lapangan, para sukarelawan ini dilatih
dulu. Di situ saya belajar income tax
accounting gratis, sekaligus mengenali
keajaiban pemikiran perpajakan Amrik.
Contohnya, di mata hukum pajak, semua
pendapatan harus dilaporkan sebagai
income kena pajak, termasuk hasil
rampokan! Begitulah hukumnya waktu itu,
entah sekarang.

Tetapi, semasa di program MA,
kesempatan kuliah bahasa kecil, karena
waktu kerja dan jam kuliah
bertabrakan. Belajar bahasa terpaksa
ditunda. Sementara itu kegiatan kuliah
tambah menarik, berhubung program
doktoral Buddhist Studies di UC
menarik banyak cendekiawan man-
canegara singgah. Dari mereka tambah
banyak pengetahuan dan pengalaman
yang bisa dipetik. Saya pastikan inilah
program yang akan saya tempuh
selanjutnya. Pak Lancaster kasih lampu
hijau dan mengirim saya masuk lewat
program extension.

Kalau saya turuti permintaan Pak
Lancaster waktu itu, dia memastikan
saya masuk sebagai siswa terakhir di
bawah bimbingannya, karena dia
mengumumkan akan segera pensiun.
Tetapi, malang, status visa saya dan
dana (lagi-lagi) menjadi halangan.

Jadi, giliran saya siap melamar ke
program Ph.D., saya cuma punya satu
dari satu pilihan, GTU. Untung GTU
menerima, dan karena program
kerjasamanya, saya masih terkait UC.
Malah dalam struktur program yang
sedikit aneh ini, ada lebih banyak
kebebasan buat saya untuk memilih.
Kesempatan ini saya pakai untuk
menguasai bahasa yang penting buat
riset Borobudur.

.

Dari enam tahun di program doktor,
lima tahun saya habiskan untuk melahap
kira-kira 30 kuliah bahasa, termasuk
Sanskrit, Tibet, Cina, Jepang, Belanda,
Perancis, dan Jerman. Setelah kuliah
dasar ini, betul seperti yang dianjurkan
alm. Pak Yuichi Kajiyama, pengetahuan
agama Buda menjadi lebih mudah
diikuti (mestinya mulai dulu waktu
muda, tapi dikelas dikitari anak
undergrad berumur belia dan cerdas,
saya jadi awet muda dan terpacu).

Di tahun ke-6, anak saya yang
pertama masuk college. Ini lebih dari
tanda bagi saya untuk segera berhenti
sekolah. Bagusnya komisi pem-
bimbing bersedia membantu. Komisi
ini juga tim yang bagus. Pak Richard
Payne dan Ibu Clare Fischer dari GTU,
lalu Ibu Williams dan Pat Berger dari
UC, masing-masing mewakili bidang
penting buat riset Borobudur.
Dilengkapi ahli epigrafi Pak Rich
Salomon dan teman lainnya, saya
tuang hasil penelitian tentang
Borobudur dalam dua bulan terakhir
sebelum deadline. Disertasi yang
berjudul Pengkajian Asal Usul dan
Makna Borobudur, saya pertahankan
di hadapan komisi pembimbing. Saya
pikir penggalian Borobudur tahap
pertama yang memakan hampir 20
tahun berakhir di situ. Esok lusa tahap
berikutnya masih menanti. Wassalam.

Daagg….! Hudaya Kandahjaya

1738 Francisco Street

Berkeley, California 94703

hudaya@numatacenter.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s